Kemenkes Tegaskan Imunisasi Harus Tetap Berjalan di Masa Pandemi Covid-19

TrubusNews
Astri Sofyanti
08 Juni 2020   15:00 WIB

Komentar
Kemenkes Tegaskan Imunisasi Harus Tetap Berjalan di Masa Pandemi Covid-19

Ilustrasi - Imunisasi pada anak. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Imunisasi adalah hak dasar bagi anak untuk sehat, bisa hidup dan berkembang untuk mencapai cita-citanya. Imunisasi sebagai intervensi kesehatan masyarakat sudah terbukti menyelamatkan puluhan juta anak di seluruh dunia dari berbagai ancaman penyakit berbahaya yang bisa digecah melalui imunisasi itu sendiri.

Lantas seberapa penting imunisasi anak di masa pandemi Covid-19?

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Vensya Sitohang mengungkapkan, pandemi Covid-19 memiliki dampak yang cukup serius terhadap penyelengaraan program imunisasi, khususnya imunisasi rutin di Indonesia.

“April lalu, Kemeterian Kesehatan berama UNICEF hingga pemerhati imunisasi melakukan survei cepat, terkait pelaksanaan imunisasi selama masa pandemi Covid-19. Hasil cukup mengagetkan, di mana hampir 83,9 persen pelayanan kesehatan terdampak pandemi Covid-19,” kata Vensya dalam dialog bersama Gugus Tugas Nasional dengan tema ‘Pentingnya Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19 di Media Center Percepatan Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Senin (8/6/20).

Kondisi ini mengakibatkan pelayanan imunisasi tidak dilaksanakan selama masa pandemi. Padahal diakui Vensya, pelayanan imunisasi pada anak yang tidak dilakukan secara rutin bisa berdampak buruk pada kesehatan anak.

Pelayanan imunisasi yang terdampak virus corona mulai dari posyandu, puskesmas, ataupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Dirinya menegaskan bahwa terdampaknya pelayanan imunisasi akibat pandemi Covid-19 terjadi di hampir seluruh provinsi di kabupaten/kota di Indonesia.

“Cakupan imunisasi dasar lengkap pada Periode April 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, mengalami penurunan yang signifikan, hampir 4,7 selisih presentasi dari pada cakupan yang ada di imunisasi secara lengkap 2019 dengan 2020,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hartono Gunardi mengungkapkan, situasi pandemi Covid-19, sangat menghambat program imunisasi. Diakuinya, banyak orang tua yang takut membawa anaknya untuk imunisasi baik ke puskesmas ataupun posyandu, padahal menurutnya ini berisiko menyebabkan double outbreak.

“Kita sedang menghadapi pandemi Covid-19, jangan sampai terjadi double outbreak dengan penyakit berbahaya yang sebenarnya bisa dicegah dengan pelaksanaan imunisasi, salah satunya campak. Kita takut dengan Covid-19, tapi lebih berbahaya campak. Jika satu orang terpapar Covid-19 mampu menularke kepada 1 sampai 3 orang, sedangkan 1 orang yang sakit campak bisa menularkan hingga ke 18 orang. Seorang penderita Covid-19 batuk atau bersih dropletnya bisa berjalan hingga dua meter, kalau campak dropetnya bisa lebih dari 6 meter. Penyakit ini jauh berbahaya dari Covid-19. Jadi jangan melupakan imunisasi.” beber Hartono.

Dirinya mengungkapkan, jika jadwal imunisasi anak terlambat akibat sejumlah kebijakan pemerintah untuk memutus rantai penularan Covid-19 salah satunya dengan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), para orangtua bisa melakukan imunisasi kejar (cats up immunisation).

“Misalnya anaknya kemarin belum mendapatkan imunisasi difteri ke 3 (pada anak usia 9 bulan), jadi bisa sekalian anak tersebut mendapatkan imunisasi campak dan difteri tadi, sehingga mendapatkan 2 imunisasi sekaligus dalam sekali waktu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Vensya mengatakan, bahwa Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan melalui surat edaran yang ditujukan kepada fasilitas pelayanan kesehatan kabupaten/kota di semua provinsi. Surat edaran tersebut berisi, mengingatkan dan menekankan bahwa imunisasi tetap harus dilaksanakan pada masa pandemi Covid-19.

“Penyedia layanan kesehatan menerapkan protokol-protokol kesehatan yang sudah ditetapkan, mulai dari orang tua mengenakan masker ketika mengantarkan anak untuk imunisasi, petugas kesehatan juga harus menggunakan APD, sarung tangan, hingga masker bedah dan menjaga jarak. Pelayanan kesehatan wajib menyediakan tempat cuci tangan beserta sabun dan handsaitizer,” tutup Vensya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: