20 Persen dari 5,5 Juta Serangga Teridentifikasi di Dunia saat Peneliti Ramalkan Kepunahan

TrubusNews
Binsar Marulitua
06 Juni 2020   16:00 WIB

Komentar
20 Persen dari 5,5 Juta Serangga Teridentifikasi di Dunia saat Peneliti Ramalkan Kepunahan

Ilustrasi Serangga (Foto : rakontopequeno.blogspot.co.id)

Trubus.id -- Peneliti bidang Entomologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Djunijanti Peggie mengungkapkan penurunan serangga sebagai penyusun dasar kehidupan dalam ekosistem sangat mengancam keselamatan bumi.

Laporan Caspar Hallman dari Radboud University, Belanda menemukan bahwa populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75 persen selama 27 tahun terakhir.

Bahkan Bayo dan Wyckhuys melaporkan penurunan serangga tetap terjadi meskipun di kawasan cagar alam yang masih belum terjamah. Yang memprihatinkan,  baru 20 persen serangga dari 5,5 juta serangga di dunia yang  teridentifikasi. Tersisa 80 persen dari populasi tersebut dan jumlahnya terus berkurang.

Lalu bagaimana jika laju penurunan serangga terus terjadi?

"Mereka adalah penyerbuk, pengontrol hama, pengelola limbah dan pengurai jasad. Selain itu, serangga adalah makanan bagi hewan lain. Jadi bayangkan jika serangga punah akan banyak jasad yang menumpuk dan tidak terurai," ungkap Djunijanti Peggie, dalam halaman resmi LIPI. 

Baca Lainnya : KLHK Tidak Gunakan Metode GFW untuk Umumkan Penurunan Deforestasi Indonesia

Dirinya menjelaskan isu penurunan serangga sudah nyata terlihat. Penyebab utama penurunan populasi serangga adalah alih fungsi lahan, perubahan iklim, penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, serta adanya faktor biologis termasuk patogen dan spesies invasif.

Sebagai contoh, kupu-kupu Graphium codrus yang digunakan sebagai foto sampul majalah lingkungan hidup terkemuka bulan Mei 2020 bukanlah kupu-kupu endemik Indonesia, tidak langka dan tidak terancam punah. 

“Namun dengan status bukan endemik, bukan langka, dan tidak terancam punah inipun ternyata jumlah spesimen Graphium codrus di Museum Zoologicum Bogoriense hanya ada 21 spesimen dari empat sub-spesies,” ujar Peggie.

Dirinya mengungkapkan, masih ada empat subs-pesies di pulau-pulau kecil yang belum ada spesimennya di Museum Zoologicum Bogoriense. Kondisi ini menunjukkan bahwa menemukan kupu-kupu tak langka pun sudah cukup sulit.

"Apalagi mendata dan memperoleh spesies yang tergolong endemik dan langka seperti Ornithoptera Croesus yang merupakan spesies endemik di Maluku Utara dan baru dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia pada tahun 2018,” ungkapnya.

Peggie mengungkapkan, bahwa sudah saatnya setiap individu berkontribusi untuk menekan laju penurunan serangga yang terjun bebas.

“Status kiamat serangga saya setuju dan sangat menghawatirkan, ”ungkap Peggie.

Namun di lain sisi, Peggie menenkankan penurunan biomassa hingga 76 persen perlu dicermati secara detail. “Belum terlihat jenis serangga yang terancam sehingga belum dapat melakukan prioritas. Oleh karena itu perlu dilakukan pendataan terlebih dahulu.”

Saat ini LIPI terus berupaya melakukan upaya pendataan serangga. “Kami juga mendapatkan dana dari Global Biodiversity Information Facility untuk melakukan pendataan dan digitalisasi spesimen kupu-kupu,” ujar Peggie.

Baca Lainnya : Deforestasi Netto 2018-2019 Capai 462,4 Ribu Hektare, KLHK Sebut Rendah dan Stabil

 Tak hanya itu LIPI juga membuka kesempatan kepada publik untuk mengkontribusikan spesies yang telah ditemukan.

 “Masyarakat dapat mengirimkan koleksi dalam bentuk foto spesies dengan melengkapi data tempat dan waktu ditemukan. Koleksi tersebut dapat menjadi data observasi, salah satunya dalam InaBIF,” imbuh Peggie.

Kepala Bidang Zoologi  Pusat Penelitian Biologi LIPI lainnya, Cahyo Rahmadi menyatakan bahwa pendataan serangga adalah upaya LIPI untuk melengkapi data kehati. Data ini akan menjadi salah satu dasar untuk menyatakan status kepunahan. 

“Negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun. Sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen. Inilah yang dianggap sebagai kondisi kritis eksistensi serangga,” terang Cahyo.

Cahyo menernagkan, status hewan yang tidak langka dan belum masuk daftar merah belum tentu aman, karena masih sedikit orang yang memperhatikan serangga. “Diperlukan perubahan perilaku masyarakat untuk menghargai keberadaan makhluk kecil tersebut,” tutupnya. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: