Terhenti Sejak 2016, Kakao Asal Kalimantan Utara Kembali di Ekspor

TrubusNews
Astri Sofyanti
16 Mei 2020   13:00 WIB

Komentar
Terhenti Sejak 2016, Kakao Asal Kalimantan Utara Kembali di Ekspor

Komoditas kakao asal Kalimantan Utara. (Foto : Dok. Kementerian Pertanian)

Trubus.id -- Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Tarakan Wilayah Kerja Sebatik kembali menfasilitasi sertifikasi ekspor kakao asal Kalimantan Utara setelah sempat terhentik sejak 2016.

Padahal luas lahan kakao di wilayah tersebut tercatat seluas 1.000 hektare dapat menghasilkan kakao yang berkualitas ekspor. Tak hanya itu, kakao yang dieksporpun tidak dalam bentuk mentah namun juga sudah dalam pengolahan walaupun masih belum berupa produk setengah jadi atau jadi.
 
“Kerjasama yang sangat baik, dari dinas pertanian, pelaku usaha hingga petani. Semuanya ingin membuat maju pertanian dan mensejahterakan petani kakao di Kaltara,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat menyaksikan pelepasan ekspor kakao sebanyak 2,2 ton ke Malaysia melalui Pelabuhan Sebatik, Kaltara belum lama ini.
 
Menurutnya, bukan kali ini saja ekspor kakao ini dilakukan namun selama kurun waktu 20 April hingga 10 Mei 2020 telah dilakukan sebanyak tiga kali dengan total volume 6,2 ton atau senilai Rp127,2 juta.

“Belum genap sebulan, ekspor kembali Ini sudah mampu mencatat angka fantastis,” ujarnya.
 
Terlebih dalam kondisi dimana semua terbatas akibat wabah pandemi Covid-19 kali ini, petani di Kaltara tetap bersemangat. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan bahwa produk pertanian kita sangat ditunggu dunia, olehkarenanya kerjasama semua pihak sangat diperlukan agar pertanian dapat terus berkontribusi terhadap perekonomian dengan kinerja ekspornya.
 
Selain ekspor, Kakao Kaltara juga telah terlebih dahulu memasok kebutuhan dalam negeri dengan pengiriman antar area. Tercatat selama Januari hingga April 2020 tercatat 3 kali pengiriman dengan total volume 4,3 ton atau senilai Rp75 juta ke Makassar.
 
Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Tarakan, Akhmad Alfaraby mengungkap analisa kinerja ekspor berdasarkan fasilitasi ekspor di wilayah kerjanya, yakni pada triwulan pertama tahun 2020 terjadi peningkatan frekuensi pengiriman sebesar tiga kali lipat yang juga diikuti oleh peningkatan jumlah eksportir sebesar dua kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun 2019.  Tercatat di tahun 2020 sebanyak 145 kali eksportasi dibandingkan 36 kali di tahun lalu, dan 55 eksportir yang tercatat di triwulan pertama dibandingkan 18 pelaku usaha dibidang agribisnis asal Kaltara di tahun 2019.
 
Tidak hanya itu, keberagaman komoditas juga meningkat dari 18 jenis komoditas ekspor menjadi 55 jenis atau terjadi peningkatan sebesar 89 persen dan penambahan 1 negara tujuan ekspor baru, semula 13 kini menjadi 14 negara tujuan ekspor.
 
Akhmad juga menjabarkan, ekspor tertinggi provinsi termuda ini di tahun 2020 disumbang dari sub sektor perkebunan dan kehutanan. Selama kurun waktu tiga bulan sejak awal tahun 2020, tercatat ekspor palm kernel mencapai volume 13 ribu ton atau setara dengan nilai Rp57,4 miliar tujuan Malaysia.
 
Sedangkan pada sub sektor kehutanan, ekspor tertinggi yaitu kayu olahan tujuan Malaysia, Amerika, Polandia, India, Meksiko. Total volume mencapai 2.804.51 meter kubik senilai Rp18,2 miliar atau meningkat hampir 5 kali lipat dibanding tahun lalu.
 
Tidak hanya itu, dikatakan Akhmad bahwa Kaltara masih menyimpan potensi berupa produk unggulan ekspor baru atau emerging. Diantaranya oil palm fruits dan pisang, keduanya telah berhasi menembus pasar ekspor. Tercata di masa pandemi kali ini masing-masing telah diekspor sebanyak 134 ton dan setara dengan Rp335 juta dan 37,5 ton senilai Rp187,5 juta dengan tujuan Malaysia.
 
Sejalan dengan perannya selaku otoritas karantina yang memfasilitasi pertanian di perdagangan internasional, pihaknya terus mendukung percepatan ekspor pertanian di manca negara. Selain tindakan karantina yang ditujukan untuk memastikan produk diterima sesuai persyaratan teknis, pihaknya juga memberi bimbingan teknis petani dan pelaku usaha guna pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari serta mengoptimalkan layanan digital.

“Semua ditujukan untuk kelancaran, kecepatan dan jaminan keberterimaan produk di negara tujuan,” tandas Akhmad.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: