Ekspor Cangkak Sawit ke Jepang Menggeliat di Tengah Pandemi Covid-19

TrubusNews
Astri Sofyanti
12 Mei 2020   10:00 WIB

Komentar
Ekspor Cangkak Sawit ke Jepang Menggeliat di Tengah Pandemi Covid-19

Palm oil. (Foto : pixabay.com)

Trubus.id -- Di tengah kondisi darurat pandemi Covid-19 ekspor komoditas cangkang kelapa sawit (palm kernel shell) ke Jepang berpotensi mengalami peningkatan. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyatakan, pemberlakuan kondisi darurat Covid-19 di Indonesia tidak menyurutkan kinerja Kementerian Perdagangan dalam mendorong ekspor Indonesia ke pasar global.

“Meskipun, Pemerintah Jepang memberlakukan Kondisi Darurat akibat pandemi Covid-19 di Indonesia sejak 7 April lalu,” kata Mendag Agus.

Diakuinya, Kemendag terus mendorong berbagai potensi produk ekspor, seperti komoditas cangkang kelapa sawit ke Jepang yang tercatat relatif stabil dan bahkan berpotensi meningkat.

Salah satu produsen/eksportir Indonesia, yakni PT International Green Energy telah mengirimkan komoditas cangkang kelapa sawit ini sebanyak 10 ribu MT melalui pelabuan Tanjung Buton Riau, 28 April lalu. Pengiriman komoditas palm kernel tersebut tiba di pelabuhan Kochi, Jepang 8 Mei kemarin.

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kasan, menyebut pembelian cangkang kelapa sawit Indonesia, dilakukan oleh perusahaan Jepang, yaitu Erex Co. Ltd. Kesepakatan pembelian dilakukan pada Januari 2020 lalu di Jepang dan direncanakan akan berlangsung selama 15 tahun dengan jumlah 120 ribu MT per tahun.

“Kesepakatan ini merupakan salah satu hasil misi dagang yang difasilitasi Kemendag saat Trade Expo Indonesia pada tahun lalu. Selain itu, mulai 2020 akan diekspor perdana palm kernel shell oleh PT International Green Energy dengan mitra lainnya yaitu Tokyo Sangyo Co. Ltd dan pengapalan yang direncanakan akan mulai dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2020. Kerja sama ini juga akan berlangsung hingga tahun 2030,” ujarnya.

Sementara itu, Atase Perdagangan (Atdag) RI di Tokyo, Arief Wibisono menuturkan bahwa Jepang merupakan salah satu negara yang sedang menggalakan penggunaan sumber energi terbarukan, khususnya energi biomassa.

Berdasarkan data Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, kebutuhan akan energi listrik di Jepang hingga 2030, sebagian besar akan disuplai oleh batubara sebesar 26 persen dan energi terbarukan sebesar 22 hingga 24 persen. Dari nilai tersebut, energi terbarukan tercatat  mengalami peningkatan cukup signifikan yaitu sebesar 10,3 persen dari seluruh pasokan energi nasional Jepang dibanding tahun 2016.

“Produk biomassa ini akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Jepang dengan skema Feed-in Tariff. Mengingat kebutuhan akan energi yang besar dan terus meningkat di Jepang, Indonesia akan secara kontinyu mengekspor produk ini ke Jepang,” beber Arief.

Pada 2019, ekspor kelapa sawit Indonesia dan produk turunannya ke Jepang mencapai USD 142,8 juta dengan tren pertumbuhan sebesar 27,4 persen per tahun selama 5 tahun terakhir. Pada periode tersebut, ekspor PKS Indonesia ke Jepang juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 13,6 persen (YoY) dengan nilai USD 766,9 ribu.

“Dengan hasil kinerja ekspor yang positif tersebut, diharapkan produk biomassa dan sawit Indonesia semakin dapat diterima di pasar Jepang. Indonesia harus dapat memanfaatkan peluang pasar yang  ada dan memainkan peran utama dalam transformasi masa depan energi dunia menuju bahan bakar nabati terbarukan,” pungkas Mendag Agus.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

KKP Hentikan Sementara SPWP Ekspor Benih Bening Lobster

Peristiwa   26 Nov 2020 - 17:29 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: