Kepala Gugus Tugas Ungkap Strategi Baru Penanganan Covid-19

TrubusNews
Astri Sofyanti
02 Mei 2020   18:33 WIB

Komentar
Kepala Gugus Tugas Ungkap Strategi Baru Penanganan Covid-19

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyampaikan strategi baru pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ketika mengelar rapat tertutup melalui telekonferensi bersama Komisi VI DPR RI di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (2/5/20). (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyampaikan strategi baru pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ketika mengelar rapat tertutup melalui telekonferensi bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Sabtu (2/5/20).

Dalam rapat tersebut, kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini turut menyampaikan bahwa selain pendekatan secara medis, penanganan Covid-19 juga harus dilakukan melalui pendekatan secara psikologis yang mengarah ke upaya pencegahan.

Hal itu menjadi sangat penting, sebab jumlah tenaga medis beserta infrasktruktur yang dimiliki Pemerintah saat ini terbatas. Dirinya menginginkan agar keseimbangan antara medis dan psikologis dapat berjalan beriringan.

“Keseimbangan itu harus kita jaga,” jelas Doni melalui keterangan tertulisnya.

Selain itu, dirinya juga berpendapat bahwa semestinya dokter tidak menjadi garda terdepan dalam upaya penanganan, namun harus menjadi kekuatan terakhir. Pengertian tersebut dijelaskan Doni dengan maksud bahwa masyarakat harus bisa disehatkan sehingga dokter dapat diselamatkan.

“Dokter bukan jadi benteng utama, tapi benteng terakhir,” ucapnya.

Strategi selanjutnya yang perlu dijalankan lanjut Doni, adalah bagaimana masyarakat terpenuhi gizinya untuk meningkatkan imunitas, kemudian juga sekaligus menggerakkan roda perekonomian.

Pihaknya berprinsip bahwa dalam menyelesaikan bencana maka tidak boleh memunculkan bencana baru. Sehingga pantang bagi dia untuk menyelesaikan masalah namun dengan membuat masalah baru.

“Hungry man becomes angry man. Kita tidak ingin arahnya ke sana,” ungkap Doni menambahkan.

Menurut data yang dikantongi Kepala Gugus Tugas tersebut, ada 2,5 juta petani yang kesulitan menjual hasil pertanian dan perkebunan sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, Doni meminta kolaborasi bersama Kementerian/Lembaga terkait khususnya Kementerian Perindustrian dan Kepala Daerah untuk mengatasi masalah tersebut dengan inovasi yang tetap menerapkan protokol kesehatan.

Doni mencontohkan apa yang sudah dijalankan dengan baik di Jawa Tengah, Salatiga dan Sumatera Barat, di mana pasar tradisional tetap berjalan dengan penerapan yang berbeda dari biasanya.

Para pedagang diberikan jarak aman sesuai protokol kesehatan dan berjualan di luar ruangan yang telah diatur oleh pemerintah daerah setempat. Kemudian bagi penjual juga diwajibkan untuk melaksanakan anjuran pemerintah dengan tetap memakai masker dan tetap menjaga jarak aman.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Komisi VI DPR RI, Faizol Riza. Menurutnya memang sudah sepatutnya dalam urusan penanggulangan bencana, maka tidak boleh memunculkan bencana baru.

Pihaknya juga mengapresiasi ide dari inovasi pasar tradisional seperti yang sudah berjalan di Salatiga dan beberapa wilayah lain di Jawa Tengah dan Sumatera Barat.

“Kita tetap optimis bahwa ekonomi juga bisa tetap jalan,” ujarnya.

Meski kebijakan inovasi pasar tradisional sudah berjalan, pihaknya akan tetap mengkoordinasikan lebih lanjut mengenai aturan-aturan lain yang sudah termaktub melalui Surat Edaran Kementerian Perdagangan tentang sirkulasi barang dan kebutuhan ekonomi pasar di tengah pandemi Covid-19.

“Langkah-langkahnya seperti apa, nanti kita koordinasikan lagi,” tutur Riza.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: