Pantau Pasar Kramat Jati, Mendag Agus Pastikan Harga Bapok Masih Stabil

TrubusNews
Astri Sofyanti
30 April 2020   06:00 WIB

Komentar
Pantau Pasar Kramat Jati, Mendag Agus Pastikan Harga Bapok Masih Stabil

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memantau harga kebutuhan pangan di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Rabu (29/4/20). (Foto : Biro Humas Kementerian Perdagangan)

Trubus.id -- Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto memastikan stok dan harga kebutuhan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawang putih aman usai melakukan pemantauan secara langsung harga-harga komoditas pangan di Pasar Kramat Jati, Jakarta.

Pemantauan ke pasar strategis di Jakarta ini untuk mengetahui secara langsung dari pedagang pasar tentang perkembangan harga kebutuhan pokok masyarakat selama pandemi Covid-19. Kunjungan ini dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

“Harga-harga komoditas barang kebutuhan pokok sebagian besar menunjukkan stabilitas yang baik. Ini tentu menggembirakan masyarakat. Stok di pasar-pasar cukup terpenuhi dan aman sehingga masyarakat bisa tenang menjalankan puasa Ramadan,” kata Mendag Agus Suparmanto dalam siaran persnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mendag Agus juga menyempatkan berbincang dengan sejumlah pedagang kelontong untuk mengetahui harga gula. Selain itu juga berdiskusi dengan pedagang daging ayam, daging sapi, telur dan sayuran, seperti bawang putih dan bawang merah.

Terkait stabilisasi harga gula, Mendag menyampaikan bahwa Kemendag telah melakukan rapat dengan produsen gula dan Satgas Pangan untuk memonitor distribusi gula agar merata ke semua wilayah.

Di Pasar Kramat Jati, harga kebutuhan barang pokok terpantau stabil rendah. Harga beras medium Rp9.600 per kilogram (kg), beras premium Rp12.000 per kg, gula pasir merk Matahari Merah Rp12.500 per kg dan gula pasir (Non-Penugasan) Rp18.000 per kg. Harga tepung terigu Rp10.000 per kg, tepung terigu curah Rp7.000/kg, minyak goreng curah Rp10.500 per liter, minyak goreng kemasan Rp13.000 per liter, daging sapi paha belakang Rp120.000 per kg, daging ayam ras Rp35.000 per kg, telur ayam ras Rp23.000 per kg, cabe merah keriting Rp32.000 per kg, cabe rawit merah Rp40.000 per kg, cabe merah besar Rp40.000 kg, bawang merah Rp60.000 per kg, bawang putih kating Rp40.000 per kg, bawang putih Honan Rp35.000 per kg, dan bawang bombay Rp30.000—40.000 per kg.

Secara nasional, harga komoditas pangan yang stabil (turun/naik berkisar 0—5 persen), antara lain beras, minyak goreng, tepung terigu, kedelai, daging sapi, dan telur ayam ras. Harga bahan pokok yang turun di atas 5 persen, antara lain daging ayam ras, cabe merah keriting, cabe merah besar, cabe rawit merah dan bawang putih. Sedangkan harga komoditas yang naik di atas 5 persen dalam sepekan ini adalah bawang merah.

Berdasarkan informasi dari Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), harga bawang merah saat ini mengalami kenaikan akibat turunnya produksi di sentra produksi bawang merah di Brebes Jawa Tengah hingga 10 persen. Penurunan ini terjadi karena hasil tanam yang kurang bagus dan stok panen sebelumnya mengalami kerusakan. Di sisi lain, harga bibit bawang merah juga naik menjadi Rp40.000-Rp45.000 per kg dari biasanya Rp20.000 per kg (naik hingga 125 persen).

Hal ini berpengaruh terhadap penurunan luas tanam sekitar 20—30 persen karena yang bisa tanam hanya petani bermodal besar. Setelah bekoordinasi dengan Kementeian Pertanian, diketahui kenaikan harga bibit dan serangan hama (OPT) cenderung lebih tinggi pada musim hujan yang tentunya berimbas juga pada harga di tingkat konsumen.

“Dari sisi distribusi ke Jakarta saat ini juga diinfokan ada penurunan. Pengiriman bawang merah dari Brebes ke Jakarta saat ini sebanyak 25 truk per hari berkurang 16 persen dari sebelumnya 30 truk per hari. Hal ini tergambar dari penurunan pasokan bawang merah ke Pasar Induk Kramat Jati menjadi sekitar 79 ton per hari dalam seminggu terakhir, di bawah pasokan normal 98 ton per hari. Harga bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati saat ini Rp42.000 per kilogram, tertinggi di Manokwari Rp70.000 per kilogram dan terendah di Kupang sebesar Rp30.000 per kilogram,” tambah Agus.

Sebagai informasi, harga bawang merah di tingkat petani saat ini sekitar Rp27.000—Rp28.000 per kg, dalam posisi masih di lahan dan kondisi basah. Sementara masih ada proses lanjutan seperti pengeringan, pembersihan, dan ada faktor susut yang terjadi hingga bawang siap dijual secara eceran. Dari informasi Kementan, pada akhir Mei 2020 akan ada potensi panen raya di sentra produksi lainnya di luar wilayah Pantura Jawa, seperti Nganjuk, Bima, dan Enrekang. Panen ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pasokan dan menurunkan harga mendekati atau bahkan mencapai tingkat harga wajar (Harga Acuan) Rp32.000 per kg.

Kondisi pasokan indikatif bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati per 28 April 2020 sebesar 93 ton. Rata-rata pasokan harian bawang merah dalam seminggu terakhir sebesar 80 ton per hari, berada di bawah jumlah pasokan normal 98 ton per hari. Dibanding seminggu lalu, harga bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati naik 8,57 persen menjadi Rp38.000 per kg.

Komoditas yang Menjadi Perhatian

Sementara itu, ada dua komoditas yang menjadi perhatian yaitu gula dan bawang putih. Harga gula mengalami penurunan dibandingkan sepekan lalu sebesar 1,64 persen menjadi Rp18.000 per kg dan tetap masih di atas HET Rp12.500 per kg. Harga gula tertinggi terjadi di Manokwari Rp22.000 per kg dan terendah di Tanjung Pinang Rp15.000 per kg.

Sedangkan harga rata-rata nasional bawang putih Rp36.900 per kg turun 6,82 persen dibandingkan seminggu lalu. Harga bawang putih tertinggi berada di Manokwari Rp62.500 per kg dan terendah tejadi di Jambi Rp26.000 per kg. Rata-rata pasokan indikatif bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati dalam seminggu terakhir 44 ton per hari, berada di atas pasokan normal 22 ton per hari.

“Dalam beberapa waktu ke depan, pasokan bawang putih direncanakan akan terus bertambah hingga 66,8 ribu ton,” ujar Mendag Agus.

Upaya Stabilisasi

Upaya stabilisasi terus dilakukan secara terus-menerus. Untuk memenuhi stok gula secara nasional, Kemendag membuat terobosan kebijakan melalui impor raw sugar yang diolah menjadi gula kristal putih (GKP), impor GKP langsung oleh BUMN, serta pengadaan gula dari pabrik di dalam negeri oleh BUMN, meminta Perum BULOG untuk segera merealisasikan pengadaan gula yang berasal dari pabrik gula di Dumai untuk mempercepat pasokan gula ke pasar.

Upaya lain juga dilakukan dengan meminta produsen menurunkan harga jual maksimal Rp11.200/kg kepada distributor untuk gula dalam kemasan karung isi 50 kg (termasuk pajak), dan ketetapan ini berlaku bagi semua produsen gula yang mendapat penugasan. Para distributor juga diminta menyalurkan gula langsung kepada ritel modern atau pasar rakyat dengan memperhatikan harga di konsumen tetap sesuai HET. Tujuannya untuk memotong rantai distribusi sehingga harga gula bisa turun.

Di samping itu para distributor diinstruksikan tidak menahan stok gula yang dimiliki, serta berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan apabila mendapat pasokan gula dari produsen dengan harga di atas yang disepakati. Produsen juga diminta melakukan penyaluran gula langsung ke pasar rakyat di DKI Jakarta yang dimulai pada 20 April 2020, dengan melibatkan tim pengawas Kemendag dan Satgas Pangan guna memantau pelaksanaan komitmen produsen dan distributor untuk menjual gula dengan harga HET.

Optimalisasi Tol Laut juga digunakan sebagai bagian tak tepisahkan dalam memenuhi pasokan gula ke-34 provinsi.

“Kemendag juga membentuk tim pengawas dan pemantau harga/ketersediaan gula di pasar guna memastikan distribusi gula ke 34 Provinsi dengan harga sesuai HET Rp12.500/kg. Kami pastikan HET gula tidak dievaluasi saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, upaya stabilisasi harga bawang putih dilakukan dengan melakukan relaksasi impor yaitu menerbitkan Permendag Nomor 27 Tahun 2020. Proses impor bawang putih dan bawang bombay tidak memerlukan Persetujuan Impor dan Laporan Surveyor. Permendag tersebut berlaku 18 Maret hingga 31 Mei 2020. Jumlah realisasi impor per 20 April 2020 sebesar 48.898 ton, sedangkan sisanya 25.916 ton akan direalisasikan hingga Agustus.

Realisasi impor ini merupakan bagian dari Persetujuan Impor yang telah diterbitkan Kemendag sebesar 157.000 ton ditambah dengan relaksasi kebijakan impor melalui Permendag nomor 27 tahun 2020 serta tambahan laporan dari 8 importir baru yang melakukan importasi tanpa SPI dan LS. Kemendag dan Satgas Pangan juga telah melakukan pemantauan ke seluruh gudang-gudang importir untuk memastikan bahwa tidak ada yang melakukan penimbunan serta pemantauan secara intensif.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: