Pemerintah Siapkan 300 Hektare Lahan Gambut untuk Cetak Sawah Baru, Antisipasi Defisit Beras

TrubusNews
Binsar Marulitua
29 April 2020   12:00 WIB

Komentar
Pemerintah Siapkan 300 Hektare Lahan Gambut  untuk Cetak Sawah Baru, Antisipasi Defisit Beras

Ilustrasi Persawahan di lahan gambut (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengamanatkan jajaran menterinya untuk memonitor kebutuhan pangan, khususnya ketersediaan beras di tengah pandemi Covid-19 dan ibadah puasa Ramadan. Selain itu, Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta untuk 'keroyokan' membuka lahan baru untuk persawahan 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengemukakan bahwa, instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai bentuk antisipasi apabila terjadi kekeringan yang melanda dan ancaman kelangkaan pangan. Jokowi khawatir terjadi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia. 

"Walaupun BMKG sampaikan tidak akan ada cuaca kering ekstrem. Namun kami monitor apakah di semester II tantangan alam baik kekeringan atau hama 5 tahunan," jelas Menko Airlangga, dalam konferensi pers, Selasa (28/4/2020) kemarin.

Baca Lainnya : 2,4 Juta Petani Miskin Akan Terima BLT Rp600 Ribu Hadapi Pendemi Covid-19

Salah satu lahan untuk mencetak sawah baru yang perlu dibuka, yakni lahan basah atau lahan gambut.

Lahan basah ataupun lahan gambut yang di Kalimantan Tengah diperkirakan lebih dari 900 ribu hektare.
 
“Nah itu yang sudah siap itu sebesar 300 ribu hektare, juga yang dikuasai oleh BUMN ada sekitar 200 ribu hektare,” imbuh Menko Airlangga.

Saat ini, pemerintah menengarai sejumlah daerah memiliki keterbatasan stok. Jokowi menyebut, untuk beras, defisit pasokan sudah terjadi di 7 provinsi.

Karenanya, Jokowi memerintahkan jajarannya untuk melakukan manajemen pengelolaan beras dengan baik, termasuk memastikan rantai distribusi ke daerah yang mengalami defisit.

Baca Lainnya : Hanya Ada 2,7 Juta Petani Milenal dari Total 33,4 Juta Petani Indonesia

Jokowi mengatakan berdasarkan laporan yang diterimanya April ini terjadi puncak panen raya. Pada puncak panen tersebut diperkirakan produksi beras mencapai 5,62 juta ton. 

"Beli gabah petani dengan insentif harga yang layak. Tolong kalkulasi kemungkinan terjadi kemarau panjang di 2020. Walaupun BMKG bilang tidak ada cuaca ekstrem, tapi kita harus waspadai khususnya soal ketersediaan beras nasional," jelasnya. 

Baca Lainnya : KLHK Latih 3000 Petani Hutan Secara E-Learning Saat Pendemi Covid-19

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengingatkan soal risiko krisis pangan yang terjadi sebagai dampak dari pandemi corona. Hal ini merespons Organisasi Pangan Dunia (FAO) yang sudah mengingatkan potensi krisis pangan di tengah corona.

"FAO telah mengeluarkan peringatan adanya potensi kelangkaan pangan dunia sebagai dampak panjang dari pandemi Covid-19. Di dalam negeri, sejumlah langkah sudah kita ambil dan persiapkan sejak dini untuk memastikan ketahanan pangan di daerah-daerah selama pandemi," kata Jokowi dalam aku media sosialnya, Senin (13/4/3020).

Jokowi juga mengatakan selain memastikan ketersediaan bahan-bahan pokok, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat dan memberikan bantuan bahan pokok yang amat dibutuhkan di tengah kebijakan tanggap darurat Covid-19. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Jagung Provit Alternatif Bahan Pangan Sehat

Inovasi   28 Sep 2020 - 20:52 WIB
Bagikan: