BMKG Klarifikasi Peneliti Inggris yang Petakan Tsunami di Ibu Kota Baru Indonesia

TrubusNews
Binsar Marulitua
28 April 2020   18:30 WIB

Komentar
BMKG Klarifikasi Peneliti Inggris yang Petakan Tsunami di Ibu Kota Baru Indonesia

Peta Ilustrasi (Foto : BMKG)

Trubus.id -- Kepala Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono memaparkan, dibutuhkan kajian khusus yang mendalam, termasuk kajian paleotsunami untuk menjawab risiko tsunami akibat longsoran dasar laut dekat wilayah yang dipilih Pemerintah Indonesia sebagai calon ibu kota baru, Kalimantan Timur.

Selain Selat Makassar, beberapa wilayah perairan Indonesia diduga memiliki kawasan rawan longsor dasar laut yang dapat membangkitkan tsunami.

"Sehingga, kita sebenarnya membutuhkan banyak kajian potensi longsoran dasar laut, khususnya di samudra Hindia, Selat Sunda, Laut Flores, Laut Banda, Laut Maluku, dan Laut Utara Papua," ungkap Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (28/4/2020). 

Perihal tersebut dijelaskan Daryono untuk mengklarifikasi paper ilmiah berjudul "Indonesian Throughflow as a preconditioning mechanism for submarine landslides in the Makassar Strait" yang ditulis oleh Brackenridge dkk dan dipublikasikan oleh Geological Society of London di jurnal Lyell Collection pada awal April 2020 menjadi viral di Indonesia. 

Baca Lainnya : Ini Syarat Dapatkan BLT Desa Rp600 Ribu per Bulan

Hal ini disebabkan sekelompok ilmuwan mengungkap potensi risiko tsunami akibat longsoran dasar laut dekat wilayah yang dipilih Pemerintah Indonesia sebagai calon ibu kota baru, Kalimantan Timur.

Daryono menjelesakan potensi longsoran dasar laut yang dikaitkan dengan risiko tsunami di Indonesia masih sangat jarang, kebanyakan kajian risiko tsunami akibat gempa tektonik.

Penelitian potensi longsoran bawah laut sangat penting, karena ini dapat menjadi kunci pembuka untuk menjawab misteri tsunami non-tektonik masa lalu. Sekaligus untuk menuntuk menata mitigasi tsunami akibat longsoran dasar laut di Indonesia ke depan.  

"Kami tentu mengapresiasi penelitian ini, karena selain memperkaya khasanah pengetahuan kita terkait bahaya sedimentasi dan longsoran di dasar laut, juga memberi petunjuk kepada kita adanya potensi bahaya tsunami akibat longsoran di dasar laut Selat Makassar," kata Daryono.
 
Daryono membeberkan, hasil kajian itu dapat membantu dalam mengestimasi tingkat bahaya tsunami yang mungkin terjadi, sehingga dapat menyiapkan strategi mitigasinya.

Menurut catatat sejarah gempa dan tsunami di Indonesia, ada beberapa kasus tsunami masa lalu yang hingga kini belum terungkap penyebabnya dan diduga tsunami ini berasosiasi dengan longsoran dasar laut, seperti: Tsunami Teluk Ambon, 28 November 1708 Tsunami Manggarai, 14 April 1855 Tsunami Bacan, 10 Juni 1891 Tsunami Saparua, 20 Juni 1891 Tsunami Pulau Sumber Gelap, 16 Maret 1917 Tsunami Halmahera Utara, 2 April 1969

"Dalam semua peristiwa tersebut, tsunami tidak didahului oleh aktivitas gempa tektonik," terang Daryono.

Baca Lainnya : Fenomena Langka, Kemunculan Orca di Anambas Diduga Disorientasi Perubahan Iklim Global

Peristiwa Tsunami Pulau Sumber Gelap 1917 hingga kini belum diketahui sebabnya. Tsunami setinggi 1,5 meter ini teramati di Pulau Sumber Gelap dan menimbulkan kerusakan parah di Pantai Pagatan, Kalimantan Selatan.

 Lihat Foto Tanah longsor bawah laut masa lalu di Selat Makassar, dekat dengan lokasi calon ibu kota baru Indonesia.(RE Brackenridge et al) Adakah kaitan peristiwa tsunami ini dengan fenomena longsoran dasar laut seperti yang dimaksud dalam kajian peneliti asing tersebut?

 

Ia juga mengungkapkan, hingga kini hal tersebut masih menjadi misteri dan dibutuhkan kajian khusus yang mendalam, termasuk kajian paleotsunami untuk menjawabnya. Selain Selat Makassar, beberapa wilayah perairan Indonesia diduga memiliki kawasan rawan longsor dasar laut yang dapat membangkitkan tsunami.

"Sehingga, kita sebenarnya membutuhkan banyak kajian potensi longsoran dasar laut, khususnya di samudra Hindia, Selat Sunda, Laut Flores, Laut Banda, Laut Maluku, dan Laut Utara Papua," ungkap Daryono. 

Baca Lainnya : Hanya Ada 2,7 Juta Petani Milenal dari Total 33,4 Juta Petani Indonesia

Tsunami akibat longsoran laut di Indonesia Beberapa peristiwa tsunami mematikan di Indonesia, di antaranya diduga diamplifikasi oleh dampak ikutan berupa longsoran dasar laut seperti: Tsunami Ambon 17 Februari 1674 (2.243 orang meninggal), Tsunami Seram 30 September 1899 (4.000 orang meninggal), Tsunami Flores 12 Desember 1992 (2.500 orang meninggal). 

Baru-baru ini Indonesia mengalami dua kali peristiwa tsunami destruktif akibat longsoran, yaitu Tsunami Selat Sunda akibat longsoran Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 dan Tsunami Teluk Palu akibat longsoran saat gempa Palu pada 28 September 2018.

Kedua bencana tsunami akibat longsoran ini menelan korban jiwa dan kerugian harta benda sangat besar. 

Selain Tsunami Selat Sunda dan Teluk Palu, kita juga pernah mengalami tsunami dahsyat akibat longsoran. Itu adalah tsunami Krakatau pada 1883 (36.000 orang meninggal) dan tsunami Waiteba, NTT, 1979 (539 meninggal dan 364 hilang). 

"Baik tsunami akibat longsoran terkini maupun tsunami masa lalu yang belum terungkap penyebabnya merupakan pertanda bahwa wilayah perairan kita menyimpan potensi bahaya tsunami non-tektonik yang cukup besar,"tambahnya

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

TNI AL Dan KKP Optimalkan Kerjasama Potensi Maritim

Peristiwa   30 Mei 2020 - 11:33 WIB
Bagikan: