Peneliti Prakirakan Puncak Penyebaran Virus Corona Gelombang Kedua pada Oktober 2020

TrubusNews
Binsar Marulitua
09 April 2020   14:00 WIB

Komentar
Peneliti Prakirakan Puncak Penyebaran Virus Corona Gelombang Kedua pada Oktober 2020

Tiga pekerja medis berangkulan di Bandara Internasional Wuhan Tianhe setelah lockdown di Kota Wuhan dicabut pada 8 April 2020. (Foto : Reuters)

Trubus.id -- Peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine memprakirakan, bakal terjadi gelombang kedua puncak penyebaran virus Corona (Covid-19) pada Oktober 2020. Hal tersebut berdasarkan tinjauan analisis, jika pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut membuka karantina wilayah (lockdown) pada April 2020.

"Apabila pemerintah membuka sekolah dan tempat kerja pada Maret, gelombang kedua puncak corona akan terjadi pada akhir Agustus, apabila pemerintah membuka lockdown pada April, maka puncak corona gelombang kedua akan muncul pada Oktober 2020" Seperti dikutip Science Daily.

Prakiraan tersebut diperoleh berdasarkan pengamtan simulasi pemodelan di Inggris menunjukkan jika China melakukan perpanjangan lockdown, maka bisa menekan potensi wabah Covid-19 gelombang kedua.

Baca Lainnya : Hespridin pada Kulit Jeruk Bisa Tangkal Corona, Begini Cara Sajinya

Pergeseran ini memberi waktu bagi ekosistem kesehatan di China untuk meningkatkan pertahanan terhadap virus corona,

Para ilmuwan juga memaparkan, bahwa China dan sejumlah negara Asia seperti Korea Selatan dan Singapura, mesti waspada terhadap potensi gelombang kedua Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2.

Pasalnya, China kembali melihat ada peningkatan kasus infeksi setelah orang-orang kembali ke rumah mereka setelah kebijakan karantina dicabut.

Ilmuwan mengatakan hal itu terjadi lantaran kebijakan lockdown di Provinsi Hubei, kawasan penularan awal Covid-19 telah dicabut. Kebijakan itu diambil setelah kasus Covid-19 di kawasan itu turun hampir menjadi tidak ada.

Sebagai pusat awal penularan, Hubei sempat melumpuhkan aktivitas harian mereka sekitar 60 hari. Namun, adanya peningkatan kasus, muncul kekhawatiran kembali terjadi penularan di masyarakat yang tidak disadari.

Baca Lainnya : Ubah Himbauan, Kini Pemerintah Dorong Masyarakat Gunakan Masker Saat Keluar Rumah dan Tidak Sakit

Sekarang para ilmuwan dan seluruh dunia mengamati dengan seksama apakah melonggarkan langkah-langkah pencegahan ketat untuk membuat orang menjaga jarak satu sama lain akan meningkatkan munculnya kasus infeksi baru. Analisis awal menunjukkan bahwa sejauh ini ketakutan ini belum terjadi.

"Sudah waktunya untuk mengendurkan lockdown, tetapi kita perlu waspada terhadap kemungkinan gelombang infeksi kedua," kata ahli epidemiologi Universitas Hong Kong, Ben Cowling, melansir Nature.

Karantina wilayah alias 'lockdown' di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China—tempat pandemi virus corona bermula—resmi dicabut. Warga kota yang memiliki 'kode hijau' pada aplikasi ponselnya diperbolehkan keluar kota, untuk pertama kali sejak 23 Januari silam.

Pencabutan kebijakan 'lockdown' itu dibarengi dengan pembukaan jalan bagi kendaraan serta layanan kereta api.

Media pemerintah China menayangkan gambar-gambar dari angkasa yang memperlihatkan sedikitnya 100 kereta cepat berangkat serta blokade-blokade jalan tol diangkut.

Baca Lainnya : Masker N95 dan Respirator Tidak Bisa Cegah Virus Corona

Warga yang bekerja di bidang farmasi dan alat kesehatan serta kebutuhan pokok akan diperbolehkan kembali bekerja. Sejumlah industri lainnya yang berdampak pada rantai suplai nasional dan global diperkenankan untuk kembali aktif.

Selain moda transportasi darat, sebanyak 200 penerbangan dijadwalkan bertolak dari Wuhan pada Rabu (08/04/2020), dengan mengangkut 10.000 penumpang.

Kendati demikian, sekolah-sekolah masih ditutup dan beberapa pembatasan transportasi masih diberlakukan.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Harga Gula Masih Melambung di Atas Harga Eceran Tertinggi

Peristiwa   03 Juni 2020 - 17:04 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: