Kemenristek Sebut Pengembangan Vaksin Covid-19 Minimal Satu Tahun

TrubusNews
Astri Sofyanti
07 April 2020   09:36 WIB

Komentar
Kemenristek Sebut Pengembangan Vaksin Covid-19 Minimal Satu Tahun

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) atau Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Senin (6/4). (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan vaksin virus corona atau SARS-CoV-2 di Indonesia.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) atau Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyatakan bahwa obat dan vaksin virus Corona menjadi rencana jangka panjang yang dikaji Tim Konsorsium Covid-19. Bambang mengatakan proses pengembangan vaksin pun akan memakan waktu minimal satu tahun. Kecuali apabila sudah ada vaksin yang telah dikembangkan di luar negeri sebelumnya sehingga kemudian bisa diproduksi di Indonesia.

“Bagaimana obat dan vaksin? Ini jangka menengah panjang. Untuk vaksin, misalkan kira-kira dibutuhkan paling tidak satu tahun minimal,” kata Menristek BRIN Bambang di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Senin (6/4).

Selain vaksin, Tim Konsorsium Covid-19 juga sedang fokus mengembangkan suplemen untuk menjaga imunitas tubuh yang dibuat dari berbagai tanaman Indonesia. Dirinya mengatakan tim tersebut juga berupaya mengkaji obat bagi pasien penderita Covid-19. Salah satu obat yang sedang dikaji adalah pil kina.

“Tim juga mengembangkan pengkajian obat Covid-19, salah satunya pil kina yang memiliki kesamaan dengan Chloroquine, obat malaria. Mudah-mudahan dengan pengujian ini ada sesuatu barangkali berkontribusi pada pengobatan Covid-19,” ungkap Bambang.

Pada kesempatan yang sama, Kemenristek BRIN sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 juga telah membentuk konsorsium riset teknologi untuk penanganan Covid-19.

Diakui Bambang, konsorsium tersebut beranggotakan lembaga-lembaga penelitian yang ada di bawah koordinasi Kemenristek seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Litbangkes).

Konsorsium tersebut juga melibatkan sektor dunia usaha khususnya Badan Usaha Milik Negara, perusahaan swasta, dan perusahaan rintisan (start up) di bidang teknologi kesehatan yang diajak untuk membantu dalam memproduksi berbagai produk.

"Dari konsorsium tersebut kami menyusun rencana kerja yang difokuskan dalam rangka membantu mencegah, mendeteksi dan merespon secara cepat penyakit Covid-19 melalui riset dan inovasi di bidang pencegahan seperti vaksin dan suplemen, kemudian skrining, diagnosis, pengobatan, dan teknologi alat kesehatan terkait Covid-19," bebernya.

Adapun Konsorsium memiliki skala prioritas jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Jangka pendek yaitu meningkatkan imunitas tubuh terutama penelitian yang terkait dengan tanaman herbal serta pengembangan Alat Pelindung Diri.

Di dalam jangka pendek tersebut, Konsorsium akan segera menyerahkan kepada BNPB dalam mendukung kegiatan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yaitu 4.000 botol pencuci tangan berbentuk gel (gel hand sanitizer) serta 10 unit mobile hand washer berkapasitas 300 liter.

Selain itu, LIPI sedang melakukan pelatihan tenaga laboratorium untuk penanganan Covid-19, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan broadcast message terkait physical distancing, dan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) akan menyediakan wisma tamu berkapasitas 100 kamar untuk para tenaga medis khususnya yang berada di kota Tangerang Selatan.

Kemudian untuk jangka menengah, sambung Bambang, Konsorsium akan fokus pada penyediaan peralatan tes cepat (rapid test kit) baik yang bersifat deteksi awal maupun deteksi akhir, pengembangan suplemen, multivitamin, immune modulator dari berbagai tanaman Indonesia serta pengembangan robot layanan smart infusion palm, pengembangan ventilator serta pengembangan lainnya.

Lalu jangka panjang, lanjut Bambang, Konsorsium harus mencari dan mengembangkan vaksin dari Covid-19.

Di dalam mendanai kegiatan itu, Kemenristek melakukan sesuai instruksi presiden yaitu realokasi belanja barang dari Kemenristek.

“Khusus untuk penelitian besarnya Rp38 miliar, untuk berbagai aktivitas yang disebutkan tadi. Tentunya ini masih tahap awal dan nanti akan berkembang sesuai kebutuhan,” pungkas Bambang.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Kohibora Fokus Hijaukan Kota Bogor Lewat Hidroponik

Peristiwa   04 Des 2020 - 15:14 WIB
Bagikan:          

Gubernur Bengkulu Ajak Seluruh Pihak Perkuat Kostratani

Peristiwa   04 Des 2020 - 13:49 WIB
Bagikan:          

Walikota Bogor Resmi Luncurkan Program Bogor Berkebun

Peristiwa   04 Des 2020 - 13:11 WIB
Bagikan: