Ubah Himbauan, Kini Pemerintah Dorong Masyarakat Gunakan Masker Saat Keluar Rumah dan Tidak Sakit

TrubusNews
Binsar Marulitua
06 April 2020   06:00 WIB

Komentar
Ubah Himbauan, Kini Pemerintah Dorong Masyarakat Gunakan Masker Saat  Keluar Rumah dan Tidak Sakit

Juru bicara penanganan khusus isu COVID-19, Achmad Yurianto memberikan keterangan pers pada Minggu (5/4/2020) di Graha BNPB, Jakarta.  (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Penularan virus corona (Covid-19) sejauh ini secara global merambah di lebih 180 negara dengan kematian lebih dari 43.000 orang. Di Indonesia, pemerintah menetapkan pembatasan sosial berskala besar dan memperpanjang status tanggap darurat hingga akhir Mei 2020.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan khusus Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, kini semua warga yang hendak keluar rumah harus menggunakan masker. Anjuran itu sesuai dengan imbauan Badan Kesehatan Dunia (WHO) agar masyarakat mengenakan masker. 

"Semua rekomendasi dari WHO kita jalankan, termasuk 'masker untuk semua', mulai hari ini" ungkap  Yuri ketika memberikan keterangan pers pada Minggu (5/4/2020) kemarin di Graha BNPB, Jakarta. 

Baca Lainnya : Masker N95 dan Respirator Tidak Bisa Cegah Virus Corona

Yuri menyarankan agar masyarakat menggunakan masker kain yang dapat dicuci berkali-kali. Biarkan masker bedah atau N-95 yang hanya sekali pakai diprioritaskan untuk petugas medis. 

"Gunakan masker kain yang bisa dicuci. Masker kain digunakan tidak lebih dari empat jam. Rendam masker kain yang telah dipakai di air sabun, lalu dicuci," tuturnya lagi. 

Sementara itu, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, masyarakat yang sehat dapat menggunakan masker kain tiga lapis untuk mencegah penularan Covid-19. Namun, masker jenis ini hanya dapat menangkal virus hingga 70 persen. 

"Sesuai hasil penelitian, masker kain dapat mennagkal virus sebesar 70 persen," tambah Wiku. 

Baca Lainnya : 90 Persen Partikel Dapat Menembus Masker Kain, Tidak Disarankan untuk Tenaga Medis

Oleh karena hal tersebut, masyarakat yang telah menggunakan masker kain tetap diminta untuk menjaga jarak dengan orang lain, minimal 1 hingga 2 meter. Selain itu, masyarakat juga diimbau tak keluar rumah jika tak ada keperluan mendesak.

Wiku mengatakan, masyarakat dapat membuat masker berbahan dasar kain secara mandiri. Pembuatannya bisa dilakukan secara manual maupun menggunakan mesin jahit.  Dalam membuat masker ini, yang paling penting adalah memastikan masker menutupi hidung dan dagu sehingga tidak longgar. 

Wiku juga menyarankan supaya masyarakat secara rutin mencuci masker kain mereka. Masker harus diganti setiap kali basah atau kotor. 

Selain masker kain, terdapat jenis masker lainnya yaitu masker bedah dan masker N95.  Masker bedah digunakan untuk tenaga medis atau masyarakat yang sedang sakit, sedangkan masker N95 diperuntukkan bagi tenaga medis yang menangani pasien Covid-19 dengan tingkat infeksi tinggi.

Wiku melanjutkan di samping masker, yang juga dapat menjadi pelindung utama penularan Covid-19 adalah rutin mencuci tangan. Droplet orang yang terinfeksi virus bukan tidak mungkin tertinggal pada benda mati, dan secara tidak sengaja tersentuh oleh orang sehat. 

Jika tak mencuci tangan, droplet tersebut sangat mudah berpindah ke tangan, mulut, atau mata. 

"Kita harus memiliki solidaritas untuk saling mengingatkan, pakai masker dan cuci tangan," kata Wiku.

Baca Lainnya : Hespridin pada Kulit Jeruk Bisa Tangkal Corona, Begini Cara Sajinya

Sebelumnya, penyataan berbeda penah dilontarkan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Ia menyebutkan, orang perlu memakai masker hanya bagi mereka yang sakit.  Ia mengimbau masyarakat yang berada dalam kondisi sehat tak usah memakai masker.

"Tetap keputusannya dari WHO yang sakit yang pakai masker. Yang sehat enggak usah. Kenapa? Karena apa? Kalau yang sehat pakai juga percuma, dia nanti megang-megang tangannya dan sebagainya. Tetap saja bisa kena," kata Terawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2020).

 "Daripada itu (pakai masker), mending dia yang menjauhi orang sakit. Yang sakit menutup diri," ujar Terawan.

Baca Lainnya : RUU Omnibus Law Dinilai Berdampak Buruk bagi Nelayan dan Masyarakat Pesisir

Terawan juga menjelaskan, penyebaran virus corona tergantung dengan sistem imunitas tubuh. Bahkan, virus corona bisa sembuh dengan sendirinya jika imunitas tubuh baik. "Ini penyakit yang bisa sembuh sendiri.

Sama seperti virus yang lain. Juga angka kematian dua persen atau di bawahnya. Tergantung imunitas tubuh. Makanya dari awal saya bilang, jaga imunitas tubuh," ujarnya.

 


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Gubernur Bengkulu Ajak Seluruh Pihak Perkuat Kostratani

Peristiwa   04 Des 2020 - 13:49 WIB
Bagikan:          

Walikota Bogor Resmi Luncurkan Program Bogor Berkebun

Peristiwa   04 Des 2020 - 13:11 WIB
Bagikan: