Ketersediaan Pangan Bantu Tekan Dampak Pandemi Covid-19

TrubusNews
Binsar Marulitua
03 April 2020   19:00 WIB

Komentar
Ketersediaan Pangan Bantu Tekan Dampak Pandemi Covid-19

ilustrasi petani (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id --  Pandemi Coronavirus disease (Covid-19) di Indonesia sudah membawa perubahan pada berbagai sektor yang bersentuhan langsung dengan hidup orang banyak. Selain berdampak pada ekonomi, pandemi ini juga berpotensi menimbulkan dampak serius pada sektor pangan, salah satunya adalah menurunnya hasil produksi pertanian domestik.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, menurunnya hasil produksi pertanian domestik tentu membahayakan kebutuhan masyarakat di dalam negeri.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga dapat menyebabkan berkurangnya pekerja di sektor pertanian sekitar 1% - 4,87% dan menurunnya investasi di sektor pertanian sebanyak 2% - 3,7%. Sehingga, akibat dari Covid-19 pada sektor pangan bukan hanya disebabkan oleh rantai distribusi yang tidak efektif dan efisien, namun juga disebabkan faktor produksi yang melemah yang tidak memungkinkan permintaan dipenuhi sebatas melalui produksi domestik.

Baca Lainnya : Hespridin pada Kulit Jeruk Bisa Tangkal Corona, Begini Cara Sajinya

 “Sebelum pandemi Covid-19, hasil produksi pertanian nasional memang tidak mampu memenuhi semua kebutuhan masyarakat. Impor menjadi satu tindakan yang mutlak diperlukan untuk menjaga kestabilan harga komoditas pangan. Pemerintah sudah tentu harus mengutamakan kebijakan yang fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, termasuk pangan,” jelas Felippa.

Wacana lockdown atau karantina wilayah yang sempat bergaung menambah kekhawatiran masyarakat akan terjaminnya ketersediaan komoditas pangan di pasar.

Implementasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dapat diperluas sewaktu-waktu juga semakin mempersempit ruang gerak masyarakat. Hal ini, lanjut Felippa, dapat memicu semakin langkanya komoditas pangan di pasar.

 “Berita baiknya, April dan Mei adalah masa panen raya sehingga stok aman hingga sekitar Mei. Berita buruknya, kita tidak tahu pandemi ini akan berlangsung sampai kapan. Semakin lama pandemi ini berlangsung, semakin luas penyebarannya dan juga semakin luasnya implementasi PSBB, maka disrupsi rantai pasok pangan juga akan semakin besar. Salah satunya karena tenaga kerja berkurang dan fasilitas terganggu,” jelas Felippa.

Baca Lainnya : Masker N95 dan Respirator Tidak Bisa Cegah Virus Corona

 Kekurangan ketersediaan pangan bisa memicu inflasi harga yang dapat menimbulkan keresahan sosial dan menghambat upaya pengendalian pandemi ini. Inflasi pada produk pertanian terjadi akibat permintaan rumah tangga yang meningkat yang tidak sejalan dengan suplai di pasar.

Berdasarkan Indeks Bulanan Rumah Tangga (BURT) yang dikeluarkan CIPS, harga-harga komoditas pangan, seperti gula, bawang putih dan bawang bombay sudah mengalami peningkatan sejak sebelum pandemi Covid-19 terkonfirmasi sampai di Indonesia.

 “Tingginya harga komoditas pangan ini tentunya paling berdampak pada keluarga kurang mampu, apalagi yang sumber penghasilannya jadi terhenti akibat pandemi Covid-19. Keluarga yang paling rentan bisa menghabiskan hingga 60% dari pendapatan mereka hanya untuk pangan. Di situasi saat ini, stabilitas harga pangan penting untuk dijaga supaya masyarakat Indonesia bisa terus mengonsumsi makanan bernutrisi untuk meningkatkan imunitas tubuh. Hal ini juga baik untuk menggerakkan konsumsi,” ungkap Felippa.

 Untuk memastikan ketersediaan komoditas pangan di pasar dan stabilitas harganya, pemerintah harus mengambil langkah strategis secepatnya untuk memastikan ketersediaan pangan, secara akses fisik maupun akses finansial. Salah satunya dengan mengurangi berbagai hambatan perdagangan dan menjaga perdagangan pangan untuk tetap terbuka. Pemerintah juga perlu melakukan diversifikasi sumber impor pangan dari berbagai negara.

Baca Lainnya : 90 Persen Partikel Dapat Menembus Masker Kain, Tidak Disarankan untuk Tenaga Medis

 Berbagai hambatan perdagangan yang selama ini dihadapi antara lain adalah Surat Pengajuan Impor (SPI), sistem kuota, sistem birokrasi yang tidak sederhana dan memakan waktu lama yang pada akhirnya membuat proses impor menjadi lama. Contohnya, proses impor daging sapi membutuhkan waktu perkiraan sekitar 32 hari kerja menurut peraturan. Kenyataannya, proses ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan, seperti yang terjadi pada komoditas gula dan bawang putih.

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: