Simpan Cadangan Pangan Selama Darurat Covid-19: Kamboja Hentikan Ekspor Padi dan Beras

TrubusNews
Syahroni
03 April 2020   16:00 WIB

Komentar
Simpan Cadangan Pangan Selama Darurat Covid-19: Kamboja Hentikan Ekspor Padi dan Beras

Ilustrasi. (Foto : Trubus.id/Muhammad Iman P Perkasa)

Trubus.id -- Kamboja telah menangguhkan semua ekspor beras putih dan padi mulai 5 April mendatang untuk mengamankan pasokan domestik selama pandemi Covid-19 berlangsung. Perdana Menteri Hun Sen mengatakan tindakan itu adalah strategi pencegahan yang penting selama keadaan darurat, karena Covid-19 menyebar di banyak negara, termasuk Kamboja.

Dilansir dari Phnom Penh Post, dia mengatakan keputusan untuk menangguhkan ekspor padi dan beras putih akan memastikan stok beras yang lebih baik di negara mereka. Namun demikian, ekspor beras wangi, yang memiliki lebih sedikit permintaan di pasar lokal, masih tetap diperbolehkan.

“Kita harus menyimpan makanan di negara kita. . . Saya tidak mengacu pada singkong, kentang, jagung atau kedelai, tetapi hanya beras." terangnya.

Pada batas waktu untuk menghentikan ekspor, Hun Sen mengatakan pemerintah akan mengizinkan pedagang dan lainnya yang telah membeli padi dan siap untuk mengekspor ke Thailand dan Vietnam untuk melakukannya.

Dia juga mengatakan kepada Kementerian Ekonomi dan Keuangan untuk melihat kemungkinan pencairan dana kepada pabrik untuk membeli padi dari mereka yang telah menjualnya kepada pedagang di negara-negara tetangga.

Wakil presiden Federasi Beras Kamboja (CRF) Chan Sokheang mengatakan kepada The Post bahwa langkah-langkah pemerintah untuk menangguhkan ekspor beras putih dan padi akan membantu Kamboja menjaga persediaan yang kuat. Ini, katanya, terutama terjadi dalam keadaan ketika banyak negara di dunia menghadapi masalah yang berasal dari penyebaran Covid-19.

Namun, penangguhan ekspor beras putih juga mempengaruhi pesanan dari beberapa negara, katanya. "Ini adalah situasi yang kami sebut force majeure sehingga beberapa perjanjian pesanan akan dihapuskan." terangnya. 

Sokheang mengatakan rata-rata, beras putih menyumbang sekitar 20 persen dari ekspor beras, sementara itu untuk beras wangi mencapai 80 persen. Tahun lalu, ekspor beras Kamboja bernilai sekitar US $ 501 juta - turun 4,3 persen dari US $ 524 juta pada 2018, kata laporan CRF.

Sokheang meminta kementerian untuk meningkatkan pendanaan sehingga pembeli beras dan penggilingan padi dapat membeli lebih banyak padi untuk persediaan. Menurut data dari Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Kamboja telah mengekspor 214.612 ton beras hingga 25 Maret. China menyumbang 94.060 ton, Uni Eropa (62.998 ton), negara-negara Asean (27.937 ton), dan tujuan lainnya (29.617 ton).

Ekspor Padi ke Vietnam adalah 836.692 ton. Tahun lalu, ekspor beras mencapai 620.106 ton, turun 0,97 persen dari 2018.262.225 ton. Data menunjukkan bahwa ekspor ke China menyumbang 40,73 persen atau 248.105 ton, dan pasar Eropa 32,01 persen, atau 202.990 ton. Ekspor ke negara-negara Asean menyumbang 13,41 persen atau 83.164 ton, dan tujuan lainnya di (13,84 persen) atau 85.847 ton. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: