23 Ular Sanca dan Kobra Tangkapan Banjir Jabodetabek Dilepasliarkan di Gunung Salak 

TrubusNews
Binsar Marulitua
20 Mar 2020   15:32 WIB

Komentar
23 Ular Sanca dan Kobra Tangkapan Banjir Jabodetabek Dilepasliarkan di Gunung Salak 

Pelepasliaran satwa liar jenis ular sebanyak 23 ekor di kawasan TNGHS, Kamis (19/3/2020). (Foto : Humas KSDAE KLHK)

Trubus.id -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dan Forum Komunikasi Kader Konservasi (FK3I) Jakarta, melakukan pelepasliaran satwa liar jenis ular sebanyak 23 ekor di kawasan TNGHS, Kamis (19/3/2020).

23 ekor satwa liar jenis ular terdiri dari 21 ekor ular piton/sanca batik (Python reticulatus), dan 2 ekor ular cobra (Naja sputatrix). Keseluruhan ular ini merupakan hasil penyelamatan satwa ular pada saat terjadi bencana banjir di wilayah Jabodetabek.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Indra Exploitasia, menyampaikan bahwa pelepasliaran merupakan bagian program penguatan konservasi in-situ, dengan mengacu ketentuan pelepasliaran guna mendukung penguatan populasi spesies target dan upaya keseimbangan ekosistem di wilayah TNGHS. 

Pelepasliaran ular yang merupakan mangsa (prey) dan pemangsa (predator) di kawasan TNGHS dinilai strategis, mengingat TNGHS merupakan habitat Burung Elang Jawa sebagai satwa kunci (key species). 

Ular merupakan salah satu mangsa utama dari Burung Elang Jawa, disisi lain ular juga sebagai pemangsa dari satwa pengerat (rodentia) yang ada di TNGHS.

"Kegiatan serupa akan dilaksanakan di kawasan konservasi lainnya dengan jenis-jenis satwa lainnya yang merupakan satwa asli/lokal di habitat tersebut," ungkapnya.

Baca Lainnya : Cegah Penyebaran Covid 19, KLHK Tutup 56 Kawasan Konservasi Untuk Kunjungan Wisata Alam

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Ahmad Munawir, menyampaikan bahwa terpilihnya kawasan TNGHS sebagai tempat pelepasliaran 23 jenis ular ini, didasarkan atas hasil kajian daya dukung habitat, dan pertimbangan sosial, seperti jarak dari pemukiman penduduk, yang dilakukan oleh BTNGHS dan mitra.

Balai KSDA Jakarta selaku pengelola Pusat Penyelematan Satwa (PPS) dan Wildlife Rescue Unit (WRU) sangat membutuhkan dukungan dari para pihak dalam melakukan upaya penyelamatan satwa, rehabilitasi, habituasi, dan terutama kerjasama penyediaan lokasi pelepasliaran satwa seperti kawasan TNGHS.

Kegiatan pelepasliaran ini tidak melibatkan banyak orang, dengan pertimbangan pencegahan Covid-19. Pesan edukasi terhadap upaya pelepasliaran satwa liar di habitatnya, dilakukan melalui pesan SMS, dan Whatsapp Broadcast di wilayah cover area Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Lebak-TNGHS.
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: