Pasang Portable Digital Seismograpf, BMKG Juga Berangkatkan Tim Survei Makroseismik Ke Sukabumi

TrubusNews
Binsar Marulitua
11 Mar 2020   20:00 WIB

Komentar
Pasang Portable Digital  Seismograpf, BMKG Juga Berangkatkan Tim Survei Makroseismik Ke Sukabumi

Penduduk desa memeriksa memeriksa rumah mereka yang rusak terdampak gempa magnitudo 5,1 yang mengguncang Sukabumipada Selasa 10 Maret 2020 pukul 17.18 WIB. Hasil analisis menunjukkan bahwa gempa ini diakibatkan oleh aktivitas slip atau pergeseran blok batuan kulit bumi secara tiba-tiba. (Foto : BNPB)

Trubus.id -- Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono Mengungkapkan, masih banyak sebaran sesar aktif yang belum teridentifikasi dan terpetakan strukturnya dengan baik. Identifikasi dan pemetaan sesar aktif ini sangat penting untuk kajian mitigasi dan perencanaan wilayah. 

"Menjadi pembelajaran yang dapat diambil dari kasus gempa Sukabumi ini,"jelas Rahmat di Jakarta, Rabu (11/3/2020). 

Rahmat menjelaskan, pembelajaran lain dari Gempa tektonik M=5,1 yang mengguncang wilayah Sukabumi pada Selasa petang 10 Maret 2020 pukul 17.18.04 WIB adalah pentingnya mewujudkan bangunan tahan gempa.

Perihal tersebut dijelaskan karena  banyaknya korban sebenarnya bukan disebabkan oleh gempa, tetapi timbul korban akibat bangunan roboh dan menimpa penghuninya. 
 

"Membuat bangunan rumah tembok asal bangun tanpa besi tulangan atau dengan besi tulangan dengan kualitas yang tidak standar justru akan menjadikan penghuninya sebagai korban jika terjadi gempa," jelasnya. 

Data BPBD Provinsi Jawa Barat menunjukan gempa ini menimbulkan kerusakan di beberapa wilayah kecamatan di Sukabumi. Di Kecamatan Kalapanunggal (17 rumah rusak berat 15 rumah rusak sedang 17 rumah rusak ringan), Kecamatan Parakansalak (2 rumah rusak sedang), Kecamatan Cidahu (1 rumah rusak), dan Kecamatan Kabandungan (beberapa rumah rusak ringan).

Terkait kerusakan akibat gempa tersebut di atas, lanjut Rahmat,  BMKG hari ini Rabu 11 Maret 2020 memberangkatkan tim survei ke zona gempa di Sukabumi. Survei lapangan yang akan dilakukan BMKG mencakup survei makroseismik guna memetakan sebaran dampak kerusakan bangunan (berat, sedang, ringan).

"Data ini penting untuk validasi peta shakemap yang dipublikasikan BMKG," tambahnya.

Selain itu, lanjut Rahmat, BMKG juga akan memasang beberapa portable digital seismograpf untuk memonitor aktivitas gempa susulan. 

"Satu lagi hal yang penting untuk dilakukan oleh tim survei BMKG adalah melakukan sosialisasi untuk kepada masyarakat dengan meberikan penjelasan seputar mitigasi gempabumi, cara selamat saat terjadi gempa, serta menenangkan masyarakat,"tutupnya.


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: