Rayakan HUT ke-4, KP2C Gelar Pertemuan Mencari Solusi Permasalahan Sungai Cikeas-Cileungsi

TrubusNews
Syahroni
08 Mar 2020   06:00 WIB

Komentar
Rayakan HUT ke-4, KP2C Gelar Pertemuan Mencari Solusi Permasalahan Sungai Cikeas-Cileungsi

KP2C menggelar pertemuan bertajuk 'Kupas Tuntas KP2C dengan TMA-nya', Sabtu (7/3) di Lembur Suka Sunda, Bojongkulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. (Foto : DOC/ KP2C)

Trubus.id -- Bertepatan dengan peringatan 4 tahun berdirinya Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), sebuah pertemuan bertajuk 'Kupas Tuntas KP2C dengan TMA-nya', digelar Sabtu (7/3) di Lembur Suka Sunda, Bojongkulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor (Jawa Barat).

Menurut Ketua KP2C, Puarman, pertemuan ini diselenggarakan sebagai ajang silaturrahmi antar Pengurus dan members KP2C. Saat ini anggota KP2C berjumlah 10.000 orang. Mereka tersebar lebih dari 40 perumahan, baik di Kabupaten Bogor, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

Dalam siaran persnya, Puarman mengatakan bahwa dalam pertemuan sekaligus perayaan 4 tahun berdiri komunitas ini sepenuhnya diisi edukasi tentang tiga sungai, yakni Cileungsi, Cikeas, dan Kali Bekasi yang dikemas dalam bentuk dialog interaktif. 

"Pertemuan ini membedah KP2C dan ketiga sungai (Cileungsi, Cikeas, Kali Bekasi), bertujuan untuk  meningkatkan pengetahuan dan pemahaman members terhadap karakteristik sungai. Selain itu,  menghimpun masukan dari members terkait pengembangan komunitas ke depan, untuk mencari solusi," terang Puarman. 

Puarman mengatakan bahwa KP2C diisi 19 pengurus. Mereka  bekerja secara sukarela.  Donasi yang menjadi roda penggerak komunitas  dialokasikan  sepenuhnya untuk petugas pemantau KP2C di lima titik pantau Tinggi Muka Air (TMA), dan pengadaan peralatan pendukung seperti CCTV. 

"Kami organisasi non profit, dan independen," tandas Puarman. 

Kelima titik pantau itu berada di Cibongas, Cileungsi, Cikeas, Cibinong, dan P2C (Pertemuan Cileungsi-Cikeas). 

"Ke depan, KP2C akan menambah beberapa titik pantau lagi. Sehingga informasi TMA yang diterima anggota bisa hingga delapan jam sebelum air sungai sampai di perumahan mereka," ujar Puarman. 

Dalam paparannya, Puarman menjelaskan bahwa daerah aliran sungai (DAS) Cileungsi memiliki luas 26.000 m2. Sementara Cikeas 11.000 m2.  "Itu berarti, ketika air di Cileungsi tinggi, sementara di Cikeas rendah, akan berpotensi banjir. Namun bila sebaliknya, tidak," jelasnya. 

Selain bermitra dengan sejumlah instansi pemerintah, KP2C juga menjalin komunikasi intensif dengan petugas Bendung Bekasi. 

"Kami selalu mengirim info TMA ke petugas Bendung Bekasi. Sehingga mereka bisa menyesuaikan sejak awal buka tutup pintu air bendung," tutur Puarman.

Puarman juga menjelaskan bahwa komunitas yang sudah memiliki legalitas hukum  sejak 3 Maret 2020 ini, memberikan pelayanan kepada anggota berupa 'early warning system' (sistem peringatan dini) TMA, edukasi sungai dan potensi ancaman banjir dan pelestarian lingkungan. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: