Berorientasi Ekspor, Pengembangan Akuakultur Terus Didorong untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional

TrubusNews
Binsar Marulitua
29 Feb 2020   15:00 WIB

Komentar
Berorientasi Ekspor, Pengembangan Akuakultur Terus Didorong  untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Ilustrasi budidaya rumput laut (Foto : Humas KKP)

Trubus.id -- Direktur Jenderal Perikanan Budidaya,KKP, Slamet Soebjakto, mengatakan dinamika perdagangan produk akuakultur global saat ini dan tuntutan nasional dalam menjadikan subsektor akuakultur sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi nasional membutuhkan percepatan untuk mengantisipasinya. KKP menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan akuakultur di tahun 2020 yang diprediksi akan semakin besar. 

Slamet mengatakan, Presiden Jokowi secara khusus meminta KKP untuk fokus mengoptimalkan industri akuakultur nasional. Secara spesifik bahkan Presiden memberikan target kenaikan ekspor udang sebesar 250% hingga tahun 2024.

"Salah satu tantangan yang perlu dihadapi saat ini yakni dinamika persaingan pasar perdagangan global yang menuntut kita harus lebih cepat mengambil peluang melalui strategi yang efektif. Kita juga dituntut untuk memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan devisa ekspor", tegas Slamet beberapa waktu lalu

Menurut Slamet, KKP telah menyiapkan berbagai program yang arahnya untuk pengembangan industri budidaya yang berorientasi ekspor dan untuk menopang ketahanan pangan nasional.

Berbagai program tersebut yakni pengembangam kawasan budidaya udang berkelanjutan, kawasan budidaya rumput laut, kawasan budidaya patin, kawasan budidaya ikan hias, membangun dan mengembangkan industri perbenihan melalui pusat induk dan benih  (Broodstock Center), penataan sistem logistik benih dan pengembangan pakan mandiri berbasis maggot.

Baca Lainnya : Jurus KKP Dongkrak Produktivitas Ekspor Rumput Laut Sumba Timur

Disamping itu, KKP akan terus mendorong program lainnya yakni bioflok, minapadi, pengembangan RAS, Gerpari dan rehabilitasi kawasan.

Slamet menambahkan, khusus untuk pencapaian target ekspor udang sebesar 250%, KKP telah mendorong pengembangan kawasan budidaya udang berbasis kawasan di berbagai daerah melalui model kerjasama dengan Pemda setempat.

"Kita telah melakukan model pengembangan budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan di berbagai daerah dan hasilnya sangat memuaskan dengan produktivitas mencapai 40 ton per ha. Daerah tersebut antara lain di Pasangkayu-Sulawesi Barat, Kabupaten Buol-Sulawesi Tengah, Aceh Tengah. Model ini akan terus kita adopsi di daerah daerah potensial terutama di Indonesia bagian Tengah hingga Timur", imbuhnya.

Untuk menghadapi dinamika persaingan pasar global yang semakin ketat, KKP terus mendorong penguatan daya saing produk akuakultur yakni melalui konsistensi penerapan prinsip Good Aquaculture Practices (GAP). Indonesia saat ini masih tercatat sebagai negara dengan kepatuhan yang cukup baik sehingga hingga saat ini belum ada penolakan terhadap produk akuakultur di negara buyer. Disamping itu, KKP akan terus bekerjasama dengan AP5i untuk meningkatkan kualitas produk,  memperkuat pasar dan membuka peluang ekspansi pasar baru guna memastikan produk asal Indonesia bisa masuk.

"Saat ini tim audit dari Uni Eropa akan melakukan penilaian kesesuaian di lapangan untuk memastikan konsistensi dalam menerapkan GAP. Tentu kita berharap tidak ada temuan mayor, sehingga produk kita tetap diterima", ungkap Slamet.

Komoditas lainnya yang akan didorong dalam waktu dekat menurut Slamet yakni patin. Permintaan patin dari Arab Saudi belum bisa terpenuhi 100%, oleh karenanya KKP akan bangun industri patin incorporated di daerah Merah Mata, Sumatera Selatan.

"Nanti di Merah Mata kita akan bangun industri patin terintegrasi seperti di sungai Mekong. Tentu ini dalam upaya untuk meningkatkan suplai patin terutama untuk kebutuhan ekspor,” jelas Slamet.

Upaya lain yang akan dilakukan di hulu, yakni terus meningkatkan efesiensi produksi dan meningkatkan daya saing produk dengan memanfaatkan semua hasil komoditas untuk bisa diolah menjadi nilai tambah.

Baca Lainnya : KKP Ungkap Kematian Masal Ratusan Ikan Disertai Perubahan Warna Air Laut di Ternate

"KKP juga tengah mendorong pengembangan budidaya kobia yang bisa digenjot untuk orientasi ekspor. Kobia ini unik karena produknya bisa didiversifikasi seperti untuk industri tas, sabuk, dompet dan olahan makanan.

Perlu diketahui, fokus pengembangan kobia ini bukan berarti komoditas lain terabaikan,” pungkasnya.

Sebelumnya,  Komisi IV DPR RI telah menyetujui usulan KKP dalam me-realokasi anggarannnya. Salah satu yang diperkuat adalah Subsektor Perikanan Budidaya yang mendapatkan tambahan anggaran  sebesar Rp300 milyar rupiah. Dengan demikian anggaran untuk subsektor ini menjadi Rp1,03 trilyun dari semula Rp739,57 milyar.

Baca Lainnya : Menteri Edhy Pastikan Akuakultur Jadi Ujung Tombak Perikanan Nasional

Realokasi anggaran ini diusulkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (25/2/2020) lalu. Menteri Edhy dalam keterangannya mengatakan bahwa penambahan anggaran untuk subsektor perikanan budidaya sebagai bentuk komitmen KKP untuk memperkuat subsektor ini. Menteri Edhy menegaskan penguatan subsektor perikanan budidaya merupakan salah satu amanat yang diberikan kepala negara terhadap dirinya.

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Bertambah 218, Pasien Positif Covid-19 Jadi 2.956 Kasus

Peristiwa   08 April 2020 - 16:51 WIB
Bagikan:          
Bagikan: