Boyolali Produksi Keju Lokal untuk Kejar Kualitas Produk Impor

TrubusNews
Syahroni
16 Feb 2020   19:30 WIB

Komentar
Boyolali Produksi Keju Lokal untuk Kejar Kualitas Produk Impor

Keju Boyolali, Jawa Tengah. (Foto : TheJakpost)

Trubus.id -- Keju biasanya dilihat sebagai produk Barat, tetapi sekarang komoditas ini dikembangkan dengan baik di Boyolali, sebuah kota kecil di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di Jawa Tengah.

Produksi keju di Boyolali dimulai pada 2007 ketika peternak sapi perah di kabupaten menerima bantuan dari sebuah LSM Jerman. Produksi susu yang melimpah membuat mereka memiliki ide untuk mengadakan pelatihan pembuatan produk susu baru seperti sabun, keju, dan yoghurt. Gagasan itu mendapat sambutan hangat dan pada tahun 2009 sebuah koperasi keju, bernama Indrakila, didirikan di Boyolali.

Mengutip laman The Jakarta post, menurut data Badan Peternakan dan Perikanan Boyolali, peternak sapi perah di wilayah tersebut dapat menghasilkan sekitar 80.000 liter susu sehari dari sekitar 60.000 sapi.

Di Indrakila, produksi keju tetap di tingkat industri rumah tangga, dengan kapasitas hanya mengonsumsi 3.000 hingga 5.000 liter susu. Mempekerjakan lima pekerja sehari, Indrakila dapat menghasilkan beragam produk keju alami seperti mountain, mozzarella dan feta.

“Kami saat ini juga mengembangkan varian keju yang terinspirasi oleh keju Camembert. Tapi, karena ini diproduksi di sini di Boyolali, kami menyebutnya keju Boyobert," kata manajer produksi Indrakila, Romi Anjas.

Romi mengatakan semua produk keju yang mereka buat mengalami berbagai proses penyesuaian. Resep dasar, katanya, mengacu pada standar internasional.

Namun, dalam proses produksi, beberapa penyesuaian dilakukan untuk menyesuaikan perbedaan karakteristik nutrisi susu sapi karena variasi dalam jenis makanan dan teknik pertanian antara sapi perah di Eropa dan di Boyolali.

Indrakila juga menambahkan beberapa inovasi pada rasa keju dengan memasukkan bahan-bahan tertentu, dari oregano hingga cabai, lada hitam dan minyak zaitun.

Produk-produk tersebut dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia termasuk Semarang, Wonosobo, Malang, Pontianak dan Balikpapan. Pembeli langsung termasuk pemilik restoran, kafe, dan hotel, yang menggunakan keju dalam menu mereka.

Distributor eceran sejauh ini hanya tersedia di Yogyakarta dan Bali walaupun produknya juga dapat dibeli secara online. Harganya jauh lebih rendah daripada produk impor, antara Rp125.000 (US$9,10) dan Rp180.000 per kilogram.

Dadih dari proses pembuatan keju juga dikumpulkan untuk petani lokal dan peternak untuk digunakan sebagai pupuk organik atau sebagai campuran untuk makanan tambahan untuk ternak mereka.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Bertambah 218, Pasien Positif Covid-19 Jadi 2.956 Kasus

Peristiwa   08 April 2020 - 16:51 WIB
Bagikan:          
Bagikan: