Harga Bawang Putih Meroket, Diversifikasi Pasar Impor Dibutuhkan untuk Stabilkan Harga

TrubusNews
Binsar Marulitua
11 Feb 2020   07:00 WIB

Komentar
Harga Bawang Putih Meroket, Diversifikasi Pasar Impor Dibutuhkan untuk Stabilkan Harga

Ilustrasi Bawang Putih (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Penghentian sementara impor bawang putih dari Tiongkok telah memengaruhi jumlah pasokan dan kestabilan harga bawang putih di dalam negeri. Mengantisipasi melonjak harga bawang putih pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan opsi untuk diversifikasi pasar impor bawang putih untuk memastikan jumlah pasokan dan kestabilan harganya di pasar dalam negeri. 

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengungkapkan pemerintah perlu mempertimbangkan opsi untuk diversifikasi pasar impor bawang putih untuk memastikan jumlah pasokan dan kestabilan harganya di pasar dalam negeri. Diversifikasi juga penting dilakukan supaya Indonesia tidak tergantung pada satu negara manapun.

Baca Lainnya : Peneliti Nilai Usulan Importir Bawang Putih Ekspor Bawang Merah Tidak Realistis

"Kalau melihat data Food and Agriculture Organization (FAO), China memang mendominasi produksi bawang putih dunia dengan jumlah produksi sekitar 22 juta ton per tahunnya. Namun banyak negara lain yang juga bisa menjadi pemasok bawang putih, seperti India, Mesir dan Spanyol," jelas Felippa Ann Amanta beberapa waktu lalu. 

Felippa menjelaskan, melihat data produksi dari FAO dan data perdagangan dari UN Commtrade, negara-negara tersebut memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan bawang putih Indonesia. Pada tahun 2017, India menghasilkan 1,7 juta ton per tahun dan telah mengekspor 33.736 ton bawang putih. Selanjutnya, Mesir menghasilkan 274.668 ton dan mengekspor 8.516 ton.

"Indonesia sebenarnya sudah memanfaatkan pasokan bawang putih mereka, namun masih dalam jumlah yang sedikit, yaitu sebesar 8.000 ton dari India dan 135 ton dari Mesir,"tambahnya 

Baca Lainnya : Produksi Stagnan, Peneliti Dorong Pemerintah Terbitkan Peta Jalan Pertembakauan

Felippa juga mengungkapkan di negara Spanyol yang merupakan penghasil bawang putih terbesar Eropa yang menghasilkan 274.712 ton bawang putih, di mana 165.875 ton di antaranya untuk pasar ekspor. Namun, Indonesia belum memanfaatkan pasokan ini. 

"Pemerintah patut mempertimbangkan opsi-opsi ini supaya bawang putih terus tersedia dalam harga yang tercapai bagi masyarakat Indonesia,"jelasnya. 

Sementara itu, lanjut Felippa, permintaan konsumen Indonesia terhadap bawang putih masih cukup signifikan, yaitu sekitar 0,33 ons per kapita setiap minggu. Secara keseluruhan, menurut data BPS, permintaan bawang putih Indonesia mencapai 500.000 ton per tahun. 

"Jumlah sebesar ini belum mampu dipenuhi produksi bawang putih dalam negeri yang baru mampu memproduksi sekitar 39.000 ton per tahun,” terang Felippa.

  Baca Lainnya : Peneliti Anggap Kebijakan Stabilisasi Beras BUMN Membebani Konsumen, Apa Sebabnya?
Ia juga membeberkan,sebenernya, Virus Corona adalah penyakit zoonosis yang tidak menyebar melalui tanaman hortikultura. Selain itu, setiap impor bawang putih juga harus memenuhi standar-standar Sanitary Phytosanitary (SPS) dan proses inspeksi, karantina, dan pengawasan keamanan yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa produk yang diimpor bebas dari penyakit apapun.

" Keinginan pemerintah untuk lebih berhati-hati sangatlah wajar,"pungkasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Bertambah 218, Pasien Positif Covid-19 Jadi 2.956 Kasus

Peristiwa   08 April 2020 - 16:51 WIB
Bagikan:          
Bagikan: