Antisipasi Karhutla, Jokowi Minta BRG Fokus Pembasahan dan Kontrol Kubah Ganbut

TrubusNews
Binsar Marulitua
06 Feb 2020   15:40 WIB

Komentar
Antisipasi Karhutla, Jokowi Minta BRG Fokus Pembasahan dan Kontrol Kubah Ganbut

ilustrasi lahan gambut (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk tetap fokus pada pembasahan lahan gambut dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan pada 2020. Pembasahan yang dilakukan harus masif, karena kesulitan pemadaman lahan gambut cukup tinggi. 

Perihal tersebut disampaikan Jokowi saat memberikan pengarahan kepada peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

"Kita telah membentuk yang namanya Badan Restorasi Gambut (BRG). Saya ingatkan kepada Kepala BRG agar pembasahan itu terus dijaga,” jelas Jokowi. 

Jokowi menginstruksikan agar kanal-kanal pada lahan gambut dijaga betul agar basah, terutama di daerah-daerah gambut yang mengalami penurunan muka air secara drastis di musim-musim kemarau. Kontrol terhadap sekat kanal, timbun kanal, embung, sumur bor, harus terus dilakukan.  

Lebih lanjut, Jokowi juga meminta BRG fokus memonitoring penataan ekosistem gambut dalam kawasan hidrologi gambut, termasuk kontrol terhadap kubah gambut. Menurutnya, kontrol harus terus dilanjutkan secara konsisten dan tetap meminta pemilik konsesi melaksanakan kepatuhan.

"Sudah harus kita yang jaga. Karena kalau ndak, yang namanya tempatnya air kemudian diganti dengan tanaman industri ini berbahaya. Saya selalu mendapatkan laporan sudah berapa banyak yang kita kerjakan mengenai ini, saya ikuti terus ini," tambahnya. 

Kepala negara juga meminta untuk BRG mencarikan solusi yang lebih permanen untuk upaya pembakaran hutan dan lahan yang sengaja untuk motif ekonomi. Menurut laporan yang ia terima 99 persen kebakaran hutan dan lahan itu terjadi karena ulah manusia yang disengaja, untuk  motif ekonomi.

Terlebih, seluruh ruas yang terbakar itu hampir 80 persen berada di area kebun karena dipilih sebagai teknik land clearing yang paling murah. 

Kepala Badan Restorasi Gambut Nizar Foead mengatakan, penyebab peningkatan luas lahan yang terbakar sejak 2017 hingga 2019 dikarenakan faktor cuaca. Bahkan, faktor tersebut juga mempengaruhi negara lain yang mengalami kebakaran hutan yang cukup ekstrem. 

Sesuai arahan Presiden Jokowi, Lanjut Nizar, tahun 2020 seluruh stakeholder terkait harus lebih hati-hati dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini mungkin. Salah satu pencegahannya, berupa tata kelola Gambut yang sudah berjalan.

Pihaknya akan membantu tata kelola ekosistem berbasis gambut. Di antaranya, mengairi kanal-kanal yang telah dibuat di lahan gambut. 

"Gambut itu harus satu ekosistem karena airnya hidrologinya jangan sampai sebelah selatan saja yang sampai, tapi utara tidak ada air. Ini kebijakan yang dikeluarkan dan sedang dipraktikkan oleh kita semua," tambahnya. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merekapitulasi luas karhutla sepanjang 2019 mencapai 942.485 hektare (ha). Luas tersebut, terdiri dari 672.708 ha mineral dan 269.777 gambut.

Lima provinsi dengan wilayah terbakar terluas adalah; Kalimantan Tengah dengan luas terbakar 161.297 ha, Kalimantan Barat 131.654 ha, Nusa Tenggara Timur 120.143 ha, Kalimantan Selatan 115.317 ha, dan Sumatera Selatan 92.635 ha.

Selain itu, terdapat 194.802 sebaran titik panas di sejumlah lokasi. Namun, paling banyak berada di Kalimantan tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, serta Riau.

"BNPB mencatat 194.802 sebaran titik panas di lima provinsi" jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Agus Wibowo di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Agus memaparkan, pada 2019 tercatat tingkat karhutla buatan manusia menjadi terbesar di Indonesia sejak 2015, yang mengeluarkan kabut tebal dan menyelimuti setidaknya delapan provinsi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: