Konstruksi Baja Ringan Rawan Setrum? Guru Besar ITB: Kayu Basah Juga Konduktor Listrik

TrubusNews
Syahroni
26 Jan 2020   13:30 WIB

Komentar
Konstruksi Baja Ringan Rawan Setrum? Guru Besar ITB: Kayu Basah Juga Konduktor Listrik

Pakar konstruksi sekaligus Guru Besar ITB, Prof.Ir. Iswandi Imran MA.Sc.,Ph.D. (Foto : Trubus.id/ Syahroni)

Trubus.id -- Netizen belum lama ini digemparkan dengan beredarnya video proses evakuasi jenazah seorang pria dari atap sebuah rumah. Dalam narasi yang menyertai video itu disebutkan bahwa pria yang tengah dievakuasi itu tewas karena tersengat aliran listrik. Yang meresahkan, keterangan yang mengikuti video ini menyebutkan, rumah itu menggunakan rangka baja ringan sehingga mudah teraliri arus listrik.

Setelah ditelusuri, peristiwa seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Tahun lalu, peristiwa serupa juga merenggut nyawa 2 orang lainnya. Penyebabnya pun sama, baja ringan yang terkena aliran listrik kemudian mengalir ke baja lainnya hingga menyengat ke orang di sekitarnya.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, benarkah rumah yang dibangun dengan kerangka baja ringan mudah teraliri listrik seperti narasi yang mengikuti video yang beredar kali ini?

Menanggapi hal itu, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof.Ir. Iswandi Imran MA.Sc.,Ph.D. menyebut, risiko tersengat aliran listrik bisa terjadi dengan material konstruksi apa saja. Bahkan material konstruksi dari kayu pun bisa menjadi konduktor listrik jika dalam kondisi basah. Karena itu ia menilai, peristiwa seperti yang terjadi belum lama ini sebenarnya bisa dihindari jika ada proteksi tersendiri pada sistem kelistrikan.

“Tak hanya baja ringan, semua jenis baja adalah konduktor listrik. Kayu juga kalau basah bisa dialiri listrik. Namun demikian agar tidak terulang tentunya kelistrikan harus punya sistem proteksi sendiri. Seharusnya dilakukan mengikuti ketentuan yang ada sehingga aman. Sebagai contoh, sekarang kan banyak ya ‘kabel kualitas tidak baik’, itu dihindari. Sebenarnya sudah ada ketentuan untuk instalasi listrik seperti itu. Masing-masing pihak baik dari konstruksi dan instalasi listrik terkait wajib mengikuti prosedur yang ada,” terang Iswandi ketika dijumpai di Hotel Century, Jakarta, Rabu (22/1).

Iswandi menambahkan, saat ini material baja sudah banyak digunakan di mana-mana. Dengan adanya kejadian ini ia mengatakan, bukan menjadi alasan untuk tidak menggunakan baja khususnya baja ringan. Pasalnya baja memiliki banyak kelebihan lain jika diaplikasikan sesuai dengan kebutuhannya. 

“Baja bahan cocok untuk bentangan-bentangan yang lebar, lebih ducktile dan lebih kuat. Terkait dengan durabilitas juga. Selain itu, sekarang kan juga sudah sulit mendapatkan kayu untuk material konstruksi karena kayu semakin ‘dilindungi’,” terangnya lagi. 

Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB itu menambahkan. Agar peristiwa tidak terulang, hal lain yang harus menjadi perhatian selain mengikuti ketentuan pemasangan adalah pentingnya perawatan secara berkala.

“Ini (perawatan berkala) kaitannya dengan durabilitas material. Harus dirawat secara berkala. Kabel listrik diperiksa kelayakannya, baja diperiksa kondisinya. Agar aman semuanya,” tutup Iswandi. 

Sementara itu, hal senada juga disampaikan Ketua ARFI (Asosiasi Roll Former Indonesia), Stephanus Koeswandi. Saat diwawancara terkait peristiwa ini, lulusan RMIT University, Melbourne, Australia ini menambahkan, perlu adanya edukasi agar konsumen dan aplikator baja ringan sadar akan pentingnya pemasangan instalasi listrik yang sesuai standar. Adapun cara mencegah risiko sengatan listrik dari atap baja ringan dengan cara sebagai berikut:

  1. Meletakkan instalasi di tempat aman
  2. Pilih material instalasi dengan kualitas terbaik
  3. Bungkus semua kabel listrik dengan pipa conduit
  4. Menyembunyikan sambungan kabel di dalam pipa T-dus
  5. Minta bantuan ahli untuk proses instalasi
  6. Matikan aliran listrik saat melakukan perbaikan di rumah yang menggunakan baja ringan.

Prosedur dan tip di atas berguna untuk meminimalisasi risiko rangka baja ringan dari aliran listrik. Rangka atap baja ringan itu aman asal instalasi listriknya sesuai standar. 

Stephanus kembali menjelaskan, sebenarnya peristiwa yang berkaitan dengan sengatan listrik juga kerap menimpa para pekerja baja ringan. Untuk itu seluruh anggota ARFI selalu mengimbau keselamatan pekerja konstruksinya. Selain itu, ARFI bekerja sama dengan Kementerian PUPR juga rutin memberi sertifikasi kepada para pekerja konstruksi baja ringan.

“Baja ringan kan ada 3 hal yang perlu ditekankan. Pertama bahannya harus benar, material harus benar. Ini diatur di SNI. Yang kedua design baja ringan. Desaign baja ringan berbeda dengan kayu. Karena itu pemasangannya juga berbeda. Dan yang ketiga pengerjaannya harus tepat. Artinya tukang baja ringannya harus berstandar. Yah harus tersertifikasi.” Tutup Stephanus.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Jokowi Ungkap 10 Provinsi Prevelensi Stunting Tertinggi

Peristiwa   05 Agu 2020 - 15:06 WIB
Bagikan:          
Bagikan: