Terparah di Dunia, Asap Karhutla Australia Tidak Menyebar ke Indonesia

TrubusNews
Binsar Marulitua
17 Jan 2020   20:00 WIB

Komentar
Terparah di Dunia, Asap Karhutla Australia Tidak Menyebar ke Indonesia

Ilustrasi Kebakaran Hutan (Foto : Binsar)

Trubus.id -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Australia diprediksi tidak akan mencapai Indonesia. Hingga Jumat 17 Januari 2020, karhutla yang terjadi di bagian selatan dan tenggara Negeri Kanguru tersebut terus meluas dan menjadi salah satu yang terparah di dunia. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal mengungkapkan, hasil analisis kondisi dinamika atmosfer pada awal hingga pertengahan Januari 2020, menunjukkan pergerakan penyebaran asap dominan terjadi di belahan bumi selatan.Asap ini menyebar dari Australia ke arah timur karena dipengaruhi oleh "polar jet stream". 

Baca Lainnya : Kaleidoskop 2019: Karhutla Buatan Manusia Terbesar Sejak 2015, Total 942.485 Ha Lahan Terbakar dan Kerugian Rp75 Triliun

"Polar Jet Stream yaitu aliran angin kencang pada sekitar 60 derajat Lintang Selatan dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam, yang bergerak konsisten ke arah timur," jelas Herizal dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta. 

Herizal menjelaskan, "Polar jet stream" ini telah membawa asap kebakaran hutan Australia menyeberangi Samudra Pasifik bagian selatan pada ketinggian atmosfer sekitar 16 Km, dan menyebar sampai ke negara Benua Amerika bagian selatan, antara lain Chili, Argentina, dan Uruguay.

Baca Lainnya : Sudah 52 Korporasi Pemegang izin Konsesi Disegel Terkait Karhutla, Luas Lahan Capai 8.931 Hektar

Hingga akhir Januari 2020, diperkirakan "polar jet stream" masih cukup kuat, sehingga potensi penyebaran asap masih dominan ke arah timur.

"Oleh karena itu, kecil kemungkinan asap kebakaran hutan Australia akan secara langsung menyebar ke wilayah Indonesia karena dinamika atmosfer Australia didominasi aliran angin kencang yang konsisten ke arah timur, dan di Indonesia sendiri dinamika atmosfer didominasi oleh angin baratan atau monsun Asia," tutupnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: