PVMBG Ungkap Pergerakan Tanah Penyebab Longsor Sukajaya Bogor

TrubusNews
Binsar Marulitua
17 Jan 2020   16:00 WIB

Komentar
PVMBG Ungkap Pergerakan Tanah Penyebab Longsor Sukajaya Bogor

Seorang petugas PVMBG melakukan pemeriksaan penyebab longsor longsor di Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian tersebut dilakukan sejak sejak tanggal 1 Januari hingga 10 Januari 2020. (Foto : PVMBG)

Trubus.id -- Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) melaporakan hasil pemeriksaan  kawasan longsor di Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang dilakukan oleh tim sejak tanggal 1 Januari hingga 10 Januari 2020. PVMBG menyebut faktor pergerakan tanah yang dipicu pergerakan tanah tinggi menjadi penyeba longsor. 

PVMBG melakukan pemeriksaan di beberapa titik lokasi gerakan tanah seperti di Jalan Cigudeg - Sukajaya, Desa Harkat Jaya yang meliputi Jalan Harkat Jaya - Urug, Kampung Sinar Harapan yang meliputi jalur Jalan Sukajaya - Pasir Madang, Desa Sukajaya, Sipayung, Jayaraharja, Sukamulih, Pasir Madang dan desa Pasir Madang.

"Hasil pengecekan ada faktor penyebab terjadinya gerakan tanah. Secara umum longsor di Kabupaten Bogor terjadi karena interaksi kondisi geologi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi," ucap Kepala PVMBG Kasbani dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Jumat (17/1/2019).

Baca Lainnya : BMKG Imbau Masyarakat Antisipasi Dampak Siklon Tropis Claudia Dua Hari ke Depan

Kasbani memaparkan, tanah pelapukan di kawasan itu yang bersifat sarang mudah meloloskan air. Sehingga longsoran terjadi pada batuan gunung api Endut (Qpv), tuf dan breksi terdiri dari tuf batu apung, breksi tufan, batu pasir tuf, lempung tufan dan batu pasir berlapis.

Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan batuan yang lebih segar sebagai bidang gelincir. Kelerengan yang curam bahkan beberapa tempat hampir tegak," tutur Kasbani.

Pada beberapa tempat. tambah KAsbani, juga terlihat kontak endapan gunung api dengan batu lempung (formasi Bojongmanik) dengan bidang pelapisan yang searah dengan kemiringan air sungai. Hal itu terlihat di longsor Harkat Jaya, Sipayung, Jayaharja, Sukamulih, Pasirmadang hingga masuk ke dalam daerah aliran sungai (DAS) Cidurian.

Baca Lainnya : KLHK Terapakan Penanganan Holistik Bencana Ekologis Tahun 2020

Sehingga, dampaknya banjir membawa material longsor dan batu di sepanjang Sungai Cidurian dan melanda pemukiman di kanan kiri Sungai Cidurian.

"Curah hujan 301.6 milimeter dalam satu hari juga sebagai pemicu," tambahnya.

Atas pemeriksaan tersebut, PVMBG juga memberikan beragam rekomendasi. Pasalnya curah hujan masih tinggi dan puncak musim hujan masih akan terjadi di wilayah Jawa Barat.

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih terdapatnya potensi longsoran susulan, PVMBG merekomendasikan penduduk bermukim di bawah longsoran, pemukiman yang rusak terlanda banjir dan longsor, sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman.

"Hindari aktivitas pada alur sungai dan alur sungai musiman. Meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan," himbaunya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: