BMKG Pastikan Tak Ada Zona Megathrust di Selat Makassar

TrubusNews
Astri Sofyanti
11 Jan 2020   14:00 WIB

Komentar
BMKG Pastikan Tak Ada Zona Megathrust di Selat Makassar

Ilustrasi - Logo BMKG (Foto : BMKG)

Trubus.id -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada zona Megathrust di Selat Makassar seperti informasi yang beredar di media sosial. Akhir-akhir ini ada pemberitaan viral yang menyebutkan bahwa di Selat Makassar terdapat zona megathrust yang mampu memicu gempa maha dahsyat. BMKG menegaskan bahwa informasi ini tidak benar.

“Megathrust adalah Istilah untuk menyebut sumber gempa di zona penunjaman lempeng, tepatnya lajur subduksi landai dan dangkal. Di selat Makassar tidak ada aktivitas penunjaman lempeng (pate subduction) tetapi yang ada adalah sumber gempa Makassar Strait Thrust yang artinya Sesar Naik Selat Makassar,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, Sabtu (11/1).

Dirinya menjelaskan bahwa Sulawesi merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks. Disebut seismik aktif karena wilayah ini memiliki tingkat aktivitas gempa yang tinggi. Disebut kompleks karena memiliki banyak sebaran sumber gempa dengan berbagai mekanisme.

Di Sulawesi, zona megathrust ini berhadapan dengan wilayah pesisir pantai utara Sulawesi Utara, Gorontalo, dan sebagian Sulawesi Tengah bagian utara. Megathrust Sulawesi Utara merupakan sumber gempa yang berpotensi memicu gempa kuat.

“Sulawesi memang rawan gempa, mengingat wilayahnya banyak terdapat sumber gempa. Namun demikian potensi gempa harus disampaikan kepada masyarakat apa adanya sesuai fakta tidak berlebihan hingga menimbulkan kecemasan masyarakat,” tambah Daryono.

Adanya potensi gempa dan tsunami di Sulawesi lanjut Daryono, tidak perlu membuat masyarakat kecil hati dan khawatir berlebihan. “Semua informasi terkait potensi gempa dan tsunami harus direspons dengan langkah nyata dengan upaya memperkuat mitigasi guna meminimalkan dampak,” bebernya kembali.

Diakuinya, berdasarkan catatan sejarah gempa dan tsunami menunjukkan bahwa di Pulau Sulawesi dan sekitarnya sejak tahun 1800 sudah terjadi lebih dari 69 kali gempa merusak dan tsunami. Peristiwa gempa merusak terjadi lebih dari 45 kali dan tsunami lebih dari 24 kali. Sebagaian besar gempa dan tsunami di Sulawesi dipicu oleh aktivitas sesar aktif, bukan aktivitas zona megathrust.

Dari sebanyak 24 kali tsunami di Sulawesi, yang dipicu oleh Megathrust Sulawesi Utara hanya 4 kali saja, yaitu Tsunami Utara Gorontalo 25 Agustus 1871 tidak ada korban jiwa, Tsunami Tolitoli 2 Februari 1904 tidak ada korban jiwa, Tsunami Kwandang-Manado 29 Januari 1920 tidak ada korban jiwa, dan Tsunami Tolitoli 1 Januri 1996 menyebabkan 9 orang meninggal dunia.
asyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa bisa tetap hidup dengan aman dan nyaman. Dia mengingatkan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat dan stakeholder terhadap potensi gempa.

"Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, China, dan Selandia Baru adalah contoh negara rawan gempa dengan sumber gempa yang aktif dan kompleks. Tetapi mereka berusaha memitigasinya hingga mereka menjadi negara maju dan terus berkembang," pungkasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Kohibora Fokus Hijaukan Kota Bogor Lewat Hidroponik

Peristiwa   04 Des 2020 - 15:14 WIB
Bagikan:          

Gubernur Bengkulu Ajak Seluruh Pihak Perkuat Kostratani

Peristiwa   04 Des 2020 - 13:49 WIB
Bagikan:          

Walikota Bogor Resmi Luncurkan Program Bogor Berkebun

Peristiwa   04 Des 2020 - 13:11 WIB
Bagikan: