Tanggulangi Banjir Jabodetabek, Kepala BNPB: Perlu Ketegasan Pemimpin Daerah

TrubusNews
Astri Sofyanti
02 Jan 2020   21:57 WIB

Komentar
Tanggulangi Banjir Jabodetabek, Kepala BNPB: Perlu Ketegasan Pemimpin Daerah

Kepala BNPB Doni Monardo pimpin rapar koordinasi dengan BMKG dan Kementerian Lembaga terkait penanganan banjirJabodetabek di Kantor BNPB, Jakarta, Kamis (2/1/20) (Foto : Biro Humas BNPB)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo berharap ada ketegasan para pemimpin daerah dalam mengingatkan masyarakat untuk mengungsi, melihat prediksi cuaca ekstrem yang masih akan terus terjadi hingga pertengahan Februari 2020.

Sebelumnya, cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir dibeberapa wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) menimbulkan banyak kerusakan serta korban jiwa sejak Selasa (1/1/20). Derasnya air yang memasuki permukiman dan fasilitas umum membuat sekitar 62.453 orang mengungsi di 308 titik pengungsian tersebar di 49 Kelurahan dan 34 Kecamatan Provinsi DKI Jakarta.

Walaupun banyak yang telah mengungsi, tidak sedikit juga warga yang tetap memilih tinggal dan bertahan di rumah mereka untuk menjaga harta benda serta rumah masing-masing. Namun ketika memilih untuk bertahan di rumah, kebutuhan makanan, minuman, air bersih serta pakaian menjadi terbatas.
 
“Sangat diharapakan ketegasan para pemimpin daerah untuk mengingatkan masyarakat. Harta penting tetapi nyawa lebih penting,” kata Doni ketika menggelar Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Banjir Jabodetabek di Kantor BNPB, Jakarta, Kamis (2/1/20).

Doni mengatakan, belajar dari pengalaman di Konawe Utara, Bupati dan Kepala Dinas, Camat serta Kepala Desa memaksa penduduknya untuk evakuasi dan mengungsi sementara sehingga ketika air hujan dan air bah datang, rumah mereka hanyut terbawa arus namun korban tidak ada.

Tidak hanya pemimpin daerah, Doni juga menegaskan bahwa merupakan tugas media sebagai salah satu komponen Pentahelix untuk terus mengingatkan masyarakat melalui pemberitaan, termasuk mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG.

Pada Rakor tersebut, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan analisis BMKG yang memprediksi tanggal 5 – 10 Januari 2020 akan masuk aliran udara basah dari arah Samudera Hindia sebelah barat pulau Sumatera disepanjang ekuator yang berdampak meningkatnya intensitas curah hujan menjadi lebih ekstrem, sehingga masih akan berpotensi hujan ekstrem di wilayah Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi sampai Lampung, termasuk Jawa, tentunya Jabodetabek.

Kemudian aliran masih berjalan pada tanggal 10-15 Januari 2020 akan bergerak ke Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara. Fenomena ini dapat meningkatkan kembali intensitas curah hujan dan merupakan siklus, yang diprediksi terjadi lagi di akhir Januari sampai awal Februari (jangka waktu sekitar 3-5 hari) dan akan terulang lagi pada pertengahan Februari.

“Siklus ini perlu diantisipasi sejak dini dan dipersiapkan mitigasinya,” papar Dwikorita.

Mengingat hal tersebut, Doni mengimbau bagi masyarakat yang berada di tempat relatif rendah atau dulu pernah menjadi kasawan penimbunan harus terus diwaspadai karena air akan kembali mencari tempat semula.

“Untuk yang tinggal dekat daerah aliran sungai diusahakan jangan ada di rumah dan mengikuti arahan tim evakuasi untuk mengungsi di posko yang telah tersedia,” pungkas Doni.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Wujudkan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Akuaponik

Inovasi   06 Agu 2020 - 14:10 WIB
Bagikan:          
Bagikan: