Potensi Karhutla 2020 Menurun, Begini Penjelasan BMKG

TrubusNews
Astri Sofyanti
31 Des 2019   21:00 WIB

Komentar
Potensi Karhutla 2020 Menurun, Begini Penjelasan BMKG

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati memprediksi, intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan menurun pada 2020. Sebelumnya BMKG memprediksi bahwa musim kemarau tahun depan tidak sepanjang musim kemarau 2019.

Hal ini berdasarkan analisis dari BMKG, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan National Aeronautics and Space Administration (NASA). "Diprediksi tidak akan terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, yang panjang seperti tahun lalu," demikian dikatakan Dwikorita di Jakarta, Senin (30/12/19).

Kondisi ini menurutnya dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, tidak terdapat indikasi fenomena perbedaan signifikan suhu air laut antara Samudera Hindia di sebelah barat daya Pulau Sumatera dengan sebelah Timur Afrika.

"Sehingga bisa dikatakan suhu permukaan air laut di Indonesia juga normal. Artinya diprediksi seperti itu (diprediksi kemarau tidak panjang)," ucapnya.

“BMKG memprediksi karhutla 2020 menurun, sebab ada korelasi dengan musim kemarau. Apabila kita antisipasi lebih lanjut, Insya Allah kami harapkan kecenderungan akan semakin menurun," sambungnya.

Lebih lanjut diakuinya, antisipasi yang dimaksud yaitu dengan memantau potensi kebakaran hutan dan lahan secara bertahap dimulai dari pencatatan hari tanpa hujan. Jika suatu wilayah selama 10 hari tidak turun hujan, maka ini perlu diwaspadai terlebih di wilayah-wilayah yang berisiko tinggi terjadi karhutla.

“Kami terus memantau kejadian dan potensi karhutla melalui satelit Himawari. Kami turunkan dalam bentuk deteksi titik-titik panas. Tapi titik panas yang terpantau bukan berarti akan menjadi titik api. Tapi tetap perlu kita waspadai," papar Dwikorita kembali.

Berdasarkan analisis BMKG dan dua lembaga di atas, diprediksi bahwa El Nino pada 2020 pertumbuhannya netral. Kondisi seperti ini, ujar Dwikorita, terjadi hingga Juni 2020.

"Jadi prediksi ini berlaku sampai Juni. Kondisinya netral," tambahnya.

Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan musim kemarau pada 2020 diperkirakan akan dimulai pada April dan berakhir pada Oktober. Ia menekankan bahwa hal ini tidak akan terjadi secara serempak "Mulainya dan berakhirnya juga tidak serempak. Mulai April terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan nusa Tenggara," pungkas Dwikorita.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: