KLHK Klaim Industri Kehutanan Bantu Jaga Keanekaragaman Hayati pada COP25 di Spanyol

TrubusNews
Binsar Marulitua
11 Des 2019   14:00 WIB

Komentar
KLHK Klaim Industri Kehutanan Bantu Jaga Keanekaragaman Hayati pada  COP25 di Spanyol

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSADE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno (Kedua dari kiri) saat memerima sertifikat di Paviliun Indonesia pada Konferensi Pengendalian Perubahan Iklim COP25 UNFCCC, di Madrid, Spanyol, Senin (9/12/2019). (Foto : KLHK)

Trubus.id -- Industri kehutanan mendukung upaya melindungi dan meningkatkan kelestarian flora dan fauna. Caranya dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi, sosial dan konservasi.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSADE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno menyatakan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk konservasi termasuk pelaku usaha sangat strategis, penting, dan mendesak, terutama di Sumatera dan Kalimantan. 

Indonesia telah mengalokasikan kawasan konservasi yang sangat luas, mencapai 27,14 juta hektare, di mana terdapat sekitar 6.203 desa yang berbatasan langsung, dengan sedikitnya 9,5 juta jiwa yang hidup di dalam dan sekitar kawasan tersebut.

"Di sisi lain, masih banyak potensi flora dan fauna yang dilindungi berada di luar kawasan konservasi tersebut. Misalnya, sekitar 70% mamalia besar yang dilindungi, di Sumatera dan Kalimantan berada di luar kawasan konservasi," kata Wiratno saat sesi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Pengendalian Perubahan Iklim COP25 UNFCCC, di Madrid, Spanyol, Senin (9/12/2019).

Baca Lainnya : Perhutanan Sosial Tersendat, Jokowi Tegur KLHK dan Perhutani

Wiratno menyatakan, oleh karena itu kegiatan konservasi tidak bisa dibatasi hanya di kawasan konservasi saja. Perlu menjalankan program konservasi in-situ atau di dalam habitat maupun ex-situ atau di luar habitatnya. Konservasi keanekaragaman hayati memerlukan kombinasi in-situ dan ex-situ. 

Sebagai contoh konservasi badak sumatera dengan program Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di TN Way Kambas, telah berhasil melakukan breeding, dan akan dibangun sanctuary badak baru, misalnya di TN Gunung Leuser.

Direktorat Jenderal KSDAE, melalui Balai TN dan Balai KSDA terus melakukan pengamanan kawasan dengan model Smart Patrol. Kegiatan patroli ini dilakukan selama 10-15 hari/bulan di dalam kawasan konservasi bersama mitra-mitra kunci, untuk melakukan monitoring, pemasangan camera dan atau video trap, membersihkan jerat, mencegah konflik satwa liar-manusia, rescue satwa-satwa yang terkena jerat atau terluka karena diburu.

"Kami juga terus melakukan upaya penegakan hukum terhadap pelaku perburuhan satwa liar, dan saat ini kami terus mendapatkan dukungan yang kuat dari Direktorat Gakkum KLHK beserta jajaran di Kepolisian, Pengadilan, dan Kejaksaan di semua level, dalam memproses hukum terhadap pemburu dan pedagang satwa liar," ujar Wiratno.

Keberhasilan konservasi insitu dan exsitu, lanjut Wiratno, dapat dilihat di Pusat Rehabilitasi elang jawa di CA Kamojang bekerjasama dengan Pertamina Geothermal, dan monitoring secara kontinyu pada habitatnya, sehingga diprediksi populasinya meningkat. 

Sedangkan keberhasilan konservasi badak Jawa di TN Ujung Kulon ditandai dengan lahirnya 4 individu badak (2 jantan dan 2 betina) pada tahun 2018 dan 4 individu badak (2 betina, 1 jantan, 1 individu belum diketahui). Keberhasilan konservasi ex-situ juga dibuktikan pada keberhasilan penangkaran jalak Bali yang saat ini telah ratusan ekor berhasil dikembalikan ke kawasan TN Bali Barat.

"Kami tidak bisa sendiri. Kami akan terus berupaya membangun kolaborasi yang lebih intensif dg semua pihak, swasta, universitas, perguruan tinggi, pakar, LSM, aktivis, generasi muda milenial, pemerintah daerah, dan media massa, dalam upaya mitigasi dan adaptasi dalam rangka melestarikan satwa liar kebanggaan Indonesia dan dunia," tegas Wiratno.

Baca Lainnya : Pemerintah Sediakan Lahan untuk Koperasi Melalui Rerforma Agraria dan Perhutanan Sosial

Pada kesempatan yang sama, Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas, Elim Sritaba menyatakan, meski bekerja di kawasan produksi, pihaknya mengalokasikan 600.000 hektare untuk tujuan konservasi. Luas tersebut hampir seperempat total luasan konsesi para pemasok APP Sinar Mas.

“Hutan dan ekosistemnya memiliki nilai konservasi yang tinggi dan karbon stok tinggi, sehingga untuk menjaga kelestariannya, kami selalu berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah setempat dan rekan-rekan LSM serta akademisi, untuk menjaga dan mengelola kawasan lindung tersebut, agar mendapatkan solusi terbaik,” ujar Elim. 

Elim menuturkan, untuk melindungi area konservasi yang luas, APP Sinar Mas memanfaatkan teknologi satelit, Forest Alert Services (FAS), untuk memantau keadaan tutupan hutan. Dengan data tersebut, APP Sinar Mas dapat dengan cepat mengetahui dan melakukan intervensi jika diperlukan apabila ada gangguan yang mungkin mengancam sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. 

Selain itu, sebagai bagian dari komitmen APP Sinar Mas dalam Sustainability Roadmap Vision 2020, juga melakukan restorasi di area yang terdegradasi. “Kami memiliki target untuk meningkatkan kualitas tutupan hutan menjadi 95% dalam kondisi baik di kawasan lindung kami dalam lima tahun ke depan. Termasuk pengayaan untuk melestarikan jenis pohon lokal dengan spesies langka,” ujar Elim. 

Namun, tambahnya, kehidupan satwa liar tidak mengenal batas-batas wilayah antara wilayah konsesi maupun taman nasional. “Inilah mengapa perusahaan menyesuaikan SOP operasionalnya dengan memperhatikan pergerakan satwa liar, konsisten melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi pekerja dan masyarakat, serta memastikan kantong makanan bagi satwa kunci tersebut sehingga mereka dapat bergerak bebas dan aman,” tambah Elim. 

Presiden International Co-ordinating Council of the Man and Biosphere UNESCO Profesor Enny Sudarmonowati, menegaskan bahwa upaya berkesinambungan harus terus dilakukan. 

“Pengelolaan suatu kawasan berupa cagar biosfer dapat menjadi salah satu solusi yang mengintegrasikan 3 pilar yaitu konservasi, pembangunan berkelanjutan dan logistic support berupa riset dan monitoring serta edukasi” ujar Enny.

“COP25 diharapkan membuka peluang kerja sama yang semakin luas dalam upaya konservasi dengan melibatkan peneliti-peneliti handal untuk melakukan inovasi yang terus meningkat dan membawa nilai tambah untuk masyarakat serta negara, sekaligus tetap mempertahankan nilai konservasinya,” tambah Enny. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Kemenkes Catat 26 Provinsi Indonesia Masih Endemik Rabies

Peristiwa   30 Sep 2020 - 17:58 WIB
Bagikan: