Sebabkan 10 Orang Meninggal, LIPI Ajak Masyarakat Kenali dan Waspadai Serangan Tawon Vespa

TrubusNews
Astri Sofyanti
05 Des 2019   14:00 WIB

Komentar
Sebabkan 10 Orang Meninggal, LIPI Ajak Masyarakat Kenali dan Waspadai Serangan Tawon Vespa

Peneliti tawon dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hari Nugroho ketika menunjukkan sarang tawon Vespa yang dikoleksi LIPI di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat, Kamis (5/12) (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Serangan tawon Vespa terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Klaten melaporkan sejak 2017 sampai November 2019 tercatat 10 korban meninggal dunia akibat serangan tawon mematikan ini. Sementara untuk korban luka-luka yang dirawat di rumah sakit akibat serangan tawon Vespa lebih dari 250 orang yang tersebar di wilayah Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, Demak, Semarang, Pemalang, Tegal, dan Kudus.

Kepala Bidang Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi mengungkapkan, tawon Vespidae secara umum merupakan satwa predator meskipun tawon cenderung tidak agresif dan menyerang, kecuali diganggu atau merasa terganggu. Munculnya fenomena sengatan tawon ke kawasan pemukiman perlu ditangani secara bijak.

“Upaya pengendalian ledakan populasi (outbreak) permasalahan dan penanganan satwa sudah menjadi salah satu arah kegiatan penelitian LIPI untuk menjaga keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem dan ekologi,” jelas Cahyo di Gedung Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat, Kamis (5/12).

Sementara itu, Peneliti tawon dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hari Nugroho, menjelaskan untuk melakukan penanganan dan pengendalian tawon perlu dilakukan secara tuntas hingga akar permasalahan. “Pembasmian sarang tidak menjamin lingkungan terbebas dari sarang tawon, bisa jadi malah menimbulkan permasalahan ekologi,” ujar Hari.

Dirinya menjelaskan, kecenderungan banyaknya sarang tawon di daerah pemukiman bisa disebabkan hilangnya habitat alami tawon imbas pengalihan tata guna lahan, berkurangnya musuh alami atau predator tawon, perubahan iklim global dan faktor sumber makanan.

“Penyebab di atas diperkirakan menjadi penyebab berpindahnya populasi tawon ke daerah pemukimansehingga menyebabkan meningkatnya potensi konflik antara tawon dengan manusia yang seringkali mengakibatkan jatuhnya korban jiwa,” tambahnya.

Hari menjelaskan, sengat pada tawon betina berfungsi utama sebagai alat berburu mangsa, namun juga digunakan sebagai alat penahanan diri terakhir terhadap gangguan atau ancaman.

”Pada saat tawon menyengat, akan diikuti dengan dikeluarkannya zat kimia feromon yang berfungsi sebagai alarm bagi kawanannya bahwa ada ancaman terhadap koloni. Alarm ini akan mengundang tawon-tawon lain dalam satu koloni untuk ikut menyengat,” sambung Hari.
 
Dirinya menjelaskan, satu tawon bisa menyengat beberapa kali, berbeda dengan lebah madu yang hanya bisa menyengat satu kali. "Biasanya satu individu yang menyengat pertama mengeluarkan feromon berbahaya yang disebut attack pheromone dengan maksud untuk mengundang individu-individu lain dari satu koloni untuk ikut menyengat bersama sama " tambahnya lagi.

Dosis kecil dari sengatan satu atau dua ekor tawon mungkin hanya akan menimbulkan reaksi alergi lokal dengan gejala bengkak, rasa sakit, gatal. Jika tawon yang menyengat berjumlah banyak, maka bisa menyebabkan anafilaksis (reaksi alergi berat), cedera ginjal akut (Acute Kidney Injury), Rhabdomyolysis, gagal ginjal serta kegagalan multi organ lainnya.

“Apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat akan mengakibatkan kematian,” pungkasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: