Dosen IPB University Ajarkan Higienitas dan Sanitasi Pangan Asal Hewan di Dramaga

TrubusNews
Thomas Aquinus
05 Des 2019   11:30 WIB

Komentar
Dosen IPB University Ajarkan Higienitas dan Sanitasi Pangan Asal Hewan di Dramaga

Pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University berbagi ilmu kepada warga Kecamatan Dramaga tentang higiene dan sanitasi pangan asal hewan (Foto : IPB University)

Trubus.id -- Tiga pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University berbagi ilmu kepada warga Kecamatan Dramaga tentang higiene dan sanitasi pangan asal hewan bertempat di Aula Kecamatan Dramaga, Bogor beberapa waktu lalu. Program Dosen Mengabdi yang merupakan bagian dari Stasiun Lapang Agrokreatif (SLAK) 2019 ini digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University.

Dosen Mengabdi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh dosen IPB University dalam rangka pengabdian kepada masyarakat guna pengembangan, diseminasi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan bangsa.  Ketiga dosen dari Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Dr med vet drh Denny Widaya Lukman,  Dr med vet Drh Hadri Latif dan Dr drh Safika.

Dalam paparannya, Dr Denny menyampaikan tentang penerapan higiene sanitasi dan pemilihan pangan asal hewan yang aman dan layak. Higiene adalah seluruh tindakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian penyakit yang merugikan kesehatan, sedangkan sanitasi adalah seluruh tindakan untuk menciptakan kondisi yang menyehatkan dan bersih.

Baca Lainnya : IPB University Ciptakan Ashpotter, Pembersih Limbah Tambak Udang

“Kedua prinsip ini dalam usaha produksi makanan wajib diterapkan pada bangunan dan fasilitas, peralatan yang kontak dengan makanan, orang yang menagani makanan, dan proses produksi makanan. Saat ini banyak informasi terkait daging ayam dan telur yang menyesatkan beredar di media sosial. Apakah daging ayam (broiler) disuntik hormon sehingga cepat tumbuh? Jawabannya tidak,” terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima Trubus.id

Ayam broiler merupakan hasil teknologi rekayasa yang memungkinkan ayam cepat tumbuh. Selain itu, dengan pemberian pakan yang diatur formulasinya maka pertumbuhan menjadi optimum.

“Apakah ada telur palsu?” Jawabannya tidak ada dan tidak pernah ada. Telur adalah ciptaan Tuhan untuk menjadi alat keturunan unggas, oleh sebab itu telur diciptakan dengan baik dan perlindungan yang relatif kuat,” tambahnya.

Sementara itu, Dr Hadri menjelaskan tentang penanganan pangan asal hewan yang aman dan layak. Menurutnya, daging boleh dicuci, jika kotor, menggunakan air bersih, lalu tiriskan dan dapat langsung dimasak. Jika ingin disimpan, maka simpan pada suhu dingin atau beku untuk menjaga kesegaran, mencegah perkembangan kuman, dan mencegah busuk.

Baca Lainnya : 15 Mahasiswa Himakua IPB University Lakukan Pembinaan Budi Daya Ikan Nila Nirwana

“Telur boleh dicuci jika permukaan kulit telur kotor menggunakan air bersih lalu tiriskan atau keringkan dengan tisu bersih. Telur disimpan dalam kulkas dengan bagian tumpul mengarah ke atas. Ada empat langkah keamanan pangan yaitu bersih, pisahkan, panaskan, dan dinginkan,” tuturnya.

Pemaparan materi oleh Dr Safika adalah tentang pengomposan kotoran ternak. Materi yang disampaikan adalah mengenai limbah ternak, proses pengomposan, dan cara pembuatan kompos. Masyarakat mendapatkan penjelasan tentang manfaat kompos dan cara pembuatan kompos dari limbah ternak seperti kotoran sapi, domba, dan kambing. Adapun manfaat pengomposan yang berasal dari kotoran hewan antara lain adalah menghilangkan mikroorganisme patogen, menghilangkan bau, mengurangi kelembaban dan kadar air, serta mengubah amonia yang tidak stabil ke bentuk organik yang stabil, disamping jumlah mikroba yang stabil.

Baca Lainnya : Kenalkan Akuakultur kepada Masyarakat, Mahasiswa IPB University Lakukan Rangkaian Kegiatan

Dr  Safika menambahkan, ciri kompos yang baik yaitu berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah, tidak larut dalam air meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi, berefek baik jika diaplikasikan pada tanah, suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan tidak berbau.

“Dengan adanya kegiatan dosen mengabdi ini, diharapkan masyarakat mampu memanfaatkan limbah ternak menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk mencegah pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan pada masyarakat di sekitar peternakan,” ujarnya. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Tiga Cagar Biosfer Indonesia Diakui UNESCO

Peristiwa   31 Okt 2020 - 14:05 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Presiden Jokowi Ajak Pemuda Tekuni Pertanian

Peristiwa   31 Okt 2020 - 11:55 WIB
Bagikan: