Terima Dewan Bisnis Uni Eropa-ASEAN, Presiden Jokowi Kritik Diskriminasi Kelapa Sawit Indonesia

TrubusNews
Binsar Marulitua
29 Nov 2019   13:30 WIB

Komentar
Terima Dewan Bisnis Uni Eropa-ASEAN, Presiden Jokowi Kritik Diskriminasi Kelapa Sawit Indonesia

Presiden Jokowi didampingi sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju menerima delegasi Dewan Bisnis Uni Eropa-ASEAN, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (28/11/2019) (Foto : Agung/Humas Setkab)

Trubus.id -- ble cellpadding="0">

Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju menerima delegasi Dewan Bisnis Uni Eropa- ASEAN atau EU-ASEAN Business Council, yang dipimpin Donald Kanak,  di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Dalam sambutannya Jokowi mengatakan, hubungan antara Indonesia dengan Uni Eropa sejauh ini berjalan baik. Kedua pihak memiliki posisi yang sama dalam banyak masalah global. Selain itu, kedua pihak menghormati huum dan prinsip internasional.

Namun Jokowi mengakui, dari sisi ekonomi Indonesia dan Uni Eropa mengalami batu sandungan. Ia menyebutkan, Indonesia terus-menerus menerima diskriminasi dalam hal kebijakan maupun dari perusahaan-perusahaan Eropa.

“Data dan informasi yang kami sampaikan dan produsen minyak sawit lainnya tidak mendapat perhatian dari UE,” katanya.

Baca Lainnya : Volume Ekspor Minyak Sawit Capai 2,891 Juta Ton pada Agustus 2019


Jokowi melanjutkan, Indonesia tidak akan tinggal diam dengan diskriminasi ini. Ia memastikan, negosiasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-UE akan terus berlanjut, kelapa sawit pasti akan menjadi bagian darinya.

“ASEAN dan UE telah sepakat untuk membentuk kelompok kerja minyak kelapa sawit. Saya berharap, kelompok kerja dapat berkontribusi untuk menyelesaikan masalah kelapa sawit,” tambahnya.

Baca Lainnya : Presiden Jokowi Dorong Perlunya Terobosan soal Energi Terbarukan di ASEAN-ROK

Sebelumnya saat mengawali sambutannya, Kepala Negara menyampaikan, dirinya baru saja kembali dari Korea Selatan untuk menghadiri KTT ASEAN-Korea dan pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. KTT dan pertemuan bilateral ini terutama berfokus pada bisnis dan investasi.

“Melalui diskusi dengan kalangan bisnis, ada harapan yang tinggi untuk memperkuat kemitraan ASEAN,”ungkapnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut  menilai hal itu tidak mengejutkan karena ekonomi ASEAN saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada rata-rata pertumbuhan ekonomi global.

Mengutip Managing Director International Monetery Fund (MF) Kristalina Georgieva, Presiden Jokowi mengatakan, ASEAN adalah titik terang dalam perekonomian dunia. Di saat negara-negara maju menghadapi masyarakat yang menua, ASEAN menikmati dividen demografi.

“Ketika beberapa negara maju memilih proteksionisme, ASEAN terus membuka ekonominya. Ekonomi ASEAN akan terus tumbuh selama pemeliharaan ekosistem perdamaian seperti selama 52 tahun terakhir. Bermitra dengan ASEAN adalah kemitraan yang bermanfaat,” terangnya. 


 Jokowi berharap para pebisnis dari negara-negara Eropa memiliki pandangan yang sama termasuk dari Uni Eropa (UE). “Bisnis dari UE tidak asing dengan ASEAN namun tekad dan langkah pebisnis Eropa masih tertinggal di belakang mitra ASEAN-nya,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi didampingi oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

   

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Jokowi Perintahkan Perkuat Ekonomi Desa di Tengah Pandemi

Peristiwa   25 Sep 2020 - 09:39 WIB
Bagikan:          
Bagikan: