BRG Tetap Waspada Prediksi El Nino Mencapai 80 Persen pada 2020

TrubusNews
Binsar Marulitua
26 Nov 2019   11:57 WIB

Komentar
BRG Tetap Waspada Prediksi El Nino Mencapai 80 Persen pada 2020

Kepala BRG Nazir Foead saat memberikan pemaparan dalam pertemuan ilmiah nasional di Jakarta, 26 November 2019 (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG)  Nazir Foead mengatakan, tetap mewaspadai potensi El Nino kuat pada tahun 2020, meskipun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), NASA, NOAA, Badan Meteorologi Jepang memprediksi hanya terjadi El Nino lemah. 

Perihal tersebut dijelaskan saat memberikan pemaparan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional yang dengan tajuk "Restorasi Kesatuan Hidrologis Gambut Berbasis Integrasi Pengetahuan dan Inovasi Teknologi" di Jakarta,  26 November 2019. 

"Beberapa minggu yang lalu ada peneliti independen dari Jerman yang mengungkapkan metode yang berbeda.  Peneliti tersebut mengungkapkan ada kemungkinan El Nino terjadi sampai 80 persen. Jadi kami tetap mewaspadai pencegahan kebakaran hutan dan lahan 2019 terulang kembali," jelas Nazir Foead  kepada 139  peserta dari berbagai Lembaga Negara,Institusi Pemerintah, Lembaga Penelitian, Peneliti Lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat serta Universitas di Indonesia.

Nazir Foead menjelaskan, Pertemuan Ilmiah Nasional ini digagas untuk mendiskusikan integrasi pengetahuan dan inovasi teknologi terkait neraca air dan tata kelola air ekosistem gambut sebagai dukungan ilmiah restorasi berbasis Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). 

Selain itu pertemuan ilmiah ini untuk meningkatkan kerja riset interdisipliner, orientasi untuk solusi berkelanjutan. 

Baca Lainnya : El Nino 2019 Usai, BMKG Ramal El Nino Kuat pada 2020 Nihil

Nazir berharap, hasil dari pertemuan ilmiah bisa memberikan dukungan konkret bagi upaya pengelolaan ekosistem gambut dalam suatu KHG.

Pasalnya, restorasi KHG mempunyai basis ilmiah yang kuat yang didapat melalui kerja sama riset terpadu dan berkesinambungan.

“Apalagi restorasi lahan gambut yang melibatkan semua pemangku kepentingan dalam satu hamparan KHG agar ada pemahaman yang sama perihal tata kelola air di lahan gambut.” tambahnya. 

Nazir menyebutkan, untuk memulihkan ekosistem gambut perlu pendekatan yang komprehensif, holistik, dan integratif dalam penggunaan lahan gambut di samping program teknis 3R (Rewetting, Revegetation, dan Revitalization). 

Selain itu, para pemangku harus mendukung dan berpartisipasi dalam proses perbaikan ekosistem gambut di KHG. 

Baca Lainnya : Siklus El Nino Datang Lebih Cepat, Potensi Karhutla Indonesia Meningkat

Peranan riset krusial dalam merestorasi lahan gambut di Indonesia. Apalagi topik pembahasan dalam pertemuan ini dipilih berdasarkan pendekatan 3R seperti isu restorasi KHG berkelanjutan, sintesis pembelajaran riset aksi hidrologi, sintesis pembelajaran revegetasi, sintesis sosial, ekonomi, antropologi, dan kebijakan, serta sintesis dan pembelajaran restorasi gambut terintegrasi.

“Kami optimistis hasil pertemuan ilmiah ini dapat dimanfaatkan dan diformulasikan dalam bentuk naskah yang dibukukan untuk pengelolaan integratif ekosistem KHG yang berkelanjutan. Diharapkan bahwa restorasi KHG dapat dilaksanakan dengan dukungan pengembangan pengetahuan dan inovasi riset dari berbagai pihak agar kelestarian ekosistem gambut tropis Indonesia terjaga,” pungkasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

LIPI Dorong Pembentukan Desa E-Commerce

Peristiwa   13 Des 2019 - 15:23 WIB
Bagikan: