Pengusaha UMKM Siap Tinggalkan Penggunaan Sampah Limbah Plastik Impor Sebagai Bahan Bakar Produksi

TrubusNews
Binsar Marulitua
25 Nov 2019   12:14 WIB

Komentar
Pengusaha UMKM Siap Tinggalkan Penggunaan  Sampah Limbah Plastik Impor Sebagai Bahan Bakar Produksi

Sampah limbah plastik impor yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar produksi UMKM Tahu dan Tempe (Foto : KLHK)

Trubus.id -- Tim dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK sudah diperintahkan untuk terus meningkatkan pengawasan di lapangan terkait terbitnya kajian mengenai kandungan dioxin pada tahu dan telur ayam di Jawa Timur. 

Hal tersebut sebagai dampak dari penggunaan bahan bakar produksi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menggunakan sampah limbah plastik impor.

"Saya minta bantuan para ahli untuk melakukan riset di dua desa tersebut. Khususnya untuk isu dioxin yang sudah meresahkan masyarakat. Kita lihat nanti kebenarannya dari hasil studi,'' tegas Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya pada media, Senin (25/11/2019).

Baca Lainnya : KLHK Gali Kebenaran Tahu dan Telur Terkontaminasi Dioxin
 
Pemanfaatan sampah plastik impor oleh UMKM ini menjadi perhatian serius pemerintah. Atas perintah Menteri LHK Siti Nurbaya, pada akhir pekan lalu, KLHK memimpin tim khusus merespons dugaan kontaminasi dioksin sebagai dampak penggunaan sampah plastik impor untuk bahan bakar pembuatan tahu dan telor.

Ikut dalam tim ini para peneliti dari BPPT, Fakultas Teknis Kimia ITS, Universitas Airlangga dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo.

Mereka mengunjungi Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Dari tinjauan lapangan, unit usaha masyarakat memang masih menggunakan bahan bakar dari sampah plastik. 

Saat kunjungan tim ke lokasi, jumlah tumpukan sampah plastik untuk bahan bakar sudah berkurang dibandingkan dengan kondisi pada bulan Juli 2019 lalu. Ditengarai pasokan sampah ini berkurang karena langkah re-ekspor, perubahan regulasi, serta pengawasan yang semakin ketat oleh Pemerintah.

Pengusaha UMKM juga menyadari bahwa bahan bakar dari sampah plastik tersebut berdampak pada lingkungan dan masyarakat. 

Para pelaku usaha mengaku siap beralih dari bahan bakar sampah plastik menjadi bahan bakar kayu atau alternatif lainnya. Terlebih lagi sudah ada penggunaan insinerator yang teknologi-nya sudah ramah lingkungan. 

Pemerintah akan mempelajari ini, termasuk bila harus memberikan dukungan fasilitas oleh bagi industri UMKM. Dukungan fasilitas ini bisa dari KLHK, Kementerian Perindustrian, KemenKopUMKM, atau bahkan dari Pemda.

Baca Lainnya : KLHK Telah Reekspor 883 Kontainer Sampah Plastik

''Semuanya bisa membantu, yang penting industri masyarakat tetap harus berjalan baik dengan tetap ramah lingkungan,'' kata Menteri Siti.

Untuk mengatasi masalah sampah yang masih menjadi persoalan di tengah masyarakat, pemerintah terus melakukan pengelolaan, salah satunya dengan menerapkan prinsip 3R (reuse, reduce, dan recycle).

''Pemerintah dan Pemda bekerja serius untuk itu. Saya juga tau bahwa dukungan masyarakat dan para aktivis terkait sampah cukup besar. Ini menjadi modal kekuatan kita menyelesaikan masalah sampah,'' katanya.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: