Kepala BNPB Ajak Masyarakat Sulbar Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Melalui Katana

TrubusNews
Astri Sofyanti
21 Nov 2019   21:22 WIB

Komentar
Kepala BNPB Ajak Masyarakat Sulbar Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Melalui Katana

Kepala BNPB Doni Monardo ketika memberikan penjelasan dan pengetahuan kebencanaan di hadapan Forkopimda dan mitra penanggulangan bencana di Sulawesi Barat, Kamis (21/11) (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyampaikan kesiapsiagaan harus tumbuh di dalam keluarga masyarakat Sulawesi Barat (Sulbar). Hal tersebut merespon informasi yang disampaikan Gubernur Ali Baar Masdar, Kamis (21/11) di Mamuju, Sulawesi Barat.

Katana merupakan kepanjangan dari 'keluarga tangguh bencana.' Konsep ini merupakan bagian dari Desa Tangguh Bencana atau destana. BNPB akan menandai program Katana pada awal Desember nanti, yang akan diselenggarakan di Gua Eek Leuntie, Aceh.

"Dalam 5 tahun ke depan, kami mengharapkan warga menjadi tangguh menghadapi ancaman bahaya sesuai dengan karakter di wilayahnya," kata Doni yang memberikan penjelasan dan pengetahuan kebencanaan di hadapan Forkopimda dan mitra penanggulangan bencana di Sulbar.

Menurutnya, upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan sangat penting menjadi bekal masyarakat Sulbar dalam konteks potensi bahaya setempat. Di sisi lain Gubernur Masdar menyampaikan bahwa wilayahnya paling tidak memiliki 10 potensi ancaman bahaya, seperti gempa, banjir, kekeringan dan longsor.

"Sepanjang 2002 hingga 2017, sebanyak 85 bencana terjadi yang mengakibatkan 242 meninggal dunia," jelas Masdar.

Selama periode tersebut, provinsi dengan luas 1.671.850 ha dan 6 kabupaten didominasi dengan bencana kekeringan dan cuaca ekstrim. Pada kajian risiko 2015, BPBD setempat mengidentifikasi adanya 10 potensi bahaya yang dapat berdampak pada provinsi berpopulasi 1,2 juta jiwa ini.

Sehubungan dengan potensi bahaya, khususnya gempa, Doni mengatakan bahwa di wilayah Sulbar pernah terjadi beberapa kali peristiwa yang pernah tercatat oleh NOAA. Gempa yang tercatat dalam periode waktu dari 1815 hingga 1969 memicu 5 kali tsunami. Tsunami yang pernah terjadi tidak hanya dipicu oleh aktivitas tektonik, seperti gempa M7,9 di Pulau Togeon pada 1968 tetapi juga vulkanik pada 1815.

Gubernur Masdar sepakat bahwa kesiapsiagaan penting bagi warganya dengan berbagai upaya. Pihaknya juga menyampaikan pelatihan yang telah diselenggarakan di wilayahnya setidaknya dua kali dalam setahun.

Menyikapi hal tersebut, Doni memberikan apresiasi terhadap Gubernur dan jajaran. Doni mengatakan, "BPBD telah berbuat sesuatu. Ini membangkitkan semangat di antara masyarakat untuk membangun ketangguhan." Terlebih lagi Doni berpesan kepada para pemimpin pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan dan hadir di tengah masyarakar apabila mereka tertimpa bencana.

Pada Kesempatan yang sama, Doni mengungpkan, perkembangan bencana yang terjadi di nusantara hingga pertengahan November ini. Data yang dihimpun BNPB sampai 18 November 2019, tercatat 568 jiwa meninggal dunia, 107 jiwa di antaranya dilaporkan hilang. Sedangkan bencana dominan, bencana hidrometeorologi masih menjadi momok dengan banjir sebanyak 357 kali, diikuti tanah longsor 118 dan gempa 70.

Di akhir rapat koordinasi (rakor) BNPB dan BPBD se-Sulbar, Doni berpesan untuk upaya kesiapsiagaan menghadapi bahaya banjir saat memasuki musim hujan. "Perlu satu kali melakukan kegiatan bersama menghadapi potensi ancaman banjir dan longsor," pesan Doni.

Sebelu mengakhiri rakor, Kepala BNPB Doni Monardo mengajak para pejabat daerah untuk tidak lupa dengan alam, dengan melontatkan jargon 'Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita,'

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

LIPI Dorong Pembentukan Desa E-Commerce

Peristiwa   13 Des 2019 - 15:23 WIB
Bagikan: