BNPB Tegaskan Semua Warga Mengungsi Pascagempa Bermagnitudo 7,1 di Maluku Utara Telah Kembali ke Rumah

TrubusNews
Astri Sofyanti
20 Nov 2019   07:55 WIB

Komentar
BNPB Tegaskan Semua Warga Mengungsi Pascagempa Bermagnitudo 7,1 di Maluku Utara Telah Kembali ke Rumah

Warga yang mengungsi pascagempa berkekuatan 7,1 di Maluku Utara telah kembali ke rumah (Foto : BNPB)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sampai, Selasa (19/11) sudah tidak ada lagi warga yang mengungsi pascagempa bermagnitudo 7,1 yang mengguncang Maluku Utara dan sekitarnya.

"Warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing," jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Rabu (20/11).

Sebelumnya 21 KK mengungsi di halaman SMAN 11 yang berlokasi di dataran tinggi. Sejumlah warga tadi mengungsi hanya pada malam hari. Mereka khawatir dengan gempa susulan dan potensi bahaya tsunami. Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, untuk kerusakan tempat hunian tercatat 39 rumah mengalami rusak ringan dengan rincian per wilayah yang meliputi, Kelurahan Mayau 20 unit, Lelewi 9, Bido 8, Perum Bersatu 2.

Kerusakan juga menyasar pada fasilitas perbankan dan fasilitas sosial seperti gereja, sekolah dan puskesmas. Data BPBD per 19 November 2019 mencatat kerusakan per wilayah sebagai berikut Kelurahan Mayau berupa sekolah 2 unit, gereja 1, puskesmas 1 dan bank 1, serta Kelurahan Lelewi dan Bido masing-masing gereja 1 unit.

Sementara itu, gempa juga berdampak pada wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara dan Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Masing-masing wilayah kabupaten tersebut terdapat 1 unit kantor dan 2 rumah dengan kategori rusak ringan

"Dua orang yang terluka dari Kelurahan Mayau telah mendapatkan perawatan. Mereka mengalami luka ringan. Tidak ada korban meninggal pascagempa yang berlokasi 137 kilometer barat laut Jailolo, Maluku Utara dengan kedalaman 173 kilometer tersebut," lanjut Agus.

Pemerintah daerah khususnya Kota Ternate telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 7 hari, terhitung dari 15 November hingga 21 November 2019. Pos komando Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi juga telah diaktifkan dan beroperasi di Kantor BPBD Kota Ternate. Sedangkan terkait upaya taktis operasional, pos lapangan didirikan di Kantor Camat Batang Dua yang ada di Pulau Mayau.

"Merespon penanganan darurat di lapangan, BNPB memberikan dukungan dana siap pakai (DSP) sebesar Rp 250 juta. Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB juga memberikan bantuan logistik kebutuhan dasar kepada BPBD Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara. Bantuan tersebut berupa food item dan non-food item," papar Agus.

Selama berada di lokasi terdampak, TRC mencatat beberapa kendala dalam upaya penanganan, seperti transportasi laut yang terbatas dan cuaca yang tidak menentu, jaringan komunikasi dan juga anggaran pemerintah daerah setempat jelang akhir tahun.

Belajar dari kejadian gempa yang terjadi pada 14 November 2019, pukul 23.17 WIB itu, penyiapan sistem peringatan dini serta rambu dan jalur evakuasi, khususnya di Kecamatan Batang Dua (Pulau Mayau) menjadi salah satu rekomendasi TRC BNPB. Di samping itu, upaya edukasi kepada warga setempat untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi potensi bahaya gempa dan tsunami.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

LIPI Dorong Pembentukan Desa E-Commerce

Peristiwa   13 Des 2019 - 15:23 WIB
Bagikan: