Resistensi Antibiotik Ancaman Bencana Kemanusiaan di Masa Depan

TrubusNews
Thomas Aquinus
14 Nov 2019   16:00 WIB

Komentar
Resistensi Antibiotik Ancaman Bencana Kemanusiaan di Masa Depan

Drh. Wayan Wiryawan (kiri) dan Purnamawati Sujud (tengah) saat seminar di GO WORK, FX Sudirman. (Foto : Trubus.id/TH A Krisnaldi G)

Trubus.id -- Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) telah dinyatakan sebagai salah satu permasalahan kesehatan paling mengancam populasi dunia. Tanpa upaya pengendalian global, di tahun 2050 diperkirakan AMR menjadi pembunuh no.1 dunia, dengan angka kematian mencapai 10 juta jiwa. 

Tingkat kematian tertinggi diperkirakan terjadi di kawasan Asia (4,7 juta). Saat ini, tiap tahunnya kurang lebih 25 ribu nyawa melayang di Eropa, 23 ribu di Amerika Serikat, 38 ribu di Thailand, dan 58 ribu bayi di India. Semua itu akibat terinfeksi bakteri yang sudah kebal tehadap antibiotik. 
Pendiri dan dewan penasihat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), Purnamawati Sujud menekankan bahwa antibiotik merupakan sumber daya yang tidak terbarukan, dan saat ini persediaannya sudah menipis.

Sudah makin banyak bakteri yang menjadi kebal dan tidak lagi mempan dengan antibiotik yang tersedia. Menurutnya jika akses terhadap antibiotik sudah tidak ada lagi, beban penyakit akan semakin berat untuk ditanggung, dan layanan kesehatan pun akan menjadi sangat mahal dengan hasil yang tidak efektif. 

Baca Lainnya : Bukan Makanan, Toilet Kotorlah Penyebar Bakteri E. coli yang Kebal Antibiotik

“Kita semua perlu bertindak mengendalikan penggunaan antibiotik di semua ektor agar tidak kehilangan akses terhadap antibiotik dan tidak kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan, ketika infeksi bakteri dan penyakit ringan tidak lagi bisa ditangani dan dapat berujung pada kematian”, ujar Purnamawati dalam siaran persnya, Kamis (14/11). 

Bahaya resistensi antrimikroba juga erat kaitannya dengan perilaku pencegahan dan pengobatan, dan sistem keamanan produksi pangan dan lingkungan. Oleh sebab itu diperlukan pendekatan “One Health” yang meilibatkan sektor kesehatan, pertanian (termasuk peternakan dan kesehatan hewan) serta lingkungan untuk mengendalikan AMR secara holistik. 

Baca Lainnya : Study Ungkap, Teh hijau Bisa Menjadi Kunci untuk Kurangi Resistensi Antibiotik

Sementara itu, Drh. Wayan Wiryawan, pengurus dan anggota Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHI) menekankan bahwa untuk menyikapi permasalahan AMR dan tuntutan global bagi tersedianya pangan asal hewani yang sehat dan aman, Indonesia harus menjadi produsen serta pengekspor produk pangan asal hewani yang aman sehat, utuh dan halal. 

Untuk itu, dirinya menyatakan peternak harus menerapkan praktik-praktik peternakan yang baik (good farming practices), yang berfokus pada animal welfare

Baca Lainnya : Cara Membuat Antibiotik Alami dengan Bahan yang Mudah Ditemukan di Rumah

“Salah satunya adalah dengan mengimplementasikan biosekuriti 3 zona serta dalam menjaga kesehatan hewan ternak tidak selalu tergantung menggunakan antibiotik. Antibiotik diperlukan hanya untuk pengobatan bila hewan ternak mengalamai sakit karena infeksi bacterial saja”, ujarnya. [NN]

 


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: