LIPI Perlu Secara Mendalam Terkait Fenomena Kematian Massal Ikan dan Gempa

TrubusNews
Hernawan Nugroho
09 Nov 2019   07:30 WIB

Komentar
LIPI  Perlu Secara Mendalam Terkait Fenomena Kematian Massal Ikan dan Gempa

Kematian ikan demersal sebelum terjadinya gempa perlu dikaji apakah ada hubungannya dan dapat dijadikan penanda alami pra bencana alam (Foto : MarineUS)

Trubus.id -- Pusat Penektian Laut Dalam (P2LD), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memandang perlu adanya riset dan kajian yang mendalam terkait fenomena kematian massal ikan dan peristiwa gempa bumi. 

"Saya kira memang perlu ada kajian, analisa maupun riset yang lebih mendalam terkan fenomena kematian massal ikan dan bencana gempa bumi," kata Peneliti P2LD LIPI Hanung Agus Mulyadi di Ambon, Jumat (8/11). 

Kepada AntaraNews ia mengatakan kajian dan riset mendalam mengenai kedua fenomena tersebut perlu dilakukan, karena bisa jadi peristiwa alam tersebut memillki keterkaitan satu sama lain, sehingga diperlukan penelitian ilmiah untuk membuktikannya.

Baca Lainnya : LIPI dan Bappenas Kerja Sama Riset Samudera untuk Pembangunan Sektor Kelautan yang Kuat  

Hanung merujuk pada fenomena kematian massal ikan demersal yang terjadi di beberapa wilayah di Pulau Ambon pada 12 -16 September 2019, beberapa hari berselang sesudah peristiwa tersebut terjadi guncangan gempa bumi magnitudo 6,5 dan 5,6 pada 26 September 2019. 

Hal yang sama juga tenadi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, setelah ada laporan ditemukannya biota laut dan ikan demersal mati di Desa Lelingluan, Kecamatan Tanimbar lhara, beberapa hari kemudian terjadi gempa bumi. 

"Di Ambon setelah ada laporan kematian massal ikan beberapa hari tenadi gempa, di Tanimbar juga begitu. Kemungkinan di daerah lain juga seperti itu, setelah ada laporan kematian massal ikan diikuti, satu minggu atau beberapa hari kemudian gempa," ucap Hanung. 

Dia mengakui ilmu pengetahuan modern saat ini belum bisa menyatakan bahwa kematian massal ikan merupakan salah satu penanda akan adanya gempa bumi maupun tsunarni. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan penelitian terkait hal itu. 

Dia mengatakan karena berkembangnya sains modern membuat metode untuk melakukan pengukuran lebih presisi dan komprehensif, sehingga bisa jadi mampu menjawab bagian yang terlewatkan dari penelitian sebelumnya. 

°Sampai saat ini sains modern mencatat belum terbukti secara ilmiah bahwa kematian massal ikan adalah salah satu penanda akan terjadi gempa, tapi ilmu pengetahuan terus berkembang, boleh jadi ke depan bisa menjawab, "missing link", hipotesa bisa terbukti, bisa juga salah atau direvisi," ujarnya. 

Peneltian P2LD LIPI terkait kematian massal ikan di Pulau Ambon sempat dipaparkan oleh Hanung di Penemuan Ilmiah Tahunan (1,11) Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (IS01) ke-XIV yang digelar di Ambon, pada Kamis (7/11). 

Dalam kesempatan itu, ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung menyarankan agar P2LD LIPI meningkatkan kajiann mengenai kematian ikan dan kaitannya dengan oleh kebocoran gas metana, radon dan lainnya yang keluar dari dalam bumi.

 Hanung menyatakan dirinya sepakat dengan usulan tersebut karena sifat gas yang cepat menguap, sehingga tidak mungkin bisa menangkap bukti keberadaan gas berdasarkan pemeriksaan sampel ikan mati. 

Baca Lainnya : 74 Tahun Indonesia Merdeka, Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Laut Sudah Maksimalkah? Simak Penjelasan Ahli

Hal itu harus menjadi fokus P2LD LIPI dan lembaga lainnya, seperti Universitas Pattimura (Unpatti) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Maluku, bagairnana menyediakan alat yang secara ilmiah bisa melacak kebocoran gas alam setelah fenomena kematian massal ikan. 

"Saya sepakat, sangat menarik dan juga masuk akal karena secara sains bisa juga atau boleh jadi kebocoran gas yang awalnya tidak terbukti bisa jadi yang menyebabkan biota-biota ikan yang secara fisiologis terpapar dan akhimya mati, itu satu rentetan gas-gas tadi menandakan akan adanya gempa," kata Hanung. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: