Sudah Tak Beroperasi Sejak 2007 Bekas Tambang Emas Ilegal Bermerkuri di Bukit Mindawa Harus Dipulihkan

TrubusNews
Astri Sofyanti
07 Nov 2019   14:10 WIB

Komentar
Sudah Tak Beroperasi Sejak 2007 Bekas Tambang Emas Ilegal Bermerkuri di Bukit Mindawa Harus Dipulihkan

Kepala BNPB Doni Monardo bersama Bupati Dharmasraya Sutan Riska meninjau lahan bekas tambang bermerkuri yang merusak lingkungan di Bukit Mindawa Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Kamis (6/11). (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo didampingi Bupati Dharmasraya Sutan Riska meninjau Bukit Mindawa Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Kamis (6/11). Kujungan Kepala BNPB bersama Bupati Dharmasraya untuk melihat secara langsung lokasi bekas tambang emas liar yang diduga menggunakan merkuri sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Pasalnya disekitar area tambang emas tersebut mengalir sungai dari Kabupaten Solok Selatan hingga melintasi Kabupaten Dhamasraya, sehingga dampaknya bisa meluas. Penambangan ilegal di Dharmasraya telah dihentikan sejak tahun 2007 lalu, mesi begitu dampaknya masih terasa sampai saat ini.

"Seperti yang kita saksikan, banyak tanaman dan pohon yang sudah dicoba untuk ditanam di lokasi ini. Namun, sudah 12 tahun tidak ada satupun yang berhasil tumbuh", demikian dikatakan Doni ketika meninjau lokasi bekas tambang bermerkuri di Bukit Mindawa Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Kamis (6/11).

Di lokasi Kepala BNPB meminta Pemda Kabupaten Dharmasraya bersama BNPB memulihkan kembali kawasan yang telah rusak.

"Kami menyarankan kepada pak bupati agar tanah kembali subur dengan memberikan pupuk kompos dari kotoran sapi. BNPB akan membantu dengan tanaman vetiver dan aneka bibit pohon yang sesuai dengan kondisi tanah di sini. Tanaman vetiver sudah terbukti dapat tumbuh subur di pinggiran sungai, seperti di sungai Citarum Jawa Barat dan mampu mereduksi merkuri," tegas Doni.

Diakui Doni, rumput vetiver merupakan sejenis rumput-rumputan berukuran besar dan memiliki banyak keistimewaan. Tanaman ini di Indonesia dikenal dengan nama akar wangi (Vetiveria zizanioides) dapat tumbuh diberbagai bentuk kondisi tanah; areal perbukitan, dataran rendah, daerah rawa dan bahkan pada areal bekas tambang.

"pemerintah daerah menyambut baik ajakan BNPB dan kami langsung aksi untuk menyebarkam pupuk kandang dan kompos. Kepada semua komponen di daerah untuk menjaga lingkungan dan tidak merusak lingkungan, karena akan berdampak bagi generasi berikutnya", ucap Sutan yang turut mendampingi Kepala BNPB.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Undang-Undang Nomor 11 tahun 2017 Tentang pengesahan Minamata Convention on Mercury (Konvensi Minamata Mengenai Merkuri). Undang-undang tersebut dijadikan sebagai dasar hukum pengelolaan merkuri dan senyawa merkuri di wilayah NKRI, dan mengurangi/mencegah gangguan kesehatan akibat pajanan/paparan merkuri serta mengurangi beban dan kerugian negara dari kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Pencemaran merkuri, akan berdampak pada tremor, gangguan motorik, kekebalan tubuh, gangguan syaraf, ginjal dan paru-paru, serta iritasi kulit, mata dan saluran pencernaan. Perempuan hamil terpapar merkuri akan melahirkan anak dengan IQ rendah.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: