987 Bencana Puting Beliung Terjadi Selama November 2019, Begini Tanda-tandanya

TrubusNews
Binsar Marulitua
07 Nov 2019   13:00 WIB

Komentar
987 Bencana Puting Beliung Terjadi Selama November  2019,  Begini Tanda-tandanya

Bencana Angin Puting Beliung di Kota Batu, Kabupaten Malang (Foto : BNPB)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 7 November 2019 terjadi  987 kali bencana puting beliung di seluruh Indonesia dari rekapitulasi total  3.155 kali bencana. Bencana puting beliung juga tercatat menjadi bencana terbanyak selama musim pancaroba. 

"Jumlah kejadian bencana 3.155 kali terdiri atas 987 kali puting beliung, 678 kali banjir, 673 karhutla, 646 kali tanah longsor, 121 kali kekeringan, 26 kali gempabumi, 17 kali gelombang pasang/abrasi dan 7 kali letusan gunung api," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo di Jakarta, Kamis 7 November 2019. 

BNPB juga mencatat, jumlah korban akibat total bencanatersebut sebanyak 459 orangg meninggal, 107 orang hilang, 3.280 orang luka-luka dan 5.940.077 orang menderita & terdampak.

Baca Lainnya : BMKG Minta Masyarakat Waspada Puting Beliung Saat Pancaroba, Begini Tanda-tandanya

Kerusakan rumah akibat bencana sebanyak 61.821 unit rumah terdiri dari 14.721 unit rusak berat, 11.772 unit rusak sedang, dan 35.328 rusak ringan. Kerusakan fasilitas akibat bencana sebanyak 1.881 unit terdiri dari 1.053 fasilitas pendidikan, 627 fasilitas peribadatan dan 201 fasilitas pendidikan. 

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai potensai bencana angin puting beliung pada musim pancaroba hingga awal Musim Hujan akhir 2019,  Periode Musim Hujan diprakirakan dimulai November 2019 – Maret 2020. 

"Pada periode peralihan musim saat ini yang perlu diwaspadai antara lain adanya potensi hujan lebat dalam waktu singkat dan angin kencang atau puting beliung," jelas Kepala BMKG, Dwikania Karnawati  di kantor BMKG, Jakarta, Kamis (31/10/2019). 

Dwikorita menjelaskan, puting beliung adalah fenomena angin kencang yang bentuknya berputar menyerupai belalai, keluar dari awan Cumulonimbus (CB), dan terjadi di daratan, jika terjadi diperairan dinamakan Water Spout). 

Baca Lainnya : Kota Batu Porak Poranda Diterjang Angin Kencang, 1 Orang Tewas dan 550 Warga Mengungsi

Namun tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena puting beliung, ada kondisi tertentu seperti ketika kondisi labilitas atmosfer yang melebihi ambang batas tertentu yang mengindikasikan udara sangat tidak stabil.

Ia juga meminta masyarakat untuk mengenali tanda tanda akan terjadinya puting beliung seperti: satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah, udara mulai pagi hari sudah terasa panas serta cukup terik dan gerah, Umumnya mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

Tahap berikutnya, menurut Dwikorita adalah, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus (CB), Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri, ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat karena hembusan angin, terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.

"Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan lebat tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita. Jika 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada masa pancaroba, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun akan diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak," tambahnya,

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: