Sawit Watch: Pentingnya Pendekatan Bentang Alam dalam Pencegahan dan Penanganan Karhutla

TrubusNews
Astri Sofyanti
06 Nov 2019   11:30 WIB

Komentar
Sawit Watch: Pentingnya Pendekatan Bentang Alam dalam Pencegahan dan Penanganan Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan (Foto : BNPB)

Trubus.id -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap terjadi setiap tahun di sejumlah wilayah terutama di Sumatera dan Kalimantan. Terlebih asap karhutla berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah penderita Infeksi Saluran pernafasan Akut (ISPA) di Sumatera dan Kalimantan sejak Februari - September 2019 mencapai 919.516 jiwa.

Berdasarkan data Sawit Watch, sedikitnya ada 17 kawasan hidrologis gambut (KHG) dengan setidaknya 19 perusahaan sawit anggota RSPO di Kalimantan dan Sumatera terbakar konsesinya sampai Oktober 2019. Bahkan Greenpeace Indonesia (2019) menunjukkan bahwa sembilan dari dua belas grup sawit memiliki area lahan terbesar di konsesi mereka antara 2015-2018 yang tidak menerima sanksi perdata dan administrasi yang serius.
 
Berdasarkan hasil temuan Sawit Watch, beberapa perusahaan tersebut berada di kawasan gambut dan terbakar konsesinya diantaranya adalah PT. BGR, PT. DIL, PT. AMR, PT. MBJ, PT. SMS, PT. TS, PT. MAR, PT. JV, PT. AM, PT. GBSM, PT. MJSK, PT. GAL, PT. DWK, PT. TJA, dan PT.SKS. Perusahaan tersebut merupakan anak perusahaan dari grup BAM, SA, GAR, WIL, PAS, TAP, KLK, GEN, EG, IOI, dan AUS yang telah terdaftar sebagai anggota RSPO.

Baca Lainnya : BNPB Resmi Luncurkan Buku Kibar Pataka di Selatan Jawa

“Hasil identifikasi kami, sebelum 2019 beberapa KHG rutin terbakar setiap tahunnya, salah satu contohnya PT. DIL yang berada dalam KHG Sungai Rumpit-Sungai Rawas. Konsesi perkebunan sawit anggota RSPO tersebut yang berada di lahan gambut, terindikasi mengalami kebakaran pada September dan Oktober 2019, dan hampir setiap tahun mengalami kebakaran sejak tahun 2015. Hal tersebut menunjukkan bahwa air di lahan gambut PT. DIL tidak dikelola dengan baik, sehingga lahan gambut yang berada di PT. DIL sudah menjadi kering,” demikian dikatakan Direktur Eksekutif Sawit Watch Inda Fatinaware dalam keterangan resmi yang diterima Trubus.id di Jakarta Rabu (6/11).

Lebih jauh Inda menjelaskan “Perlunya pendekatan bentang alam melengkapi dalam pencegahan dan kebakaran hutan dan lahan berupa kesatuan hidrologis gambut (KHG). Pendekatan yang digunakan selama ini belum memadai.”

Baca Lainnya : Beri Kuliah Umum di Riau, Kepala BNPB Ajak Mahasiswa Unri Berkontribusi Cegah Karhutla

“Pada dasarnya inti dari pendekatan bentang alam adalah integrasi dan adaptasi untuk menemukan solusi bersama. Maka dari itu kami berharap kedepan perlu dibentuknya sebuah forum di dalam sebuah KHG. Melalui forum ini diharapkan dapat menjadi ruang kolaboratif para pihak dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan kawasan gambut dalam satu KHG secara bersama-sama,” lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, RSPO merupakan tempat bertemunya multi stakeholder dalam industri minyak sawit berkelanjutan. Untuk itu kami menilai, jika dalam satu KHG terdapat beberapa perusahaan anggota RSPO didalamnya, akan lebih baik jika RSPO mengkonsolidasikan perusahaan-perusahaan yang berada dalam satu KHG untuk saling berkoordinasi sehingga peran RSPO menjadi sangat penting, sehingga terbentuk Forum KHG untuk saling berbagi tentang tantangan dan masalah dalam pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: