Karhutla Jadi Penyebab Hilangnya Tumbuhan dan Satwa Endemik

TrubusNews
Astri Sofyanti
05 Nov 2019   17:00 WIB

Komentar
Karhutla Jadi Penyebab Hilangnya Tumbuhan dan Satwa Endemik

Kepala Bidang Botani dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Joeni Setijo Rahajoe (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan berdampak serius pada ekosistem dan keanekaragaman hayati. Kepala Bidang Botani dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Joeni Setijo Rahajoe menyebut bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat mengakibatkan 90 persen keanekaragaman hayati hilang.

“Karhutla mengakibatkan 90 persen keanekaragaman hayati seperti biji-bijian hingga bakal calon tanaman akan mati,” kata Joeni saat ditemui di sela-sela seminar Peringatan HCPSN 2019 dengan tema Pengelolaan Keanekaraman Hayati Indonesia Mendukung Revolusi Industri 4.0 dan SDGs di Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/11).

Dirinya juga mengakui bahwa kebakaran hutan dan lahan juga turut hilangnya spesies-spesies yang mungkin belum ditemukan baik spesies endemik ataupun spesies yang dilindungi. “Karhutla terjadi hampir setiap tahun sehigga spesies yang akan tumbuh dan berkembang, belum tumbuh sudah terbakar lagi, begitu seterusnya, kondisi ini mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati kita,” ucapya.

Mayoritas kebakaran hebat terjadi di daerah/lahan gambut. Gambut sendiri jika kondisinya dibiarkan kering justru inilah yang riskan terjadi kebakaran terutama pada musim kemarau dengan matahari yang sangat terik.

“Kebakaran yang terjadi di lahan gambut, meski kelihatannya sudah berhenti, tapi pada bagian bawahnya kemungkinan besar api masih berkobar, hal ini yang patut kita waspadai,” ujar Joeni.

Untuk itu, dirinya menegaskan bahwa kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun harus bisa dicegah seoptimal mungkin, terlebih di lahan gambut, pasalnya kebakaran yang terjadi di lahan gambut biasanya akan berlangsung lama, karena lahan gambut yang dilalap api susah untuk dipadamkan.

“Kalau ingin tumbuhan-tumbuhan itu bisa berkembang kebakaran tahunan harus dicegah. Kami (LIPI, red) sekarang mencoba dan mulai melihat trennya seberapa besar, kalau kebakarannya sangat besar 90 persen tumbuhan akan mati. Tapi kalau kebakaranya ringan walaupun kelihatan kering, tumbuhan akan bisa muncul kembali, tapi yang kami khawatirkan kan kalau sebagian besar sumber biji-bijinya habis terbakar kita susah juga untuk melakulam regenerasi, ini yang perlu diperhatikan,” pungkasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: