IDI Titipkan Sejumlah Cacatan Masalah Kesehatan ke Menteri Kesehatan Baru

TrubusNews
Astri Sofyanti
30 Okt 2019   17:18 WIB

Komentar
IDI Titipkan Sejumlah Cacatan Masalah Kesehatan ke Menteri Kesehatan Baru

Ketua Umum PB IDI Daeng M. Faqih (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengunjungi Kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Rabu (30/10). Pada kunjungannya kali ini, IDI memberikan sejumlah catatan masalah kesehatan untuk Menteri Kesehatan.

Ketua Umum PB IDI Daeng M. Faqih mengungkapkan bahwa selama 74 tahun Indonesia merdeka persoalan pembangunan kesehatan dirasa belum sepenuhnya terpenuhi. Sejumlah poin catatan yang ditujukan ke Menteri Kesehatan baru tersebut adalah, pertama, terkait sarana dan prasarana kesehatan di kawasan pelosok yang belum terpenuhi.

“Keberadaan kartu jaminan kesehatan (JKN) dirasa belum begitu efektif akibat sulitnya mengakses sarana kesehatan,” kata Daeng usai mengadakan rapat bersama Menteri Kesehatan di Kantor PB IDI, Menteng, Jakarta, Rabu (30/10).

Sulitnya mendapatkan akses kesehatan ini diharapkan bisa diperbaiki dengan distribusi dokter dan tenaga kesehatan secara merata. Pasalnya selama ini banyak dokter dan tenaga kesehatan dikirim ke daerah dengan fasilitas skesehatan yang kurang mumpuni.

“Sehingga perlu adanya perbaikan dalam sistem kesehatan. Sistem kesehatan yang baik, dokter dan tenaga kesehatan juga bisa bekerja dengan baik. begitupun sebaliknya, sistem yang tidak baik maka dokter baik pun tidak bisa menjadi baik dalam melakukan praktik kedokteran,” ujarnya.

Oleh karena itu, IDI berharap adanya upaya dan usaha konkret yang dilakukan pemerintah misalnya dengan melakukan usaha promotif dan preventif, salah satunya dengan anggaran yang cukup dan pengarusutamaan fungsi puskesmas. Diharapkan puskesmas jangan lagi mengurusi JKN/BPJS.

Berdasarkan catatan IDI, dari 9.850 puskesmas yang ada di Indonesia, hanya 100 di antaranya yang terakreditasi paripurna, atau setara dengan 1 persen dari keseluruhan puskesmas yang ada.

"IDI sangat prihatin dengan meningkatnya jumlah orang sakit yang tidak terkendali akibat minimnya akses. Hal ini dinilai bisa menurunkan target pencapaian SDGs,” ucapnya lagi.

Selain itu, IDI juga mendorong penggunaan teknologi canggih dalam bidang kedokteran. Dirinya mengatakan bahwa Indonesia harus mengejar ketertinggalannya dalam bidang teknologi kedokteran, karena dukungan tonologi canggih kedokteran telah berkembang pesat.

“Misalnya di Malaysia pajak obat sudah dihilangkan begitu pula dengan pajak alat kesehatan serta banyaknya regulasi yang menjadikan dokter-dokter di Malaysia bisa eksis dan bersaing dengan internasional,” beber Daeng.

Sehingga dikatakan Daeng, dokter Indonesia akan terus bersungguh-sungguh untuk mewujudkan Indonesia sehat.

“Saya harap beliau (Menkes Terawan) bisa melakukan itu,” tandasnya.

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: