Ekspansi Kebun Sawit di Papua Barat yang Mengancam "Anggota Keluarga" Suku Marind

TrubusNews
Hernawan Nugroho
30 Okt 2019   16:00 WIB

Komentar
Ekspansi Kebun Sawit di Papua Barat yang Mengancam "Anggota Keluarga" Suku Marind

Hutan bagi suku Marind adalah bagian dari keluarga, kebun sawit mengeliminasi "anggota keluarga" itu (Foto : kabarpapua)

Trubus.id -- Desa Khalaoyam, Papua Barat, adalah rumah bagi sekitar 200 kepala keluarga orang Marind yang bergantung terutama pada hutan untuk penghidupan mereka – misalnya, berburu, mengumpulkan, dan menangkap ikan. Namun, hutan tersebut mewakili lebih dari sekadar sumber makanan bagi penduduk asli Marind.

Dilansir dari laman KabarPapua, Desa ini merupakan satu dari beberapa pemukiman Marind yang terkena dampak ekspansi perkebunan kelapa sawit berskala besar di bawah Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) atau Kawasan Makanan dan Energi Terpadu Merauke, sebuah proyek pengembangan pemerintah yang akan mengkonversi setidaknya satu juta hektar hutan menjadi lahan yang komersial.

Bagi orang Marind, hutan adalah “sentient ecology” (ekologi yang memiliki kehidupan) yang keberadaannya mencakup tanaman dan hewan sebagai mahkluk yang hidup.

Hal ini tercermin ketika banyak penduduk desa Marind menggambarkan hutan sebagai “keluarga” mereka. Pemilihan nama klan Marind merepresentasikan hubungan yang dalam antara tanaman dan hewan hutan dengan komunitas manusia yang berasal dari keturunan roh leluhur yang sama, atau dema (dalam bahasa Marind).

Baca Lainnya : Jokowi Apresiasi Pencanangan Papua Muda Inspiratif

Sebagai contoh, klan Mahuze berarti “anak-anak anjing (mahu berarti anjing dan ze adalah "anak dari” dalam Bahasa Marind) dan klan Balaigaze berarti “anak-anak buaya.” Lebih lanjut, Marind menganggap segala tumbuhan dan hewan yang hidup di hutan sebagai makhluk yang hidup yang dianugerahi dengan kemauan dan tindakan sendiri.

Setiap klan Marind, atau bawan (dalam bahasa Marind), memiliki hubungan dengan spesies lain yang mereka sapa sebagai kakek-nenek (amai) lain atau saudara kandung (namek), yang berbagi tubuh secara jasmani (dubadub) dan kulit (igid). Marind menganggap semua mahkluk yang memiliki kulit dan tubuh memiliki kepribadian (personhood) yang diwujudkan dalam bentuk keringat, tangis, getah, lumpur, air, minyak dan lainnya. Manusia dan amai (organisme di hutan) mempertahankan keberadaan bersama mereka dengan menjaga satu sama lain melalui perilaku sehari-hari. 

Sebagai contoh, amai bertumbuh untuk menyediakan makanan dan sumber daya lainnya bagi manusia. Sebagai imbalan, orang Marind menghormati dan melakukan ritual ketika mereka berinteraksi dengan amai (tumbuhan dan hewan) di dalam hutan, mereka mengingat cerita-cerita, berburu, meramu, dan mengonsumsi sumber daya tersebut. Pertukaran tersebut serta ritual perawatan dan penghormatan memungkinkan manusia dan bukan-manusia dapat hidup secara harmonis di hutan. 

Sekitar tahun 2008, deforestasi skala besar dan ekspansi kelapa sawit dilakukan oleh pemerintah Indonesia atas nama pembangunan ekonomi nasional dan kedaulatan pangan, merusak hubungan antara orang Marind dengan kerabat mereka, yang bukan-manusia. Perancangan dan penerapan proyek besar tersebut tanpa adanya persetujuan terlebih dahulu (free, prior, and informed consent) dari orang Marind. Banyak komunitas yang melaporkan mengalami paksaan untuk menyerahkan tanah mereka dengan kompensasi ganti rugi yang tidak setimpal. 

Suku Marind (foto: kabarpapua)

Satu keluarga, sebagai contoh, melaporkan hanya mendapatkan bayaran Rp 350.000 per hektare tanah atau kurang dari 35 dolar Australia selama 25 tahun. Keluhan lainnya skema Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang tidak terpenuhi, peningkatan kerawanan pangan lokal, krisis polusi air, hilangnya keanekaragaman hayati endemik, dan deforestasi yang meluas, termasuk melalui pembakaran ilegal.

Orang Marind melihat diri mereka satu dengan alam, sehingga perusakan hutan lebih dari sekadar masalah “lingkungan” untuk orang Marind. Kehancuran ini merusak hubungan historis laki-laki, perempuan, dan anak-anak Marind dengan tanaman dan hewan di hutan, tempat hidup mereka bersama.

Baca Lainnya : Palapa Ring Timur Sentuh Masyarakat Pegunungan di Papua

Kerusakan hutan telah menghapus kejadian masa lalu, memori, dan cerita-cerita yang ada di tempat tersebut –- baik dari pepohohan, organisme, sungai, dan lembah. Orang Marind juga kehilangan asupan makanan yang bergizi yang disediakan oleh hutan akibat deforestasi. Pemusnahan hutan merupakan representasi kehilangan atas dunia multispesies yang dinamis di mana identitas orang Marind sebagai manusia dan sebagai masyarakat adat berakar.

Perubahan hutan menjadi lahan perkebunan jauh dari sekadar perubahan “ekologis” bagi masyarakat adat seperti orang Marind. Orang Marind percaya bahwa “alam” dan “budaya” tidak dapat dipisahkan dan berada pada dunia yang sama. Manusia dan lingkungan menjalin hubungan yang berarti bagi satu sama lain. 

Perubahan dari hutan yang dianggap sebagai keluarga menjadi perkebunan industrial mengubah keadaan sosial, moral, dan harga diri kolektif dari orang Marind yang bergantung dan hidup dari makhluk hidup yang ada di hutan, secara drastis. 

Rasa emosional, kosmologis, dan arti sosial dari hutan bagi orang Marind dan dampak kehancuran bagi mereka membuat kita harus memikirkan kembali perkembangan berskala besar yang diajukan oleh negara untuk memperbaiki keadaan sosioekonomis bagi komunitas yang ada di Papua Barat.

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: