Tumpahan Minyak Ancam Zona Pembiakan Lumba-lumba Langka di Bangladesh

TrubusNews
Syahroni
29 Okt 2019   18:30 WIB

Komentar
Tumpahan Minyak Ancam Zona Pembiakan Lumba-lumba Langka di Bangladesh

Tumpahan minyak sungai mengancam puluhan lumba-lumba air tawar langka yang menggunakan daerah itu sebagai tempat berkembang biak mereka (Foto : Doc/ AFP)

Trubus.id -- Tumpahan minyak di sungai di tenggara Bangladesh telah mengancam tempat berkembang biaknya lumba-lumba Gangga yang terancam punah, kata pakar lingkungan, Minggu (27/10). Mereka menggambarkannya sebagai 'bencana besar' bagi mamalia.

Sebelumnya, sebuah kapal tanker yang membawa 1.200 ton diesel bertabrakan dengan kapal lain di sungai Karnaphuli dekat pelabuhan Chittagong pada hari Jumat (25/10) lalu dan menumpahkan berton-ton  bahan bakar, kata juru bicara otoritas pelabuhan, Omar Faruk seperti dilansir dari AFP.

Akibat kejadian itu, setidaknya 10 ton diesel tersebar di area seluas 16 kilometer, tambahnya. Tetapi media setempat mengatakan jumlah yang tumpah kemungkinan jauh lebih tinggi.

Para pencinta lingkungan mengatakan tumpahan itu merupakan ancaman serius bagi keanekaragaman hayati laut di sungai, terutama bagi sekitar 60 lumba-lumba air tawar yang menggunakan daerah itu sebagai tempat berkembang biak mereka.

Ahli sains kelautan, Shafiqul Islam mengatakan kejadian itu adalah bencana besar bagi populasi lumba-lumba sungai karena mereka bisa menghirup uap minyak beracun saat berselancar untuk bernapas.

"Lumba-lumba dapat mengalami paparan akut dan kronis melalui sistem pernapasan mereka dan melalui menelan mangsa yang terkontaminasi," katanya kepada AFP.

Karnaphuli — tempat berkembang biak utama bagi lumba-lumba — mengalami kecelakaan serupa pada tahun 2016. Populasi lumba-lumba sudah terancam oleh jaring yang digunakan untuk menangkap ikan dan udang. Dalam empat tahun terakhir setidaknya 20 lumba-lumba mati secara tidak wajar - sebagian besar karena polusi - di Karnaphuli dan sungai Halda yang berdekatan.

Pejabat senior otoritas pelabuhan Faridul Alam mengatakan kepada AFP sebagian besar minyak telah dibersihkan. Ia mengatakan, lokasi itu jadi prioritas pembersihan karena termasuk zona penangkaran lumba-lumba. Bangladesh melarang pergerakan kapal di sungai-sungai besar di hutan bakau barat daya negara itu pada 2014 setelah tumpahan minyak terjadi di jantung suaka lumba-lumba Irrawaddy. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: