LIPI Beberkan Bahaya Ledakan Populasi Alga di Ekosistem Pesisir

TrubusNews
Astri Sofyanti
25 Okt 2019   09:00 WIB

Komentar
LIPI Beberkan Bahaya Ledakan Populasi Alga di Ekosistem Pesisir

Ilustrasi - tampak perairan menyala dan berwarna biru akibat terjadinya ledakan populasi alga (Foto : Associated Press)

Trubus.id -- Ledakan populasi alga, atau dikenal dengan istilah Harmful Alga Blooms (HABs), adalah fenomena alam meledaknya populasi alga di wilayah pesisir dengan karakteristik teluk. HABs berdampak buruk karena dapat menyebabkan kekurangan kadar oksigen dalam air yang mengakibakan kematian biota laut. Di Indonesia sendiri, fenomena ini sering terjadi di Teluk Ambon.

Salah satu tanda utama kemunculan HABs adalah perubahan warna air laut menjadi merah. Masyarakat Maluku menjuluki fenomena alam tersebut dengan istilah laut merah atau air berdarah.

“HABs sering dijumpai di perairan pesisir yang berbentuk teluk. Perancis, Jepang, Malaysia, China, Thailand, dan Vietnam melaporkan kejadian HABs di pesisir dengan karakteristik teluk,” demikian disampaikan Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Nugroho Dwi Hananto dalam keterangan tertulisnya pada kegiatan “Talkshow Fenomena HABs di Teluk Ambon” pada Kamis, 24 Oktober di ajang Indonesia Science Expo (ISE) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/10).

Baca Lainnya : Palm 5.0: Pemanfaatan Novel Algae Sebagai Solusi Limbah Industri Sawit

Nugroho menjelaskan, Teluk Ambon merupakan perairan semi tertutup (semi-enclosed bay), dimana antara teluk bagian dalam dan teluk luar dipisahkan oleh sebuah ambang (sill) yang sempit dan dangkal.

“Kondisi ini menyebabkan sirkulasi massa air di teluk bagian dalam terhambat yang membuat terhambatnya sirkulasi massa air dan adanya pengaruh antropogenik dari daratan,” paparnya.
 
Di Ambon, rekam jejak fenomena HABs sudah tercatat setidaknya dekade 90-an. “Pada bulan Juli tahun 1994 terjadi blooming alga jenis Pyrodinium bahamense var compressum dan dilaporkan tiga orang meninggal dan puluhan orang harus dirawat secara medis setelah mengkonsumsi biota laut, “ujar Nugroho. Kejadian kemudian berlanjut di tahun 2012 dengan jenis yang sama.  

Baca Lainnya : Teknologi Pengolahan Limbah Cair Sawit Jadi Alga
 
Sementara pada tahun ini tercatat ada dua kejadian HABs di Teluk Ambon yaitu pada bulan Januari dan akhir bulan Agustus sampai awal September.  “Terjadi blooming jenis Gonyaulax dengan luasan area yang mengalami perubahan warna mencapai 88 hektar,” terangnya lagi.
 
Pemahaman masyarakat akan bahaya HABs yang berdampak pada kematian ikan yang menjadi sumber pangan, masih rendah.

“Sedikit sekali masyarakat yang mengetahui berita kematian ikan akibat HABs. Untuk itu perlu adanya sosialisasi maupun menyebarluaskan informasi kepada masyarakat,” tandasnya. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: