Pembiayaan Penyakit Berat Masih Menjadi Beban BPJS Kesehatan

TrubusNews
Hernawan Nugroho
24 Okt 2019   11:30 WIB

Komentar
Pembiayaan Penyakit Berat Masih Menjadi Beban BPJS Kesehatan

Kinerja BPJS Kesehatan sedang menjadi sorotan (Foto : cnnindonesia)

Trubus.id -- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menjatukan pilihan pada dr. Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Nila F. Moeloek. Tugasnya nanti tak main-main, salah satunya adalah soal tata kelola BPJS Kesehatan terutama yang berkaitan dengan penyakit berat.

Sejak periode sebelumnya, tata kelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memang sudah menjadi perhatian serius. Pasalnya, dilansir dari Antaranews, hanya untuk penyakit katastropik saja, pembiayaannya sepanjang 2018 mencapai 20,4 triliun rupiah.

Baca Lainnya : Iuran Kenaikan BPJS Kesehatan Tak Beratkan Masyarakat

Penyakit katastropik adalah penyakit yang proses perawatannya memerlukan keahlian khusus dengan alat kesehatan canggih, dan memerlukan pelayanan kesehatan seumur hidup. Bisa juga diartikan sebagai penyakit yang butuh biaya tinggi dalam pengobatan dan memiliki komplikasi yang dapat mengancam jiwa.

Dilansir dari berbagai sumber, berdasarkan data periode Januari-Maret 2019, ada delapan penyakit berat yang diketahui cukup membebani pembiayaan BPJS Kesehatan, yakni:

  • Jantung (2,8 triliun rupiah)
  • Stroke (699 miliar rupiah)
  • Kanker (1 triliun rupiah)
  • Talasemia (148 miliar rupiah)
  • Gagal ginjal (672 miliar rupiah)
  • Sirosis (92 miliar rupiah)
  • Leukemia (109 miliar rupiah)
  • Hemofilia (109 miliar rupiah)

Jika diurutkan, empat besar penyakit berat yang cukup membebani adalah penyakit jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal. Bahkan pada 2018 lalu, hanya untuk penyakit jantung saja, BPJS Kesehatan menggelontorkan 10,4 triliun dari 12,5 juta kasus yang terjadi.

Mengapa penyakit katastropik menjadi beban yang berat?

Masalah ini sebenarnya bukan hal yang mengherankan. Bahkan, menurutnya ini juga merupakan masalah global yang sulit dipecahkan. Sebab, angka kejadian penyakit jantung di seluruh dunia memang sangat tinggi.

Sebenarnya, khusus untuk penyakit jantung, ini bukan suatu hal yang mengejutkan. Masalah ini bukan terjadi di Indonesia saja. Kalau ditanya kenapa penyakit jantung, kembali lagi pada pola hidup masyarakat. Aktivitas fisik yang kurang, pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, lalu kontrol kesehatan tahunan yang juga jarang dilakukan.

Pada akhirnya, masalah yang mendera jantung juga bisa berdampak pada yang lain juga. Jantung berhubungan juga dengan pembuluh darah. Kalau pembuluh darah rusak, maka tekanan darah menjadi tinggi dan ginjal menjadi rusak. Lalu, kalau ada masalah pembuluh darah di otak, ini bisa menjadi stroke.

Penyakit-penyakit katastropik menjadi beban BPJS Kesehatan karena biaya perawatannya memang sangat mahal. Di sisi lain, meski sudah mendapatkan perawatan, pasien belum tentu bisa disembuhkan.

Kita pasti tahu betapa mahalnya pemasangan ring untuk jantung. Lalu, kalau sudah gagal ginjal, biasanya perawatan yang dilakukan adalah hemodialisa (HD), yang juga sangat mahal.

Baca Lainnya : Meski Terjadi Defisit BPJS, Kemenkes: Layanan Kesehatan Tetap Harus Berjalan Baik

Jadi perlukah BPJS Kesehatan terus mendanai penyakit berat?

Jika sudah begini, pemerintah berada di ambang kebimbangan. Jika terus mendanai penyakit berat, defisit akan terus berlanjut. Akan tetapi, kesehatan masyarakat memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, ada satu poin penting yang mana harus melibatkan masyarakat secara luas, yaitu kesadaran bahwa penyakit tersebut bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Pemerintah harus lebih gencar lagi mempromosikan pencegahan berbagai masalah kesehatan. Misalnya saja, Germas (Gerakan Masyarakat Sehat) atau mengampanyekan bahwa hidup sehat itu menarik. Kalau pencegahannya serius, pemerintah tidak akan mengeluarkan biaya sebesar itu.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: