Garap 'Semesta', Nicholas Saputra Kampanyekan Perubahan Iklim Melalui Kearifan Lokal

TrubusNews
Binsar Marulitua
22 Okt 2019   19:19 WIB

Komentar
Garap 'Semesta', Nicholas Saputra Kampanyekan Perubahan Iklim Melalui Kearifan Lokal

Nicholas Saputra menyampaikan keterangan proses riset dalam pembuatan film Semesta di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (22/10/2019). (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Kearifan lokal dalam menjaga hutan dan lingkungan menjadi cara pada tingkat tapak untuk melawan berkurangnya tutupnya hutan yang menjadi penyebab terbesar perubahan iklim. Lewat Film Semesta, usaha kelompok dan perorangan dari 7 provinsi di Indonesia didokumentasikan untuk menjadi inspirasi dunia. 

"Hal itu diperlukan karena Indonesia sebagai salah satu lokasi tutupan hutan hujan tropis terluas di dunia, Indonesia menjadi tumpuan harapan komunitas internasional," jelas Direktur Jendral Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Ruandha Agung Sugadirman di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa (22/10/2019). 

Ruandha menjelaskan, lewat film ini, KLHK  berencana menayangkan pada konferensi perubahan iklim COP25 di Santiago Desember 2019 nanti. Film dengan genre dokumenter ini juga akan 'unjuk gigi' pada festival di Barcelona. 

"Masih banyak Taman Nasional yang belum dieksplorasi, didokumentasikan dengan baik itu yang menjadi tantangan kami ke depan," ucapnnya. 

Baca Lainnya : Capai 857 Hektare, Karhutla Melonjak Hampir 160 Persen pada September 2019 

Sementara itu, komisaris Talamedia, Nicholas Saputra  mengungkapkan, pesan dalam film ini menggali karakter manusia dalam penyelamatan dan menghormati lingkungan dan hutan berdasarkan agama, budaya dan kepercayaan. 7 Provinsi yang dipilih berdasarkan riset adalah  Aceh, Bali, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Papua dan Yogyakarta. 

"Di desa paling ujung di Aceh ada Desa Pabel di mana  kepala agama melakukan usaha agar satwa gajah bisa hidup berdampingan dengan masyarakat di sana. Hingga kini gajah bisa berlalu lalang bebas,"ujar Nicholas. 

Selanjutnya, Nicholas juga bercerita tentang bagaiamana perjuangan menjaga,memanfaatkan dan mempertahankan 9 ribu hektare lahan adat di Sungai Utik, Kalimantan tanpa merusak. Usaha ini berbuah manis mendapatkan Kalpataru dan penghargaan di New York, Amerika Serikat. 

Di Raja Ampat, Pulau Misol, Papua, masyarakat yang  mempraktikan Sasi turut menjadi sorotan, Sasi sendiri adalah sebuah hukum adat berupa larangan mengambil sesuatu di lokasi tertentu, baik di hutan dan laut  yang sudah disepakati luasan luasan dan waktunya.

Praktik tersebut bertujuan untuk menjaga kelestarian dan populasi sumberdaya hayati. 

Baca Lainnya : Sudah 52 Korporasi Pemegang izin Konsesi Disegel Terkait Karhutla, Luas Lahan Capai 8.931 Hektar

Usaha kreatif masyarakat Flores menginisiasi sebuah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air juga turut dipilih menjadi inspirasi dalam dokumenter ini.  Yang tak luput dari fokus kamera adalah keluarga yang mempraktikan cara bercocok tanam dengan darmaklutur di Yogyakarta. Teknik ini bercocok tanam menyerupai di hutan dengan organik adil terhadap hutan dan lahan, tidak ada satupun yang tersisa. 

Di Bali, Film Semesta juga mendokumentasikan proses dan menggali ide Upacara Nyepi yang memberikan kontribusi terhadap berkurangnya Gas Karbon Dioksida selama satu hari. 

"Sedangkan di  Jakarta kami mendokumentasikan bagaimana seorang pasangan membuka yang mencoba membangun pelatihan bercocok tanam secara urban," tambahnya. 

Pemeran Rangga dalam Film Ada Apa Dengan Cinta  (AADC)  ini juga  menjelaskan, film ini akan masuk Bioskop dan Paltform lainnya pada Januari 2020. Kami utamakan di Bioskop karena menginginkan banyak orang melihat dengan kualitas terbaiknya. 

"Setahun ke depan semoga saja bisa running, " tambahnya.

 


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bambang Ismawan Ungkap Tantangan Mendirikan Majalah Trubus

Peristiwa   06 Des 2019 - 15:13 WIB
Bagikan: