El Nino 2019 Usai, BMKG Ramal El Nino Kuat pada 2020 Nihil

TrubusNews
Binsar Marulitua
22 Okt 2019   08:47 WIB

Komentar
El Nino 2019 Usai, BMKG Ramal El Nino Kuat pada 2020 Nihil

Ilustrasi kekeringan (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi  pada tahun 2020 tidak terindikasi akan terjadi El- Nino kuat.  Hasil monitoring dan analisa dinamika atmosfer, BMKG juga menunjukan perbandingan yang sama dengan NOAA dan NASA (Amerika) serta JAMSTEC (Jepang) memprediksi hasil yang serupa. 

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan hal tersebut menandai tahun 2020 nanti diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia. 

Curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologisnya). Musim kemarau umumnya akan dimulai pada bulan April - Mei hingga Oktober 2020. 

Sedangkan wilayah di  dekat ekuator, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, musim kemarau pertama akan dimulai pada Februari - Maret 2020, sehingga tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering, yang dapat berdampak karhutla di awal tahun pada wilayah dekat ekuator tersebut.

Baca Lainnya : Capai 857 Hektare, Karhutla Melonjak Hampir 160 Persen pada September 2019 

"Untuk tahun 2019 saat ini, Dwikorita menambahkan, El - Nino lemah telah berakhir pada bulan Juli lalu, dan kondisi netral ini masih  berlanjut hingga di penghujung tahun 2019," jelas Dwikorita dalam keterangan tertulis, Selasa (22/10/2019). 

Fenomena yang saat ini sedang terjadi, lanjut Dwikorita, adalah rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yg berkisar antara 26 - 27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

“Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019/2020  mengalami kemuduran, dan sebagian besar wilayah Indonesia  akan mulai memasuki musim hujan pada bulan November, kecuali untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang dimulai sejak pertengahan Oktober 2019”, paparnya. 

Baca Lainnya : Kena Turbelensi, Helikopter MI-8 Gagal Padamkan Api di Gunung Arjuno-Welirang

Dwikorita mengimbau, perlu mengoptimalkan usaha menjaga cadangan air melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan. 

Teknologi Modifikasi Cuaca dapat diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla.


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: