Wujudkan Pangan Fungsional, LIPI Kembangkan Lima Komoditas Pertanian

TrubusNews
Astri Sofyanti
19 Okt 2019   17:00 WIB

Komentar
Wujudkan Pangan Fungsional, LIPI Kembangkan Lima Komoditas Pertanian

Kakao sebagai salah satu pangan fungsional yang dikembangkan LIPI (Foto : Pixabay/dghchocolatier)

Trubus.id -- Indonesia sebagai salah satu negara mega biodiversity di dunia dikaruniai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Melihat potensi yang besar itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengebangkan lima komoditas pertanian seperti teh, kakao, singkong, pisang dan manggis sebagai pangan fungsional untuk pencegahan stunting.

“Indonesia masih punya pekerjaan rumah terkait penanganan stunting dan perlu percepatan lewat penyediaan produk pangan fungsional. Lima komoditas tadi punya ketersediaan bahan baku melimpah serta potensi besar untuk dikembangkan,” demikian disampaikan Deputi Bidang Ilmu pengetahuan teknik LIPI, Agus Haryono di Denpasar, Bali beberapa waktu lalu.

“Keanekaragaman hayati ini berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber pangan fungsional bagi peningkatan kesehatan juga kesejahteraan masyarakat,” jelas Agus Mengutip laman resmi LIPI, Sabtu (19/10),

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, R. Arthur Ario Lelono menjelaskan, keberadaan pangan fungsional penting untuk melengkapi makanan pokok yang nilai nutrisinya mungkin masih belum memadai.

“Kita tidak bisa menggantikan makanan pokok seperti nasi sehingga perlu memberikan tambahan nutrisi lewat pangan fungsional,” ujar Arthur.

Kekayaan alam Indonesia lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi adalah teh.

“Teh sangat baik untuk diet, selain itu berfungsi sebagai antioksidan, penurun kolesterol, peningkat metabolisme tubuh, penjaga kesehatan tulang, dan pencegah diabetes,” terang Arthur.

Saat ini LIPI mengembangkan produk klon unggul teh seri Gambung. “Teh ini berpolifenol tinggi cocok digunakan sebagai bahan baku minuman fungsional untuk menurunkan risiko obesitas.”

Agar nikmat dikonsumsi, dilakukan proses fortifikasi dengan rasa lebih baik dan bisa dikonsumsi rutin layaknya teh pada umumnya.

“Daun salam ditambahkan sebagai salah satu pengawet alami serta kayumanis untuk meningkatkan keterterimaan rasa dari konsumen,” ujar Arthur.

LIPI juga melakukan formulasi dan identifikasi asam folat dari campuran nikstamal jagung, bayam dan brokoli terfermentasi, dan tempe kedelai dan kacang hijau,” ungkap Arthur.

Pihaknya mengungkapkan, formulasi tersebut diaplikasikan pada pembuatan pangan fungsional berupa biskuit, bubur dan sup bayi dengan variasi jenis dan konsentrasi fortifikan yang berbeda dalam formulasi produk makanan pendamping ASI.

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: