Benarkah Letusan Gunung Merapi Memantik Gempa Tektonik di Samudera Hindia?

TrubusNews
Binsar Marulitua
18 Okt 2019   07:00 WIB

Komentar
Benarkah Letusan Gunung Merapi Memantik Gempa Tektonik di Samudera Hindia?

Hasil analisis gempa tektonik (Foto : Daryono)

Trubus.id -- Letusan Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah pada Senin 14 Oktober 2019 pukul 16.31.00 WIB, turut menarik perhatian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hal tersebut disebabkan, dalam selang waktu singkat juga terjadi  gempa tektonik di Samudra Hindia berkekuatan magnitudo 2,8 pukul 16.31.56 WIB. 

Kepala Bidang Mitigasi dan Gempa Bumi BMKG, Daryono mengungkapkan, episenter gempa di samudera hindia tersebut berada di laut pada jarak 38 km arah barat daya Bantul. Sedangkan menurut sumber dari BPPTKG Yogyakarta menyebutkan adanya semburan awan panas dengan kolom setinggi maksimum kurang lebih 3.000 m dari puncak Merapi.

"Hingga saat ini beberapa warga dan netizen masih menanyakan apakah ada kaitan antara letusan Merapi dan gempa tektonik tersebut," ucap Daryono. 

Baca Lainnya : Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas, Kolom Teramati Hingga 3.000 Meter

Daryono menjelaskan, jika mencermati waktu kejadian antara peristiwa letusan dan gempa tektonik, tampak yang terjadi duluan adalah letusan Merapi. Jika gempa tektonik mempengaruhi letusan Merapi, semestinya gempa tektonik terlebih dahulu waktu terjadinya. 

"Teori yang berkembang saat ini adalah, gempa tektonik yang memicu aktivitas gunung api, bukan sebaliknya," jelasnya. 

Secara tektovulkanik, lanjut daryono, gempa tektonik memang dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme, syaratnya kondisi gunung api tersebut sedang aktif, magma cair dan kaya gas. Jika kondisi semacam ini maka dinamika tektonik di sekitar kantung magma rentan memicu aktivitas vulkanisme.

Gempa tektonik yang bersumber dekat gunung api dapat menciptakan stress-strain yang memicu terjadinya perubahan tekanan gas dalam kantung magma. Stress-strain akibat gempa tektonik di sekitar gunung api dapat menekan cebakan reservoir magma. 

Aktifnya gunung api dimulai ketika berlangsungnya induksi perambatan stress-strain dari aktivitas seismik akibat gempa tektonik.

Baca Lainnya : Topan Hagibis Tewaskan 9 Warga Jepang, BMKG Sebut Tak Berpengaruh Terhadap Indonesia

Fenomena ini dapat dianalogikan seperti sebuah botol minuman yang dikocok hingga menimbulkan gelembung-gelembung gas yang kemudian bergerak naik. Selajutnya menekan bagian atas dan melepaskan sumbatan tutup botol tersebut hingga terjadi letupan.  

"Jika kita mengamati aktivitas gempa tektonik beberapa waktu terakhir di Yogyakarta, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya peningkatan aktivitas seismik menjelang letusan Merapi haris Senin lalu," tutupnya. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: