Papua Memanas, BNPB Pantau 267 Hotspot Potensi Karhutla

TrubusNews
Binsar Marulitua
17 Okt 2019   12:30 WIB

Komentar
Papua Memanas,  BNPB Pantau 267 Hotspot Potensi Karhutla

Ilustrasi Kebakaran hutan dan lahan (Foto : KLHK)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan penurunan titik panas (hotspot) pada kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti Sumatera dan Kalimantan. Tetapi, titik panas justru menunjukan peningkatan di wilayah Papua, khususnya Merauke. 

Pantauan hotspot dari LAPAN yang dianalisis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada jam 07.00 WIB dengan tingkat kepercayaan 81% - 100% menunjukkan Riau 16 titik, Jambi 134 titik, Sumatera Selatan 89 titik, Kalimantan Barat 1 titik, Kalimantan tengah 21 titik, dan Kalimantan Selatan 8 titik.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengungkapkan, jumlah titik panas di Papua terpantau sebanyak 267 titik. Sebagian besar titik panas tersebut tersebar pada 17 distrik dengan jumlah total 263 titik. 

Ketujuhbelas distrik tersebut antara lain Animha, Elikobel, Ilwayab, Jagebob, Kaptel, Kimaan, Kurik, Malind, Merauke, Muting, Naukenjerai, Ngguti, Okaba, Sota, Tabonjo, Tanahmiring, Tubang, dan Waan.

"Titik panas tersebut berpotensi besar  menjadi titik api. Kemarin (16/10/2019) terdeteksi 23 titik api terdeteksi di 11 Distrik di Kabupaten Merauke, Papua," jelas Agus melalui pesan digital di Jakarta, Kamis (17/10/2019).

Baca Lainnya : Merauke Membara, Tradisi Masyarakat Dominasi Karhutla pada 23 Titik Api

Agus menjelaskan, BNPB telah menerima laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang terjadi  pada 11 Distrik di Kabupaten Merauke, Papua, Rabu (16/10) oleh Liaison Officer (LO) BNPB Satuan Danrem Merauke . 

Pihak-pihak berwenang telah melakukan langkah upaya pemadaman bersama masyarakat menggunakan alat manual.

Selain itu, sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan dan larangan membuka lahan dengan cara membakar hutan juga telah dilakukan bersama unsur TNI/POLRI bersama pemerintah daerah setempat. 

"Kendati demikian masyarakat tetap melakukan pembakaran karena kepercayaan mereka hingga saat ini," katanya.  

Agus merinci, wilayah yang terdeteksi di antaranya adalah; 3 titik di Distrik Animha berupa lahan ladang karet dan akasia dan vegetasi rawa.

Masyarakat diketahui sengaja membakar untuk membuka lahan akan tetapi upaya pembakaran tersebut dijaga oleh masyarakat supaya apinya tidak menjalar. 

"Selain untuk membuka lahan, tujuan dari pembakaran lahan itu juga dilakukan masyarakan untuk mencari ikan gastor," terangnya. 

Baca Lainnya : Solusi Cegah Karhutla, Pemerintah Dorong Peladang Kembangkan Lahan Tanpa Bakar

Kemudian, lanjut Agus, 2 titik api ditemukan di Distrik Ilwayab masing-masing di Kampung Bibikem dan Kampung Padua. Kebakaran lahan tersebut disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan rumput pascakebakaran sebagai makanan utama rusa dan kanguru sebagai hewan buruan masyarakat sekitar. 

"Pembakaran juga dilakukan sebagai tradisi meminta hujan," tambahnya. 

Agus menambahkan, 3 titik api terpantau berada di Distrik Kurik masing-masing tersebar di Kampung Harapan, Kampung Ivimahad dan Kampung Salor Indah. Titik api tersebut terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat dengan tujuan untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen.

Sama halnya dengan Distrik Kurik, titik api yang terdeteksi di 2 lokasi di Distrik Malind masing-masing Kampung Kumbe dan Kampung Rawasari juga terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat dengan tujuan untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen.

Kemudian, 2 titik api terdeteksi di Distrik Merauke dan 4 di Distrik Naukenjerai dari kebakaran ilalang dan jerami yang sengaja dibakar oleh orang tak dikenal dengan tujuan untuk membersihkan lahan pada musim kemarau dan mencari tikus.

"Selanjutnya 1 titik api terdeteksi di Kampung Okaba, Distrik Okaba berupa rawa kering yang sengaja dibakar untuk mencari ikan," lanjutnya.

Baca Lainnya : Karhutla, Sumsel dan Jambi Masih Diselimuti Asap Tebal dan Jarak Pandang Terbatas

PAntauan BNPB selanjutnya, titik api karhutla terdeteksi di jalan Trans Papua di Distrik Sota. Kebakaran berupa  ilalang dan semak di kanan-kiri jalan oleh oknum tak dikenal dengan tujuan  berburu dan tradisi adat.

Kemudian 2 titik api terdeteksi di Kampung Suwam Distrik Tabonji berupa lahan dan ilalang yang sengaja dibakar untuk merangsang pertumbuhan rumput sebagai makanan utama rusa dan kanguru, hewan buruan masyarakat.

Hal serupa juga terjadi di Distrik Tanah Miring dan Distrik Kimaam, di mana masyarakat masih memegang teguh tradisi berburu dengan cara tersebut selama bertahun-tahun.

Pantauan hotspot dari LAPAN yang dianalisis oleh BMKG pada jam 07.00 WIB dengan tingkat kepercayaan 81% - 100% menunjukkan Riau 16 titik, Jambi 134 titik, Sumatera Selatan 89 titik, Kalimantan Barat 1 titik, Kalimantan tengah 21 titik, dan Kalimantan Selatan 8 titik. 


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: